Rabu, Agustus 11, 2021

Dampak Kerusakan Lahan Gambut, #dirumahaja Jauh Sebelum Covid-19 Melanda

Petugas pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api di lahan gambut yang terbakar/ Claudia Liberani

Tahun 2015 saya sedang di Pontianak saat karhutla hebat terjadi. Kota itu dikepung asap yang mengganggu aktivitas harian warga, penerbangan ditutup, rumah sakit penuh karena penderita ISPA meningkat, dan  aktivitas belajar diliburkan selama dua minggu. Baru kali itu saya ketakutan bernapas. Di luar rumah jarak pandang sangat pendek, bahkan mata terasa perih, dan kondisi itu berlangsung lama sekali. Aku bertanya-tanya mengapa asap itu lama sekali tidak hilang.

Bencana asap itu menjadi pengalaman yang membuat saya cukup simpati pada korban bencana alam, apapun bentuknya. Sejak itu juga saya jadi lebih peduli dengan isu lingkungan. Karena jujur saja di tempat saya berasal, kondisi udara, air, tanah atau makanan tidak buruk dan sumber daya itu belum pernah menjadi rebutan sehingga bayang-bayang bencana sangat jauh dari pikiran saya.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti pertemuan daring Eco Blogger Squad yang menghadirkan Koordinator Nasional Pantau Gambut, ola Abas  dan Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Dr. Herliana Agustin. Keduanya memberikan informasi mengenai potensi keanekaragaman hayati di lahan gambut dan ancaman apa yang kita hadapi akibat rusaknya lahan gambut.

Lahan gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk selama ribuan tahun. Gambut memiliki karakteristik berbeda dari tanah mineral pada umumnya baik itu dari sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Idealnya karakteristik gambut adalah basah dan mengandung banyak karbon di bawahnya.

Tingkat kedalaman gambut menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Di wilayah pinggiran Pontianak, Kalimantan Barat masyarakat mengolah lahan gambut untuk ditanami lidah buaya. Jenis tanaman ini cocok dengan kondisi gambut di sana. Jadi kalau ingin mengolah lahan gambut harus diteliti dulu supaya kita bisa tahu jenis tanaman apa yang cocok untuk dikembangkan. Karena itulah pengolahan tanah gambut mahal dan tidak murah.

Lahan gambut memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai penyimpan air sehingga bisa mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau, sebagai perlindungan keanekaragaman hayati, cadangan karbon, dan penunjang perekonomian masyarakat lokal.

Luas lahan gambut Indonesia merupakan terbesar ke 4 di dunia dengan luas 15-20 juta Ha sehingga lahan gambut Indonesia penting bagi dunia karena menyimpan setidaknya 53-60 miliar ton karbon. Namun semakin tahun luasan lahan gambut Indonesia mengalami penurunan. Seperti yang disampaikan Ola, pada tahun 2019 luas lahan gambut Indonesia sebesar 13,43 juta ha turun 1,5 juta ha dibandingkan tahun 2011 yakni 14,93 juta ha. Pengurangan ini disebabkan alihfungsi lahan gambut dengan dalih ketahanan pangan dan perkebunan. Prosesnya dilakukan dengan mengeringkan lahan gambut.

Padahal gambut yang terlalu kering bisa kehilangan kemampuannya dalam menyerap air sehingga sangat sensitif. Api kecil bisa memicu kebakaran besar dan api tersebut susah dipadamkan. Meski api di permukaan sudah padam, bukan berarti api di lapisan dalam turut padam. Api ini bisa terus menjalar dari dalam hingga kebakaran meluas. 

Saat lahan gambut terbakar dampaknya tidak hanya dirasakan manusia. Bukan hanya kualitas hidup kita yang menurun, tapi juga ekosistem jadi rusak, dan keanekaragaman hayati terancam. Karena lahan gambut Indonesia menjadi rumah bagi 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan. Dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia, 13%-15% terdapat di sini. 

Tahun 2015 lalu, menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luasan hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2,61 juta hektar di mana 33 persen atau 869.754 hektar dari total cakupan karhutla terjadi di lahan gambut dengan total kerugian Rp 211 triliun. Kejadian ini memperburuk citra Indonesia di mata dunia.

kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah / Bjorn Vaughn Haze


Akibat lain yang akan dituai jika lahan gambut rusak adalah banjir. Bagi masyarakat di daerah aliran sungai dampak ini sangat terasa. Hujan sedikit langsung banjir, ini mengancam pertanian masyarakat sekitar. Selain itu kebakaran lahan gambut menjadi momok menakutkan bagi dunia karena dapat mempercepat laju perubahan iklim akibat tersebarnya asap, emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara. Karena itulah pengelolaan lahan gambut ini sangat dilematis. 

Indonesia pernah punya pengalaman buruk soal pengelolaan lahan gambut di era orde baru. Tahun 1995 pemerintah membuat proyek pengembangan lahan gambut satu juta hektar di Kalimantan Tengah menjadi lahan penanaman padi. Proyek tersebut gagal total, gambut yang dikeringkan berlebihan menjadi rusak sehingga padi tak bisa tumbuh. Pada musim kemarau gambut menjadi kering sehingga memicu kebakaran.

Kegagalan ini membayang-bayangi masyarakat sehingga proyek food estate di era Jokowi yang dilaksanakan di lahan gambut Kalimantan Tengah banyak menuai kritik. Ya masa kita mau mengulang kesalahan dan tidak belajar dari masa lalu, kan.

Pantau Gambut menawarkan solusi untuk masalah lahan gambut di Indonesia dengan melindungi yang tersisa dan memulihkan yang rusak dengan merestorasi lahan gambut. Restorasi ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan kesejahteraan masyarakat melalui tiga pendekatan yaitu pembasahan, penanaman ulang, dan merevitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

Agar hal ini tercapai kita perlu mendorong pemerintah Indonesia agar serius dalam komitmen untuk perlindungan dan pengelolaan lahan gambut yang lestari. Komitmen ini tertuang lewat Peraturan Pemerintah (PP) No.57 tahun 2016 jo PP Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Serta instruksi Presiden (inpres) No.5 tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Semoga saja regulasi yang telah dibuat tidak hanya jadi instrumen hukum semata jadi kebakaran lahan gambut tidak terulang setiap tahun. Soalnya jauh sebelum isolasi mandiri karena covid-19 orang-orang Kalimantan sebenarnya sudah sering #dirumahaja karena terkepung asap. 


Referensi:

Materi online blogger gathering Eco Blogger Squad “Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia” 

https://tirto.id/menolak-lupa-karhutla-hebat-2015-f6AE

https://theconversation.com/pengelolaan-gambut-berkelanjutan-dan-masalah-akut-kesenjangan-ilmiah-89887


Kamis, Juni 10, 2021

Mencari Benang Merah Deforestasi dan Zoonotic Disease



Di Indonesia, kebakaran  hutan dan lahan (karhutla) sudah jadi bencana tahunan yang tidak hanya merugikan masyarakat Indonesia sendiri, tapi juga membuat panas hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Deforestasi juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan, bukan hanya soal pernapasan tapi juga wabah yang disebabkan oleh hewan (zoonotic disease). Semakin tinggi deforestasi, semakin besar kemungkinan kita tertular zoonotic disease.

Deforestasi dan zoonotic disease ini jadi dua topik panas yang kami bahas di Eco blogger squad gathering untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 7 April. Topik Karhutla dibawakan oleh Dedy Sukmara, Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara. Sedangkan materi zoonotic disease disampaikan oleh Dokter Alvi Muldani, Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI).

Auriga Nusantara merupakan sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam upaya pengelolaan SDA dan lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Sementara Klinik Alam Lestari adalah klinik yang sejak 2007 hadir di tengah masyarakat kabupaten Ketapang agar masyarakat sekitar hutan tak perlu memilih antara kesehatan atau melestarikan alam. Ini adalah satu-satunya klinik di Indonesia atau mungkin dunia yang menerima pembayaran berupa bibit tanaman. 

Dedy Sukmara memaparkan fakta  aktual terkait Karhutla yang menjadikan Indonesia sebagai penyumbang kenaikan emisi karbon secara signifikan. Bayangkan, tahun 2019 lalu karhutla melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca. Jumlah ini hampir dua kali lipat lebih besar dibanding kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CAMS, 2019).

Aku pernah punya pengalaman buruk terkait bencana karhutla tahun 2015. Saat itu aku di Pontianak, kampus diliburkan hingga dua minggu, penerbangan sempat ditutup, rumah sakit kebanjiran, bukan oleh air tapi penderita ISPA. Saat pagi tiba kota Pontianak seperti ditelan asap, bahkan siang hari matahari tak terlihat. Yang aku ingat adalah rasa mencekam dan takut luar biasa, bahkan untuk bernapas rasanya was-was. 

Tahun-tahun berikutnya bencana asap tetap ada tapi memoriku lekat merekam pengalaman tahun 2015. Tahun 2018 aku dan teman-temanku juga ingat pernah menggelar lapak buku di depan tugu Bambu Runcing saat kabut tebal dan abu bertebaran di udara, terjatuh di atas buku-buku kami. Dari masa aku kuliah hingga bekerja, kabut asap di Pontianak sudah jadi musim tahunan. Kadang aku bertanya, jika sudah menikah dan punya anak apakah anakku masih mengalami hal yang sama nantinya.

Karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas harian seperti yang aku sebut di atas, tapi juga berdampak pada biodiversitas, pemanasan global, dan perubahan iklim. Auriga mencatat kerugian Indonesia akibat karhutla sepanjang 2019 mencapai US$ 5,2 miliar atau setara Rp72,95 Triliun.

Karena setiap tahun terjadi karhutla, harusnya antisipasi dan mitigasi sudah bukan hal baru bagi pemerintah. Tapi kenyataannya ada juga yang salah sasaran, misalnya menyalahkan peladang tradisional sebagai dalang asap. Padahal menurut Dedy Sukmara, hasil pengamatan menunjukkan lahan yang terbakar akan ditanami dengan tanaman industri ekstraktif beberapa tahun kemudian. Ibarat kata ini adalah upaya pembersihan lahan.

Pada tahun 2001-2019, dapur asap bersumber dari lahan gambut di Kalteng, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua. Lima tahun terakhir lonjakan laju deforestasi terjadi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua. Kalau diperhatikan deforestasi Indonesia menyasar provinsi kaya hutan. Mungkin karena luas hutan di dapur lama sudah semakin berkurang, kini ekspansi beralih ke daerah-daerah hijau yang masih tersisa. 

Jika antisipasi dan mitigasi masih terus salah sasaran, siap-siap mengulang hal sama setiap tahunnya. Lantas kita bisa apa? Auriga memberi setidaknya enam rekomendasi  untuk memutus rantai karhutla, yaitu:

Memperluas moratorium hutan dan gambut

Meningkatkan penegakan hukum

Restorasi hutan dan gambut terdegradasi

Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

Mendukung infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini

Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar.

Apa enam hal ini terasa berat? Jika ingin yang sederhana dan mudah dilakukan, kamu bisa melakukan disiplin untuk dirimu sendiri. Misalnya berkomitmen untuk hanya mengonsumsi green product, mendukung perusahaan yang berkeadilan dalam proses produksinya. Adil tak hanya pada alam tapi juga manusia, ingat kan prinsip produk hijau yang pernah kita bahas sebelumnya.

Karena apa yang kita konsumsi ternyata tak hanya berhubungan dengan tubuh kita, tapi juga terkait dengan lingkungan sosial dan keseimbangan alam. Bahkan antara deforestasi dan pandemi punya benang merah, lho. Jadi selalu ada kaitan antara manusia dan alam, seperti yang disampaikan dr Alvi di sesi sharing berikutnya.

Dalam penjelasannya, dia menyampaikan bagaimana penyakit zoonosis muncul karena deforestasi. Saat deforestasi terjadi, beberapa spesies menurun namun ada juga yang beradaptasi. Spesies yang beradaptasi inilah yang meningkatkan risiko zoonosis. Dengan bukti yang ada, manusia perlu menyeimbangkan produksi makanan, dan menjaga hutan. Karena dengan terjaganya hutan berarti habitat hewan liar ini tak terganggu. Mereka bisa tetap berada di dalamnya sehingga tidak menyebarkan pantogennya. 

Pantogen adalah bakteri yang tidak berakibat negatif bagi hewan, tapi dapat menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia. Contohnya virus nipah, yellow fever, malaria, dan ebola. Empat wabah ini muncul karena habitat yang terfragmentasi.

Virus nipah misalnya yang mincul awal 1998, virus ini berasal dari air lir kalelawar buah yang hidup di kawasan Asia Tenggara. Di Malaysia, wabah ini muncul akibat kabut tebal dari deforestasi yang disebabkan ladang berpindah. Kabut ini mengganggu habitat kalelawar buah. 

Sementara di Bangladesh, wabah timbul dari konsumsi buah yang terkontaminasi liur dan kencing kelelawar. Ada juga wabah yellow fever yang disebabkan virus di tubuh primata lalu ditransmisikan oleh nyamuk. Tahun 2016 dan 2018 wabah ini menyerang Amerika Selatan. Dari 2000 kasus, ratusan meninggal. Berdasarkan penelitian ini diakibatkan habitat yang menyempit. 

Saat habitat terganggu, hewan-hewan liar akan mencari makanan ke permukiman warga. Jika kontak dengan hewan liar semakin sering terjadi, resiko penularan penyakit dari hewan ke manusia juga semakin besar.

Kontak yang dimaksud bukan berarti kita menyentuh langsung hewan-hewan ini, tapi bisa saja lewat gigitan nyamuk bahkan makanan yang kita konsumsi. Makanya ada treatment khusus untuk makanan yang bersumber dari hewan liar. Ketika akan mengonsumsinya pastikan dagingnya dibersihkan sebaik mungkin dan saat dimasak harus benar-benar matang. 

Jadi ketika bicara tentang upaya menjaga hutan kita itu sebenarnya sedang membicarakan upaya untuk menjaga diri sendiri. Salah satu yang memungkinkan untuk dilakukan adalah mengubah pola konsumsi. Mungkin inilah sebenar-benarnya revolusi, dimulai dari makanan yang kita konsumsi. Berhenti mengonsumsi minyak goreng dari perusahaan sawit penyebab karhutla misalnya. Kamu bisa cari tahu perusahaan mana saja yang tidak fair.

Antara karhutla dan deforestasi adalah lingkaran yang tak pernah berkesudahan. Kita jangan sampai mati terpanggang di atas lahan sendiri demi memenuhi target industri ekstraktif oleh dunia, seperti tikus yang mati karena libidonya sendiri. 


Jumat, Mei 21, 2021

PORTOFOLIO: Mencatat Peristiwa Hingga Mengarsipkan Masa Lalu

 Perjalanan Menulis Sejak Tahun 2017 - 2021


2017 

Saya melakukan aktivitas menulis secara profesional sejak tahun 2017 ketika bergabung menjadi jurnalis di harian Tribun Pontianak. Isu yang saya tulis berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan, serta lingkungan. Berikut ini adalah beberapa berita yang saya tulis.

1. Berita tentang pendidikan

2. Berita tentang Sejarah di Kota Pontianak

3. Berita tentang Kebudayaan di Kota Pontianak

4. Berita Berkaitan dengan Isu Lingkungan

5. Human Interest

2018

Cover buku dongeng Tampurung Amas, ilustrasi oleh Florian Aldi


Tahun 2018 saya berkolaborasi dengan Florian Aldi menerbitkan buku cerita berjudul Tampurung Amas yang disadur dari dongeng rakyat Tamambaloh. Saya sebagai penulis dan Florian sebagai ilustrator. Buku ini dicetak dua kali, untuk yang pertama saya cetak secara mandiri dan cetakan kali kedua menggunakan penerbit lokal pada akhir 2019. Di bawah ini adalah ulasan yang ditulis seorang kritikus sastra dari Kalbar.

resensi buku Tampurung Amas

2019

Cover untuk majalah PandaZine, ilustrasi oleh Florian Aldi


Tahun 2019 saya menjadi relawan sebuah yayasan lingkungan, di sini saya banyak menulis produk komunikasi berupa leaflet dan popular report yang dijadikan buku maupun majalah.

2020

Tahun 2020 saya menulis dua cerita pendek yang diterbitkan secara daring di media lokal. Kedua cerpen ini berkaitan dengan upaya orang-orang bertahan di masa pandemi, berikut tautannya:

1. Cerpen "Mencari Tepung"

2. Cerpen "PAP"

Selain itu saya juga berkolaborasi dengan difalitera.org, sebuah situs penyedia sastra bagi difabel netra. Saya menulis cerita rakyat dari Tamambaloh yang berjudul Dayang Gamilu, kisah tersebut bisa dibaca di tautan berikut (tersedia dalam bahasa Tamambaloh dan bahasa Indonesia).

Kisah Dayang Gamilu, Puteri di Dalam Guci

2021

Cover Buku Desa Hijau di Jantung Kalimantan, foto oleh Andi Fachrizal

Saya bersama Restiana Purwaningrum, seorang penulis perempuan dari Sintang menulis buku catatan proses pendampingan masyarakat di kawasan Heart of Borneo. Judul buku ini adalah "Desa Hijau di Jantung Kalimantan".

Saya juga merasa bahwa perlu dilakukan upaya pengarsipan pengetahuan nenek moyang mengenai identitas kami sebagai Orang Tamambaloh agar kami tidak tercerabut dari akar yang membentuk kami. Hal ini saya tuangkan di ruang kolektif Sao Mamasa, saya dan beberapa teman mulai melakukan pengarsipan cerita rakyat yang ada di daerah kami. Satu di antaranya sudah kami rilis dalam bentuk audio visual dan dirilis di Instagram, berikut tautannya Kisah Asal Mula Padi. 

Senin, April 19, 2021

Menjaga Hutan; Menjaga Sesama dengan Cara Paling Heroik



Beberapa tahun yang lalu aku pernah terlibat obrolan dengan seorang perempuan Eropa. Dia sedang dalam perjalanan menuju Sungai Utik, sebuah dusun di Embaloh Hulu yang mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.

Ada satu kalimat darinya yang tersisa setelah obrolan singkat itu. "Aku merasa tidak terhubung dengan alam, itu membuatku semakin hari semakin tidak bahagia," itu yang dia ungkapkan saat aku penasaran mengapa dia mau jauh-jauh datang melintasi benua.

Meski ukuran kebahagiaan orang berbeda-beda, tapi sebagai orang yang tinggal di kawasan yang masih hijau aku merasakan kehidupan jauh lebih mudah dan itu membuat bahagia. Pangan tak perlu beli karena bisa menanamnya sendiri, atau kalau rajin meramu kita bisa mendapatkan beragam pangan hutan.

Kami masih merasakan air sungai jernih dan udara segar, walaupun sekarang air di tempatku sering keruh ketika hujan. Nenek dan kakekku sering cerita dulu air sungai kami sangat jernih, sampai-sampai bisa diminum tanpa perlu dimasak. Meski saat ini kondisi lingkungan mengalami penurunan kualitas akibat ilegal logging awal tahun 2000-an silam, aku tetap bersyukur setidaknya sungai Tamambalo masih jernih di hari-hari cerah.

Di bulan-bulan tertentu kampungku melaksanakan panen ikan tapah - jenis ikan predator air tawar - yang dilakukan bersama-sama oleh seluruh warga. Hasilnya juga dibagi bersama. Kebutuhan protein masih terpenuhi oleh sungai dan hutan yang tetap dijaga. Manfaat ini bisa dirasakan oleh seluruh warga di kampung.



Yuyun Harmono manajer kampanye WALHI menyebut hal ini sebagai co-benefits dari upaya menjaga kelestarian hutan. Saat menjadi narasumber dalam kegiatan Eco Blogger Squad Earth Day Gathering untuk memperingati Hari Bumi. Selain WALHI, ada juga Gita Syahrani, kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari, dan Cristian Natalie, program manager di hutanitu.id. Ketiga lembaga ini bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network untuk berbagi pengetahuan mengenai hutan Indonesia sebagai solusi dalam mitigasi perubahan iklim. 

Manajer kampanye WALHI ini bercerita tentang komunitas adat Seberuang di Dusun Silit, sebuah dusun yang berada di pedalaman Sintang. Komunitas ini berusaha mandiri dengan memanfaatkan hutan. Aku juga pernah menulis tentang Dusun Silit sekitar tiga tahun yang lalu. Tulisannya bisa teman-teman baca di sini.

Saat ini warga Silit sedang berusaha mendapatkan pengakuan hutan adat dari negara. Masyarakat di sini menjaga hutan sehingga ketersediaan pangan dan air mereka juga aman. Ini membuat kebutuhan energi listrik terpenuhi karena mereka menggunakan PLTA. Teknologi yang digunakan sangat sederhana sehingga mereka tidak tergantung pada teknisi di kota ketika ada kerusakan.

Pemanfaatan energi terbarukan seperti listrik dari tenaga air bisa jadi solusi untuk permasalahan iklim yang kita hadapi. Hah, kenapa jadi bicara iklim? hmmm benang merahnya begini.


Tren bencana sepanjang 2009-2019 menunjukkan 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana yang dipengaruhi oleh perubahan iklim (bencana hidrometeorologi) misalnya banjir, tanah longsor, atau puting beliung. Selama sepuluh tahun bencana ini terus meningkat.

Berdasarkan data yang dipaparkan Yuyun Harmono, kebiasaan manusia juga berkontribusi pada meningkatnya krisis iklim. Terutama dari sektor berbasis lahan dan sektor energi. Tahun 2020 sektor berbasis lahan menempati urutan pertama untuk penyumbang emisi gas rumah kaca. Namun tahun 2017 justru yang semakin meningkat adalah sektor energi. Diprediksi 10 tahun lagi sektor energi akan jadi kontributor emisi terbesar.





Harus ada kebijakan dari pemerintah untuk menekan laju emisi yang dikeluarkan oleh sektor energi maupun yang berbasis lahan. Saat bicara "menekan laju emisi" bukan berarti kita langsung berhenti menggunakan energi dalam keseharian kita.

WALHI menawarkan prinsip Energi Berkeadilan, yaitu:

1. Menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia
2. Aman terhadap iklim dan berdasarkan pada teknologi yang tersedia di lokal dan berdampak rendah
3. Di bawah kontrol langsung oleh publik dan diatur untuk kepentingan publik
4. Memastikan hak-hak pekerja sektor energi
5. Memastikan hak free, prior and informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak
6. Berskala kecil dan terdesentralisasi
7. Memastikan penggunaan energi yang adil dan seimbang serta meminimalkan limbah energi. 

Kenyataan saat ini masih banyak daerah-daerah pelosok yang belum mendapat akses energi. Pada tahun 2018, sebanyak 5,2 juta penduduk Indonesia belum dapat listrik. Sementara itu ada daerah yang teraliri energi berlebih. Apakah itu adil? 

Yuyun Harmono menegaskan, untuk mengakses sumber energi tanpa memperparah krisis iklim, pemerintah perlu secepatnya melakukan transisi. Tapi tentu saja tetap berkeadilan, transisi berkeadilan berarti tidak meninggalkan aspek buruh dan pekerjaan yang layak juga menjamin kedaulatan pangan dan melindungi hutan serta keanekaragaman hayati. 

Apa ini terdengar berat? Saatnya mengeluarkan kalimat andalan Sisca Kohl "Mari kita coba!!!". Contoh kecil bagaimana energi berkeadilan bisa terwujud bisa dilihat di Dusun Silit. Di mana keadilan energi  terwujud lewat pengelolaan hutan yang diberikan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan langsung. 

Hutan lestari menjamin ketersediaan air yang menjadi sumber energi masyarakat. Hutan juga jadi sumber pangan, masyarakat Silit juga mempraktikkan pertanian tradisional skala kecil, dan mereka juga menerapkan sistem perekonomian berbasis rakyat bantu rakyat lewat Credit Union. 

Apa yang ada di Silit mungkin bisa diadopsi oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Mitigasi krisis iklim bisa dilakukan dengan menjaga hutan tetap lestari. Ini bukan tugas segelintir orang saja, kita tidak bisa hanya membebankannya pada pemerintah, masyarakat adat, atau aktivis lingkungan. Ini adalah kerjasama semua orang di Bumi. Bicara tentang Bumi, sebentar lagi Hari Bumi lho! tepatnya pada tanggal 22 April nanti. 

sumber: whatsupmag.com 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sejarah Hari Bumi bermula dari gerakan akar rumput yang dilakukan oleh akademisi lingkungan di Amerika Serikat yang bernama Gaylord Nelson pada tahun 1970 sebagai respon akibat tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California. Sekarang perayaan ini digelar tingkat dunia.

Tapi sebenarnya perayaan Hari Bumi adalah perayaan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri, seperti yang Gita Syahrani sampaikan pada sesi kedua dalam kegiatan ini. Seperti biasa, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) ini tidak bosan-bosannya mengingatkan semangat gotong royong agar pembangunan yang adil dan berkelanjutan bisa terwujud di Indonesia. 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Indonesia punya pendekatan ekonomi yang harusnya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan. Tapi sebagus apapun visi ekonomi kita kalau tanah, air, dan udara sudah tidak sehat, visi itu akan sulit tercapai. Sama seperti tubuh kita, mau sebanyak apapun uang yang kita miliki kalau kita tidak sehat maka kualitas hidup kita juga akan buruk.  

Kita bisa saling jaga dengan cara mendukung upaya untuk mempertahankan keberadaan hutan. Terlibat langsung dengan masyarakat sekitar hutan mungkin terdengar sulit bagi kawan-kawan yang di kota. Nah, kawan-kawan bisa tetap terhubung dengan hutan dan kita bisa saling bantu dengan cara membeli produk lokal, tapi produk lokal yang ramah lingkungan dan ramah sosial ya. 

Ini juga bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar hutan lho. Karena masyarakat sekitar hutan juga punya impian untuk menikmati kualitas hidup yang tidak bisa didapatkan secara langsung dari hutan. 

Topi dari rotan hasil hutan bukan kayu / Dok. @handepharuei

Misalnya saat kamu membeli topi atau tas rotan yang diproduksi kelompok perempuan di sebuah komunitas. Kamu tidak hanya membeli sebuah kerajinan, tapi kamu sedang membantu seorang ibu untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang mungkin dia gunakan agar anak-anaknya bisa sekolah, untuk mendapat akses kesehatan, atau bisa juga sebagai uang tabungan.

Itu adalah bentuk dukungan kita bagi mereka yang menjaga hutan. Karena tidak adil dong kalau kita teriak-teriak menjaga hutan tapi tidak peduli dengan keberadaan manusia sekitar kawasan. Kita bisa saling dukung dengan beragam cara. Misalnya mengonsumsi produk hasil hutan bukan kayu, atau ikut mengadopsi pohon di hutanitu.id.

Produksi hasil hutan bukan kayu itu apa saja sih? produknya beragam, bisa produk pangan, kerajinan, atau jasa lingkungan. Nah, perempuan yang kuceritakan tadi sedang mengonsumsi produk hasil hutan bukan kayu dalam bentuk jasa lingkungan. Jasa lingkungan ini bisa berupa wisata alam, keindahan landskap, perlindungan tata air, maupun kesuburan tanah.

Kalau orang luar saja rela melintasi benua untuk menikmati keindahan hutan Indonesia, masa kamu gak tertarik sama sekali. Jungle camping itu seru lho! kita di Indonesia masih memiliki banyak kesempatan untuk menikmati keindahan hutan kita, jangan sampai kita melewatkannya begitu saja.




Karena tinggal di kawasan hutan aku bisa merasakan udara dan air bersih, dapat menikmati protein, buah, maupun sayuran segar, dan menikmati keindahan landskap yang sudah cantik tanpa perlu dipoles. Bahkan dalam perjalanan dari kampung ke kota aku bisa meraskan Ghibli Vibes hahaha. Bagiku hutan bukan hanya sehamparan pohon atau aset, itu adalah bagian dari identitasku sebagai orang Tamambalo.

Leluhurku menamai sungai yang mengalir di wilayah kami dengan nama Sungai Tamambalo. Tamambalo berasal dari kata Taumamlalo yang merupakan kekaguman pada kondisi alam di sekitar sungai tersebut. Leluhurku mengenal pembagian kawasan, pengetahun ini masih digunakan sampai sekarang. Karena itulah kami masih memiliki hutan bersama yang disebut Toan Palalo. Hutan ini dikelola bersama oleh Orang Tamambalo berdasarkan aturan adat.

Hutan juga inspirasiku dalam berkarya. Aku sangat takjub dengan orangutan dan burung enggang yang masih ada di kawasan hutan Kapuas Hulu. Aku pernah menulis cerita bergambar yang terinspirasi dari burung enggang, kawan-kawan bisa baca di sini. .

Cover untuk cerita bergambar Kisah Sang Enggang Pemberani / Artwork oleh Pamca Esti

Karena merasakan manfaat memiliki hutan, aku ingin turut serta menjaga keberadaannya. Menjaga hutan berarti menjaga ruang hidup, itu juga menjaga sesamaku. Para pendahuluku sudah melakukan itu untukku, dan akan kulakukan juga untuk generasi Tamambalo selanjutnya. Akan kulakukan sebisaku. Itu adalah cara paling heroik yang pernah aku pikirkan, karena selama ini hutanlah yang selalu memberi kebaikannya. Hutanlah yang menjagaku agar tetap bernapas, agar kami dapat bertani di tanah yang subur, dan aku bisa jualan madu hahaha.

Rabu, April 14, 2021

Mengenal Sustainable Beauty and Wellness Lebih Dalam di Blogger Gathering #LestarikanCantikmu

 


Sudah lama rasanya tidak gathering bersama teman-teman blogger. Kesempatan itu akhirnya datang lagi, aku mengikuti Blogger Gathering #LestarikanCantikmu untuk mengenal sustainable beauty and wellness lebih dalam. 

Gathering ini diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan Network. ⁣Lingkar Temu Kabupaten Lestari adalah forum kolaborasi Kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Ada beberapa kabupaten tergabung dan Kapuas Hulu salah satunya. ⁣Bagaimana upaya kawan-kawan LTKL untuk menyebarkan semangat gotong royong agar pembangunan yang adil dan berkelanjutan terwujud bisa teman-teman lihat di kanal YouTube Lingkar Temu Kabupaten Lestari

Sementara Madani Berkelanjutan merupakan lembaga nirlaba yang berupaya menjembatani hubungan antar pemangku kepentingan baik itu pemerintah, swasta, atau masyarakat sipil untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan. ⁣

Kedua lembaga ini menggandeng Blogger Perempuan Network (BPN) untuk bekerjasma. BPN ialah jejaring blogger perempuan di Indonesia yang memiiki misi mendukung blogger perempuan Indonesia di ruang digital dan meningkatkan konten mereka ke level selanjutnya.⁣


Bagi saya kerjasama ini merupakan strategi campaign yang menarik dari teman-teman pegiat isu lingkungan agar penyadartahuan yang selama ini mereka lakukan bisa tersampaikan lebih luas.⁣

Peserta gathering adalah  30 blogger terpilih setelah mengikuti kompetensi blog #LestarikanCantikmu bulan lalu. Aku jadi satu di antara peserta terpilih dan tulisanku menjadi juara kedua dalam kompetensi ini. Tulisan yang aku submit kemarin bisa teman-teman baca di sini yah! 

Kali ini kami ditemani tiga orang yang menjadi narasumber. Ada Mas @danangwisnu seorang skincare content creator, Kak Gita Syahrani dari @kabupatenlestari dan Kak Christine Pan pendiri @segaranaturals. Dengan latar belakang yang mereka miliki, kami diajak untuk memahami lebih dalam mengenai sustainable beauty and wellness. 

Sebelum itu  kita perlu tahu bagaimana sejarah kosmetik yang berhubungan juga dengan perawatan kulit. Seorang profesor di Universitas Hungarian, Nora Amberg dalam jurnal ilmiahnya menyinggung sekilas tentang sejarah kosmetik. Dia menuliskan sejarah kosmetik telah dimulai pada zaman Mesir kuno namun penggunaannya lebih pada tujuan kebersihan dan untuk perawatan kesehatan. 

Orang Mesir kuno tidak hanya merawat kulit untuk jadi sehat tapi juga melakukan perawatan kulit untuk keperluan ritual mumifikasi dan penguburan. Perawatan ini dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan mereka tentang tumbuhan, minyak, dan senyawa organik.

Seiring perubahan jaman, perawatan kulit kini tidak lagi menggunakan tumbuhan secara langsung. Bahan-bahan harus diolah dulu untuk menjadi produk kesehatan kulit maupun kosmetik.

Di Indonesia, industri kosmetik memiliki panggung yang cukup cerah. Mengutip dari laman kemenprin.go.id, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) menyebutkan bahwa industri farmasi, bahan farmasi dan kosmetik merupakan salah satu sektor andalan yang mendapat prioritas pengembangan dan berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian di masa yang akan datang.

Ini terdengar menarik dan bisa saja jadi peluang mengingat Indonesia kaya dengan potensi alam. Namun kita juga harus mempertimbangkan dampak apa yang akan dibawa oleh produk-produk kosmetik ini, tidak hanya dampak secara sosial dan ekonomi tapi juga bagi lingkungan. 

Kompas.com menyebut pada tahun 2015 diperkirakan 61 persen kemasan kosmetik dan perawatan kulit terbuat dari plastik, dan pada tahun 2019 produk ini naik sampai 12 persen. Jika produsen maupun konsumen tidak mengenal sustainable beauty and wellness lebih dalam, upaya untuk merawat kesehatan kulit mungkin akan kontradiksi dengan kepedulian pada Bumi. 

Sustainable Beauty and Wellness⁣



Konsep sustainable beauty muncul atas respon terhadap sampah plastik dari kemasan kosmetik, hingga bahan kimia yang ikut terbuang dan mencemari kehidupan di laut.   

Pada sesi pertama, pemateri mengajak kami untuk memiliki sesuatu yang aku sebut "prinsip berkesadaran". Ini untuk menggambarkan perilaku menggunakan produk atau jasa karena memang membutuhkannya, bukan sekadar impulsif.

Sesi yang dibahas bersama Danang Wisnu, skincare content creator yang juga merupakan seorang dokter gigi ini lebih menekankan perlunya konsumen aware pada kandungan skincare yang digunakan. 

Mungkin karena latar belakangnya seorang praktisi kesehatan (walaupun itu kesehatan gigi), mas Danang lebih subjektif ketika bicara tentang manfaat skincare. Tidak ada skincare yang membuat kulit kita sehat dalam waktu singkat, semuanya butuh proses. Bayangin aja mas Danang udah pakai skincare sejak SD. ⁣Kalau kamu mau menggunakan skincare kamu harus mengenali kebutuhan kulitmu apa. 

Kandungan skincare sendiri bermacam-macam, dan tidak menutup kemungkinan ada yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Lantas bagaimana mengetahui skincare yang akan kita gunakan itu aman? Caranya dengan melihat kandungan serta sertifikasi produk.⁣ Jadi kita memang harus rajin baca kandungan dan teliti ngecek apakah sudah ada sertifikasi produknya atau belum. 

Sesi kedua bersama kak Gita, kami diajak mengenali seperti apa sih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Berdasarkan riset yang dilakukan LTKL di Indonesia bekerjasama dengan mitra di tiga negara; Korea Selatan, Jepang, dan China, bahan dalam produk menjadi hal utama yang jadi pertimbangan saat konsumen membeli produk. Karena para pembeli ini sudah memiliki perhatian terhadap polusi yang dihasilkan sebuah produk, misalnya apakah produk tersebut mengandung microbeads atau tidak.⁣

Microbeads merupakan partikel yang terdapat pada produk scrub atau exfoliator. Partikel ini sulit terurai ketika telah digunakan dan terbuang di lingkungan, yang justru dapat mencemari dan berpotensi termakan oleh makhluk hidup di laut. ⁣

Bahan-bahan yang digunakan oleh produsen bisa saja berbahan lokal. Tapi apakah semua yang berbahan lokal pasti ramah lingkungan? belum tentu. Ada tiga aspek produk ramah lingkungan dan ramah sosial yang harus terpenuhi dalam sebuah produk, yaitu:

  1. Bahan baku didapatkan dari komoditas yang tetap menjaga fungsi alam tanpa bencana
  2. Membuat petani, pekebun, atau pekerja sejahtera
  3. Bertanggungjawab terhadap energi limbah dan produksi


Jika satu saja di antara tiga aspek ini tidak terpenuhi maka produk yang kita gunakan tidak bisa disebut produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Tanggung jawab ini tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak, mulai dari hulu ke hilir harus sama-sama konsisten mewujudan kelestarian dan keadilan.

Jadi udah kebayang kan, kalau mau menerapkan sustainable beauty and wellness kita memang harus selektif dalam memilih produk. Karena produk yang kita konsumsi memiliki cerita di baliknya. Ada tempat di mana komoditas itu berasal, ada orang-orang yang bekerja untuk mengolah komoditas tersebut atau membuat produk tersebut, dan ada perusahan yang memproduksinya. Sebagai konsumen yang bertanggung jawab kita harus mengetahui benang merahnya.⁣

Nah, aku sebenarnya penasaran di Indonesia berapa banyak sih produsen yang sudah memenuhi aspek ramah lingkungan dan ramah sosial.

Meski tidak mendapat informasi tentang hal ini, setidaknya pada sesi ketiga bersama kak Christine Pan aku mulai mendapat jawaban yang kucari. Di Segara Naturals kak Christine dan tim melakukan penjajakan yang dalam dengan calon mitra sebelum memutuskan mengambil bahan baku dari mereka. 

Segara Naturals konsisten menggunakan bahan-bahan alami untuk produk perawatan kulit. Mereka tidak menggunakan minyak sawit karena tata kelola komoditas ini seringkali bertentangan dengan prinsip lingkungan dan sosial. Tapi aku perlu tekankan, yang dikritik itu bukan komoditasnya ya tapi tata kelola komoditasnya. 

Kemasan produk Segara Naturals juga tidak menggunakan plastik. Menariknya, Kak Christine punya pengalaman pribadi saat bicara tentang sampah plastik. Kecintaannya pada dunia travelling membuatnya menjelajahi banyak daerah.  Di tempat-tempat yang dia datangi di Indonesia, dia melihat persoalan sampah plastik. 

Dalam hati  dia merasa sedih, orang-orang di luar negeri mengenal Indonesia sebagai negara yang hijau dan asri, padahal kenyataannya kita sedang menghadapi permasalahan sampah plastik yang tak terkontrol. Sampah-sampah ini menumpuk, tidak hanya tak elok dipandang mata tapi bisa berbahaya bagi kehidupan di laut. 

Sejak menyadari isu polusi plastik itu dia lalu bertekad melakukan perubahan kecil untuk mengurangi penggunaan plastik atau kemasan sekali pakai.⁣ Ketika dia membuat produk kecantikan, dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Segara Naturals dikemas dengan kemasan aluminium tin yang bisa dipakai ulang. 

Aku angkat dua jempol untuk produsen-produsen yang sudah menerapkan prinsip ramah lingkungan dan sosial, tepuk tangan juga untuk orang-orang yang sudah mulai selektif dalam memilih produk. ⁣

Kalau kita ingin cantik (sesuai dengan versi masing-masing ya), kita juga harus bertanggung jawab terhadap produk yang kita pilih. Jangan sampai keinginan kita untuk tampil cantik membuat empati kita tehadap lingkungan dan sosial jadi tipis.⁣

Lalu apa yang perlu kamu lakukan ketika ingin menerapkan konsep sustainable beauty and wellness? coba perhatikan gambar di bawah ini. 


Tiap kali hendak membeli produk kosmetik biasakan baca label, kenali bahan, pahami komoditas asli,  apa dampaknya, pilih yang lestari, dan jangan lupa bagikan cerita kamu pada yang lain.

Menjadi konsumen yang bijak dan bertanggungjawab pada apa yang kita konsumsi. Karena barang yang kita beli memiliki cerita di baliknya.  Begitulah pengalaman gathering kali ini. Aku bukan skincare enthusiast, tapi hal-hal yang beririsan dengan lingkungan dan lokalitas selalu menyenangkan untuk dipelajari. 

Untuk menutup tulisan ini aku ingin menyimpulkan apa yang sudah kudapat dengan sebuah quotes, Ketika kita ingin menikmati keindahan, kita juga harus berkenan menjaga dan merawatnya. Karena bukan hanya kecantikanmu yang perlu dirawat, tapi juga Bumi ini. 

Sabtu, Maret 06, 2021

Ragam Komoditas Lokal untuk Kecantikan dan Kesehatan


 



Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat orang-orang di sekitar saya memanfaatkan bahan alami untuk merawat kulit dan rambut. Ibu menghilangkan bekas cacar di badan saya menggunakan daun pakis hijau yang dihaluskan lalu dibalurkan di tubuh saya. Satu minggu sekali nenek sering menggosok rambut saya dengan minyak dari biji karet yang dibakar, fungsinya agar rambut lebat dan hitam.

Komoditas lokal yang potensial untuk kosmetik seperti lidah buaya juga saya gunakan sebagai masker saat usia SMP, ketika jerawat menghiasi wajah saya bagaikan remahan kacang di atas wafer cokelat. Dengan lidah buaya, jerawat yang meradang cepat mengering. Kami juga sering menggunakan madu di wajah setelah berpanas-panasan di ladang, ini petuah agar wajah tak kusam. 

Tak hanya itu, saya dan teman-teman masa kecil sering mewarnai kuku menggunakan daun bunga pacar, maklum kuteks adalah sesuatu yang sangat langka di masa itu. Kehidupan di desa dengan hutan yang masih terjaga mengajarkan kami bahwa untuk menjadi cantik hanya perlu mencari dan mengolah sendiri bahan-bahan yang sudah disedikan alam. Kosmetik dari pasar adalah sesuatu yang sangat baru untuk masyarakat di komunitas saya. 

Dulu sebelum toko hadir, orang-orang di generasi ibu saya hanya mengenal bedak. Itu juga didapatkan kalau ada yang ke ibukota kabupaten, menempuh perjalanan jauh berhari-hari atau naik motor air belasan jam. Perawatan untuk kulit dan rambut, termasuk kesehatan sangat mengandalkan pengetahuan tentang alam. Itulah yang membuat kami, suku Dayak Tamambalo memandang bahwa alam adalah realita yang hidup dan aktif bahkan interaktif (Efriani, 2019).  


Bicara tentang komoditas lokal dan pemanfaatannya, saya tertarik menceritakan komoditas lokal  yang ada di Kapuas Hulu. Terutama yang berada di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Wilayah ini didiami masyarakat suku Dayak Tamambalo dan Iban di mana keanekaragaman hayati tak hanya mempengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan kebudayaan, tapi juga menjadi bagian dari identitas. 


Komoditas lokal yang diproduksi petani madu di sekitar Danau Sentarum

Di sini beberapa lembaga memberdayakan masyarakat untuk mengelola komoditas berkelanjutan seperti madu dan tengkawang yang merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Sudah sejak dulu, oleh komunitas Iban maupun Tamambalo, madu serta tengkawang digunakan untuk kesehatan serta kecantikan. 

Namun, ketika mereka berupaya membawa komoditas ini ke pasar, harga yang mereka dapatkan sangat rendah. Madu hanya dihargai Rp 20.000/kg padahal madu yang mereka sediakan memiliki kualitas wahid. Madu di wilayah TNDS dihasilkan oleh jenis lebah Apis Dorsata. Lebah unggulan petani madu organik di berbagai wilayah Indonesia. 


Saat pendampingan dilakukan, masyarakat mulai menerapkan panen lestari dan internal control system (ICS) sehingga mutu produk meningkat dan komoditas lokal  memiliki nilai jual tinggi. Harga madu hutan organik kini bisa mencapai 150.000/kg dan ini bisa membantu masyarakat sejahtera. Produk yang mereka hasilkan tak hanya menunjang perekonomian, tapi juga termasuk kategori komoditas berkelanjutan karena dihasilkan dengan cara-cara yang tidak merusak habitatnya. 


Komoditas lokal lainnya adalah tengkawang (Shorea spp.) yang lebih dikenal oleh masyarakat umum sebagai meranti. Di wilayah TNBK dan TNDS tengkawang dikenal juga sebagai engkabang (Iban) atau kakawang (Tamambalo) ini adalah jenis pohon asli hutan Indonesia bagian barat. Bijinya dikeringkawan lalu dijual pada pengepul. Di pasar internasional biji tengkawang dikenal sebagai illipe nuts.

Pengepul yang datang ke wilayah ini biasanya berasal dari Malaysia. Harga belinya sangat rendah, Misalnya di Desa Labian Ira'ang, sebelum mendapat pendampingan untuk pengelolaan minyak tengkawang. Biji tengkawang dijual dengan harga Rp 2.000/kg.

Setelah mendapat pendampingan, mereka mulai mengolah sendiri minyak tengkawang. Jika dulu orang-orang tua di kampung hanya tahu minyak tengkawang untuk dinikmati dengan nasi panas, kini mereka memproduksi mentega dan sabun. Harga jualnya pun jauh lebih tinggi. Mentega tengkawang yang sudah dikemas dengan takaran 200 gram dihargai Rp 25.000/ kemasan. Untuk ukuran 500 gram dijual Rp. 50.000.

Masyarakat di desa ini mulai mengenal disverifikasi produk, pelan-pelan mereka mencoba membuat sabun dan memasarkannya ke wilayah sekitar desa. Mereka memanfaatkan BUMDes dan festival-festival budaya sebelum pandemi. Ini menjadi sumber perekonomian alternatif dan jika dikembangkan dengan baik tentu membantu masyarakat sejahtera.

Dua komoditas ini merupakan sedikit contoh yang bisa dengan mudah saya jelaskan. Indonesia yang luas ini memiliki beragam tumbuhan, di tempat kawan-kawan pasti ada komoditas lain yang bisa dijadikan bahan kosmetik dan kesehatan. Silakan list masing-masing ya! Bayangkan jika kita bisa menggali lokalitas dan belajar dari cara masyarakat adat mengelola alamnya, mungkin kita bisa temukan lebih banyak tumbuhan-tumbuhan penolong lainnya. 


Menjadi Konsumen yang Bertanggung Jawab




Pendiri Martha Tilaar Group, Dr. Martha Tilaar, mengatakan, dari 30.000 jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia,  hanya 7000 jenis yang diidentifikasi memiliki potensi untuk kesehatan, obat-obatan, dan kosmetika. 

Jika dulu komoditas lokal yang beragam ini menarik datangnya penjajah, mungkin di tangan generasi masa kini yang memiliki rasa empati dan tanggung jawab terhadap produk yang dikonsumsinya komoditas lokal bisa membuat masyarakat sejahtera. Tidak hanya mensejahterakan orang-orang yang duduk di menara gading. 

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia


Ada satu perusahaan yang membuat saya optimis dan memiliki harapan pada komoditas lokal dan kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak. Perusahaan ini adalah Javara, perusahaan bahan pangan organik yang bermitra dengan puluhan ribu petani di Indonesia. Pendirinya, Helianti Hilman merupakan my spirit lady. Dia membuka jalan bagi para petani untuk memasarkan produknya hingga ke mancanegara dan ini memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi petani mitra.

Javara menjual beras, tepung, bumbu dapur, minyak kelapa, gula kelapa, madu, dan aneka camilan yang diolah menggunakan bahan pangan lokal. Kini produk Javara telah tersebar di 23 negara yang ada di lima benua. Javara pun menggandeng puluhan ribu petani lokal untuk dipasarkan produknya di dunia internasional. Target pasarnya adalah para pembeli yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab mengenai barang-barang yang mereka konsumsi.  Di tengah pagebluk, penjualan Javara justru naik sampai 30 persen.

Jika produk pangan punya tempat secerah ini di kalangan konsumen, produk kosmetik harusnya memiliki kesempatan yang sama. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyampaikan bahwa sektor kosmetik tumbuh signifikan pada 2020. Dikutip dari Antara, hal ini terlihat dari kinerja pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, di mana kosmetik termasuk di dalamnya, tumbuh 9,39 persen.

Berdasarkan data BPS, kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) pada kuartal I/2020 tumbuh 5,59 persen. Kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signfikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus US$317 juta pada semester 1/2020 atau naik 15,2 persen secara tahunan. Data ini bisa jadi pijakan untuk melihat peluang komoditas lokal sebagai bahan baku produk kecantikan dan kesehatan.

Namun, sesungguhnya ketika bicara tentang lingkungan, ada nilai penting yang harus kita pahami bahwa sumber daya alam bukan hanya tentang produksi dan konsumsi. Dulu sebelum peradaban  mengenal “aset”, komunitas-komunitas adat di nusantara melihat alam setara dengan manusia. 

Itulah yang saya rasakan di komunitas saya. Pekerjaan rumah kita sekarang adalah bagaimana mengelola komoditas lokal menjadi lebih atraktif dan berdaya saing sambil mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lestari, adil, dan berkelanjutan. Lestari bagi alam, adil untuk masyarakat, dan berkelanjutan hingga ke anak cucu. 

Komoditas lokal yang saat ini kita kenal sebagai produk olahan untuk merawat kecantikan maupun kesehatan, sesungguhnya memiliki kebudayaan dan cerita, dia bukan sekadar aset. Komoditas lokal itu adalah bagian dari ekosistem, kita juga adalah bagian dari ekosistem ini. Kesadaran konsumen terhadap nilai di balik produk perlu dibangun.

Mungkin kita bisa sama-sama menunjukkan rasa tanggung jawab dan syukur kita pada kehidupan melalui hal-hal kecil yang konsisten kita lakukan. Misalnya menjadi konsumen yang bertanggung jawab dalam memilih produk kosmetik.

Pilihlah produk kosmetik yang ramah lingkungan, berkelanjutan dan dihasilkan dengan cara yang adil. Jika kamu membeli produk seperti ini kamu tidak hanya sedang menyelamatkan bumi tapi juga membantu memberdayakan masyarakat yang mengolahnya. Lingkungan terjaga, masyarakat sejahtera.


Selasa, Februari 18, 2020

Pulihkan Indonesia dari Hutan ke Dapur


Aneka buah-buahan hutan yang hanya ditemui di daerah dengan wilayah hutan yang terjaga / Claudia Liberani


Beberapa bulan belakangan saya asik mengumpulkan resep masakan tradisional beberapa komunitas adat di daerah saya, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Aktivitas yang akhirnya mempengaruhi pola konsumsi saya secara pribadi. Termasuk mengubah pandangan saya tentang sebuah produk pangan.


Perjalanan demi perjalanan dari satu komunitas ke komunitas lain bermuara di tempat yang sama, yaitu hutan sebagai dapur alami. Hutan adalah sumber pangan. Bahkan komunitas adat Iban di Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki supermarket mewah berupa hutan adat di desa mereka. 


Komunitas ini memiliki hutan adat seluas 9.452,5 hektar. Dari total jumlah luasan ini, sekitar 6.000 hektar merupakan kawasan lindung. Selebihnya merupakan hutan yang dikelola secara swadaya, dengan zonasi yang telah ditentukan. Tak semua wilayah hutan adat dapat dikelola, ada kawasan yang benar-benar dilindungi. Tahun 2019, komunitas Dayak Iban Sungai Utik mendapat penghargaan Equator Prize dari PBB karena berhasil menjaga wilayah dari perambahan dan ekspansi industri.


Dari hutan adat inilah kebutuhan pangan terpenuhi. Ada beragam jenis tumbuhan yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat adat Iban sehari-hari, baik sebagai sayuran maupun obat-obatan. Ada rebung bambu sebagai sumber serat, pakis sumber karbohidrat kompleks dan minyak dasar. Ada daun sengkubak sebagai vetsin alami, atau daun kededai sebagai sayuran penambah air susu ibu (ASI) bagi perempuan menyusui. 

Saat musim buah raya tiba, buah-buahan di hutan juga mulai ranum. Tak hanya jadi makanan bagi satwa liar di hutan, tapi juga jadi camilan yang menyegarkan bagi masyarakat desa. Misalnya mangga liar yang jadi sumber vitamin dan mineral, atau berry hutan dengan rasa asam manis yang buat ketagihan.

Ikan Pansuh yang  Aduhai


Memasak ikan pansuh dengan metode masak yang sederhana / Instagram @nerinaelli

Pangan lebih dari sekadar nutrisi, karena ia adalah bagian dari budaya dan tradisi. Resep makanan menggambarkan sejarah dan identitas kelompok etnis. Salah satu menu makanan yang saya suka dari komunitas ini  adalah ikan pansuh, yaitu ikan yang dimasak di dalam bambu. Biasanya ikan yang dipansuh adalah ikan jelawat. Salah satu ikan air tawar berkualitas super.

Menu ini selalu saya rekomendasikan saat ada yang bertanya makanan tradisional apa yang harus dicoba saat berkunjung ke Sungai Utik. Menikmatinya tak hanya membuat perut kenyang tapi juga membuat kita merasa sangat dekat dengan kehidupan komunitas Iban.

Ikannya segar, baru ditangkap dari sungai desa yang jernih. Diolah sederhana saja, hanya dibalur garam, dicampur daun sengkubak dan irisan bunga kecombrang. Aromanya menguar ke udara begitu ikan dikeluarkan dari bambu, daging ikan yang manis terasa gurih dengan bumbu yang sederhana. Ikan pansuh tak hanya meyajikan rasa nikmat, ada sisi geopolitik juga sejarah peradaban yang terungkap.

Ikan pansuh menggambarkan keterikatan masyarakat Iban di Sungai Utik dengan hutan adat yang mereka jaga turun temurun. Bahan-bahan yang digunakan didapat dari alam, diolah sesuai dengan pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Manfaatnya apa? tentu saja ikan merupakan sumber protein yang tinggi. Mengonsumsi ikan hasil tangkapan di desa ini tak perlu membuatmu takut dengan bahaya zat kimia.

Ikan jelawat hanyalah satu dari banyaknya ikan bercitarasa tinggi yang bisa ditemui di Sungai Utik. Selain ikan jelawat ada ikan mahseer alias ikan semah yang nikmatnya mendunia itu. Bahan pangan dengan kualitas wahid seperti ini hanya ditemui di wilayah yang memiliki tutupan hutan tinggi. Orang-orang di Sungai Utik sangat beruntung memilikinya.

Hutan Sumber Pangan

Jambu dan aneka berry hutan yang jadi camilan ketika musim buah tiba / Claudia Liberani

Pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat tentu tak hanya bersumber dari hutan, masyarakat adat Sungai Utik juga menerapkan praktek pertanian berbasis ekologi dalam sistem pertanian tradisional. Kanekaragaman hayati yang tinggi di hutan sangat berpengaruh terhadap varietas pangan yang mereka tanam.

Hutan jadi rumah bagi penyerbuk yang membantu tanaman-tanaman pertanian bereproduksi, hutan pula yang menentukan kualitas dan kuantitas air, termasuk membantu mengendalikan hama. Hutan dan sistem pertanian sebenarnya saling terhubung, itu yang terlihat di Sungai Utik. Menjaga hutan sama dengan menjaga ketahanan pangan.

Bayangkan saja jika tahun 2050 ada sembilan milyar manusia yang tinggal di bumi. Sementara alih-fungsi kawasan hutan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kebutuhan minyak nabati membuat konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit semakin tinggi. Sedikit demi sedikit jumlah hutan berkurang, yang artinya sumber pangan juga semakin terbatas.

Tinggal di Kapuas Hulu juga membuat saya menyadari satu hal, komunitas yang tinggal di sekitar hutan yang masih terjaga memiliki kualitas makanan yang jauh lebih baik. Ini berdampak pada capaian gizi, berdasarkan data Evaluasi Capaian Program Gizi Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2019 daerah yang masih memiliki hutan tak memiliki masalah serius dalam kasus stunting. 

Keberadaan sayuran liar, umbut-umbutan dan sumber protein alternatif seperti siput atau ulat pohon yang ditemui di hutan tak bisa diremehkan dalam pemenuhan nutrisi harian. Mau tidak mau, kita harus mengakui masyarakat tradisional justru lebih sehat ketimbang masyarakat perkotaan.

Pulihkan Rimba Terakhir Pulihkan Indonesia

Bumbu masakan sederhana yang umumnya didapatkan di hutan/Claudia Liberani

Awal tahun 2018 kita dikejutkan dengan tingginya presentase balita penderita stunting di Indonesia. Padahal, Indonesia digadang-gadang akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia beberapa dekade mendatang. Kalau kita masih dihadapkan pada masalah pemenuhan pangan, mungkinkah hal ini tercapai?

Menurut Human Develompment Index (HDI) 2017, kualitas hidup manusia Indonesia saat ini menduduki peringkat 113 dari 188 negara. HDI mencakup indeks mengenai harapan hidup, buta huruf dan melek huruf, juga gross national income (pendapatan nasional perkapita).

Saat membicarakan kualitas hidup manusia, kita bicara tentang pangan sebagai fondasi pokok yang menopangnya. Gerakan memulihkan Indonesia bisa dilakukan lewat memulihkan ketahanan pangan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita tak bisa hanya memperluas lahan untuk memenuhi pangan dan mengabaikan hutan.



Hutan dan produksi pangan harusnya beriringan. Tanaman tumbuh dengan sehat ketika berada di dekat hutan. Dari Sungai Utik, saya belajar bahwa memulihkan Indonesia bisa dilakukan dari dapur. Tapi tanpa hutan, tak akan ada bahan pangan di dapur.

Di tengah dilema yang kita hadapi, bagaimana memenuhi kebutuhan pangan tanpa mempercepat kerusakan hutan dan perubahan iklim, kita mungkin bisa mulai dengan mengubah pola konsumsi kita. Kembali ke makanan lokal yang dikelola secara adil dan lestari. Melirik kembali apa yang telah disediakan oleh hutan, rimba terakhir yang kita miliki.

Karena untuk bertahan hidup kita membutuhkan makanan yang sehat, udara yang segar dan air yang bersih, bukan gadget mahal atau sepatu baru. Dan semua itu disediakan oleh hutan. Seperti yang selalu WALHI gaungkan "pulihkan Indonesia", pulihkan hutan kita. 

Rabu, Oktober 30, 2019

[Review Buku] Dengarkan Jeritan Bumi Respons Kristiani atas Krisis Keadilan Ekologis




“Kita tidak dapat memuja Tuhan Sang Pencipta jika kita membenci, menghancurkan, atau menyebarkan polusi, terhadap ciptaan-Nya. Kita tidak dapat mengklaim menghormati seluruh makhluk jika kita membiarkan dominasi patriarki terhadap kaum perempuan dan alam berlangsung terus." - hlm. 51


Kawan-kawan mungkin masih ingat tema Bulan Kitab Suci Nasional 2019, yaitu “Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Krisis Lingkungan Hidup”. Sebuah tema yang saya rasa sangat relate dengan permasalahan yang sedang kita hadapi saat ini. Krisis ekologis. Kebetulan saya baru saja membaca sebuah buku menarik yang membahas respons kristiani tentang krisis lingkungan.

Buku ini berjudul Dengarkan Jeritan Bumi karya beberapa orang yang tergabung dalam gerakan Oikotree. Dengarkan Jeritan Bumi diterbitkan oleh Ultimus dan Kristen Hijau tahun 2017 lalu. Sebenarnya ini terjemahan dari buku berjudul “Listen to the Land! Responding to Cries for Life” yang dialihbahasakan oleh Harsutejo. Ada 102 halaman buku yang menyajikan penjelasan teologi dan konteks sosial mengenai krisis lingkungan yang sedang dihadapi dunia. 

Ditulis dengan santai tapi isinya berbobot, tujuh bab di buku ini - kalau kata anak-anak Twitter - saya rasa cukup membuat jiwa-jiwa progresif pembaca bergejolak. Buku yang oke banget kalau saya ulas di bulan September kemarin, ya kan temanya pas dengan tema Bulan Kitab Suci Nasional hehe. Tapi tidak ada kata terlambat, buku bagus harus disebarkan.

Pada Bab I pembaca langsung disuguhi berbagai perlawanan rakyat mempertahankan tanah mereka. Mulai dari perjuangan rakyat Papua Barat untuk kedaulatan dan keadilan, jeritan bangsa Palestina, perjuangan di Kolombia, India dan Meksiko. Bab lainnya membahas persoalan lingkungan dari sudut pandang teologi. Tentang tanah dalam perjanjian lama dan baru. Bagaimana pemahaman alkitabiah tentang tanah. 

Bagian yang paling ingin saya bagikan dari buku ini adalah substansi tulisan di Bab IV yang berjudul Berbagai Inisiatif Menuju Budaya Kehidupan. Bab ini membahas tentang berbagai gerakan solidaritas yang muncul karena kesadaran bersama bahwa ada yang tidak beres dengan penguasaan tanah dan cara kita memenuhi kebutuhan pangan kita.

Ada banyak organisasi yang dimunculkan, satu di antaranya La Via Campesina, suatu gerakan internasional yang menyatukan jutaan petani, petani kecil dan menengah, mereka yang tak bertanah, petani perempuan, penduduk asli, kaum migran, dan buruh tani di seluruh dunia. 

Lalu saya berpikir, berdasarkan pengalaman saya mengunjungi beberapa tempat di pedalaman. Nyaris kebanyakan petani yang saya temui tidak memiliki pengetahuan tentang organisasi petani. Mereka tidak memiliki keinginan untuk mengorganisir kelompoknya dan merumuskan apa saja yang jadi kebutuhan mereka dan startegi apa yang harus diambil untuk mewujudkan kondisi yang mereka inginkan. 

Ada petani-petani yang membentuk kelompok tani, namun kelompok ini hanya difungsikan untuk mempermudah mereka menerima bantuan alat penunjang pertanian dari pemerintah. Gerakan-gerakan untuk menentang kebijakan yang tidak pro terhadap petani belum pernah mencuat dari kelompok kecil tersebut.

Tapi ini soal lain, yang lebih menarik dari bab IV adalah bagaimana penjelasan mengenai perubahan yang terjadi di tengah petani-petani asia. Dulunya bertani karena petanian adalah tradisi, budaya, dan cara hidup, kini bertani karena pertanian telah menjadi agrobisnis berbasis pasar.

Golongan berkuasa mengambil alih tanah dan sistem pertanian kemudian membatasi keberagaman cara mengolah pertanian berbasis tradisi yang selama ini diterapkan masyarakat. Gereja dipanggil untuk memulihkan pertanian kepada kehidupan masyarakat. 

Beberapa minggu yang lalu saya dan beberapa teman mencoba membuat rancangan masa depan kota kecil tempat kami tumbuh. Dalam rancangan tersebut kami memasukkan sentra pangan lokal. Saya berpikir alangkah bagusnya kalau para pekerja pertanian dan industri pangan mengorganisir diri, benih-benih diselamatkan dari pemangsaan korporasi pematenan, dan menerapkan cara bertani yang sesuai dengan tradisi.

Nah, membaca buku ini membuat saya semakin yakin dengan impian ini. Suatu hari nanti kehidupan akan terpulihkan, semua orang berbahagia di atas tanah ini. Tidak ada lagi yang tanahnya dirampas, terusir dari rumah, terpisah dari keluarga, dan menjalani hidup dengan ketakutan. Tidak ada lagi yang mati kelaparan atau mati tertembak peluru karena mempertahankan tanah warisan nenek moyangnya.

Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi kamu yang tertarik dengan isu lingkungan. Kamu yang ingin memperluas bacaanmu tentang teologi. Setelah ini kita akan dijejali dengan pertanyaan-pertanyaan baru tentang akar kekerasan dan ketidakadilan, pertanyaan yang jawabannya jelas tak kita temukan jika kita hanya berlutut di dalam gereja. Karena seperti tema Bulan Kitab Suci Nasional, kita memiliki tugas untuk mewartakan kabar gembira di tengah krisis lingkungan yang kita hadapi.

Kabar gembiranya adalah teologi Kristiani sejati merupakan teologi cinta kasih dan solidaritas terhadap kaum tertindas, suatu panggilan menuju keadilan dan kesetaraan di antara manusia. Jadi mari mewartakan kabar gembira. 

Rabu, September 11, 2019

Dua Hari yang Mencerahkan di Narasi Content Creator Workshop Pontianak

Narasi Content Creator Workshop

Ada yang tetap cerah dan berwarna-warni meski kabut asap di Pontianak membuat langit jadi pucat.
Belum habis rasa senang saya setelah melakukan perjalanan ke pedalaman lintas utara Kapuas Hulu, saya kembali mendapat pengalaman seru bersama orang-orang yang menginspirasi. Kali ini saya terpilih menjadi satu dari 25 peserta content creator workshop yang diadakan Narasi di Pontianak.

Pontianak jadi kota ke-9 yang didatangi Narasi dan kabarnya menjadi kota yang antusiasnya cukup tinggi. Terbukti dari jumlah pengirim karya yang menyentuh angka 330 orang, berada di urutan kedua setelah Surabaya. Dari 330 orang yang mengirimkan karya, 25 orang dipilih untuk mengikuti workshop selama dua hari di Hotel Mercure, Pontianak.

Saya senang banget dong! apalagi pematerinya wagilaseh semua. Jadi teringat waktu saya subbmit karya, di bawah pohon tengkawang yang teduh karena di sanalah spot yang bisa terkoneksi dengan internet. Maklum saya sedang melakukan tugas lapangan waktu itu. 

Workshop dihadiri oleh teman-teman dari beragam latar belakang pekerjaan dengan aktivitas karya yang luar biasa dan tidak tertebak. Ada seorang guru matematika yang jadi youtuber misalnya, atau seorang teller yang dikenal sebagai blogger, dari mereka saya semakin memahami bahwa pekerjaan tidak selalu menggambarkan identitas diri. Kamu bisa saja bolak-balik ruang sidang sebagai advokat bertampang galak tapi jadi penulis manis di balik layar, kan? hehe.

The New Wave of Creative Journalism 

credit to: Narasi 

Setelah workshop dibuka dengan pengenalan Narasi tv oleh kak Amanda, jurnalis senior, Imam Wahyudi menjadi pembicara pertama yang berbagi ilmu pada peserta. Beliau banyak memberikan pengetahuan agar peserta bisa menerapkan nilai-nilai jurnalisme dalam karyanya. 

Ada sembilan nilai jurnalisme, yaitu:
  • Pencarian kebenaran
  • Disiplin verifikasi
  • Independen
  • Loyalitas kepada warga negara
  • Memantau kekuasaan
  • Forum saling kritik dan menemukan kompromi
  • Menyampaikan hal penting secara menarik dan relevan
  • Komprehensif dan profesional
  • Mendengarkan hati nurani
"Konten baik itu  mutlak, konten bagus relatif, dan viral hanyalah bonus." - Imam Wahyudi
Dia berpesan agar content creator bertanggung jawab pada konten yang dibuatnya. Karena kita tidak bisa membendung dampak dari sebuah karya di era digital ini.

Content Creator for Social Change

credit to: Narasi 

Materi dari om Imam semakin diperkuat oleh pasangan peneliti dan dosen, Rara Sekar dan Ben Laksana dari Arkademy Project. Mereka mengajak peserta untuk tidak sekadar berkarya, tapi juga menghargai karya dan manusia itu sendiri. 

Di awal materi mereka melemparkan pertanyaan, apa tiga hal yang mendorongmu berkarya? Sebuah pertanyaan reflektif yang tepat untuk menyiapkan diri menerima ilmu dari mereka.  Rara dan Ben menyampaikan materi seputar fotografi kritis. 

Fotografi merupakan pengetahuan berbentuk visual yang sifatnya tidak netral karena medium fotografi tidak mampu merepresentasikan kebenaran secara menyeluruh. Makanya kita harus kritis terhadap sebuah karya. Bagaimana agar bisa kritis? kita harus mengubah asumsi menjadi sebuah pertanyaan.
"Seorang content creator merupakan educator bagi para penikmat karyanya." - Rara dan Ben
Tidak kalah penting adalah tanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan karena content creator berperan pula sebagai educator. Menurut Rara dan Ben, ada tiga hal yang harus dimiliki seorang content creator sekaligus educator, yaitu:
  • Reflektif dan kritis
  • Empati dan keberpihakan
  • Kreativitas
Kadang keberpihakan jadi point penting yang sering dilupakan oleh pembuat karya. Untuk teman-teman, mulai sekarang yuk semakin tegas perlihatkan keberpihakan kita pada siapa. Jangan kayak bunglon. Heeee.

Being Authenthic, Being You

credit to: Narasi 
Pemateri selanjutnya adalah Gupta Sitorus, seorang brand specialist yang mengajari peserta workshop untuk menjadi pembuat karya yang menghasilkan karya otentik dan memiliki ciri khas.
"Brand adalah reputasi yang ada di kepala konsumen." - Gupta Sitorus
Materi ini tidak kalah pentingnya karena kita sudah hidup di masa di mana semua orang melakukan cut, copy, and paste. Semua karya terlihat sama, nyaris hambar dan membosankan. Agar karya kami tidak begitu, maka Gupta mengajari peserta untuk membentuk personal brand dengan cara menjawab tiga pertanyaan, yaitu:


  • Siapa target kontenmu?
  • Apa yang membuatnya menarik?
  • Apa yang membuatnya berbeda ?
Kelas dari Gupta Sitorus jadi kelas terakhir yang kami terima di workshop hari pertama. Sebelumnya kami telah dibagi ke dalam kelompok dan om Imam memberi kami tugas untuk membuat karya kolaborasi yang akan ditampilkan di hari kedua.


credit to: Narasi 


Creating Good Content through Collaboration and Community

credit to: Narasi
Hari kedua tidak kalah serunya. Pagi-pagi kami sudah dibuat semangat dengan kehadiran Najwa Shihab. Dia berkeliling ruangan menyalami peserta satu per satu. Ya ampun, mbak Nana, udah ngadain acara sekeren ini, eh sekarang malah dia juga yang nyalamin peserta satu per satu hahaha.

Mbak Nana sharing tentang pengalamannya membangun Narasi. Startup ini bertabur anak-anak muda kreatif yang tidak pernah lelah belajar. Semangat belajar inilah yang juga selalu dirawat oleh mbak Nana. Di posisinya yang sekarang, dia mengaku tak pernah bosan untuk mempelajari hal baru. Karena pengetahuan selalu berkembang.
"Konten yang menarik adalah konten yang orisinil dan berbeda." - Najwa Shihab
Pokoknya kalau kamu mau berkarya, kamu harus mengonsumsi lebih banyak karya orang terlebih dahulu. Jadi wajar saja konten-konten Narasi selalu segar.  Mbak Nana juga membagi tips bagaimana cara mencari ide yang orisinil. Jawabannya adalah perbanyak membaca dan berimajinasi. 

Kalau sudah dapat kontennya, gimana cara menyampaikannya pada target audiens kita? kalau mbak Nana sih menyarankan untuk menggunakan hype yang sedang terjadi dan gunakan pendekatan yang relate dengan keseharian audiens. 

Journey of a Story

Pemateri terakhir dari workshop ini adalah Agustinus Wibowo, dan saya tidak bisa kalem. Bagaimana tidak, dia adalah penulis yang karya-karyanya saya ikuti. Mulai dari Selimut Debu, Garis Batas, hingga Titik Nol. 

Melalui tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, ungkapan dari Mason Cooley yang berbunyi "Membaca memberikan kita sebuah tempat untuk pergi ketika kita tidak bisa pergi ke mana-mana" jadi benar adanya. Senang sekali bisa diajari menulis secara langsung oleh orang yang karyanya berpengaruh terhadap diri saya. 
"Jalan-jalan bukan lagi tentang tempat, tapi keluar dari zona nyaman. Perjalanan membantu kita melihat sesuatu secara subjektif." - Agustinus Wibowo
Saya sering kagum dengan penulis yang mampu menyampaikan fakta yang enak dibaca. Dan beruntungnya, Agustinus Wibowo memberikan tips agar kami bisa menulis fakta dengan cara yang asik, yaitu menulis nonfiksi kreatif. Di mana fakta digabungkan dengan cerita. 

Tapi sebelumnya kita harus membuat peta memori yang terdiri dari lokasi, kejadian, pengamatan, dan perasaan. Setelah itu barulah membangun kerangka tulisan berdasarkan topik dan premis. Singkatnya materi yang diberikan sangat penting sebagai input bagi perkembangan menulis saya.  


credit to: Narasi

Terima Kasih Narasi

Untuk melengkapi catatan panjang ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada tim Narasi yang sudah membuat acara sekeren ini. Terima kasih atas kesempatan belajarnya, atas kesabarannya selama acara. Terima kasih untuk merchandisenya yang ucul-ucul hahaha. Dari acara ini saya jadi kenal lebih banyak teman-teman content creator yang menginspirasi dengan karyanya masing-masing. Selamat menginjak 2 tahun juga btw. Tetap mencerahkan, tetap bertabur anak muda. 

Dan untuk teman-teman peserta Narasi Content Creator Workshop 2019, kalian balak! Semoga selalu gembira dalam berkarya. Seperti yang mbak Nana bilang, manfaatkan kesempatan ini untuk berkolaborasi. Semoga kita bisa kerjasama dan menghasilkan konten positif yang mampu mengangkat lokalitas kita. Senang bisa bertemu kalian. Kini saatnya saya kembali ke pedalaman Kapuas Hulu, bertemu dengan beragam jenis serangga di tengah hutan heee. Akan banyak catatan yang saya bagikan di sini. Semangat selalu dalam karya hidup kita ya, teman-teman!



This entry was posted in