Selasa, Juli 19, 2022

Lagu "Dengar Alam Bernyanyi" Temani Perjalanan Menembus Jantung Kalimantan

Pada suatu siang saat menyusuri Danau Sentarum/ dok.pribadi

Selalu bingung hendak memberi respon apa saat ada teman yang bilang "seru ya kerja lapangan, jalan-jalan terus," karena sebenarnya, kalau terlalu sering di lapangan juga jadi hilang sensasi serunya. hehe. Ibaratkan menyantap menu makanan yang itu-itu saja, meski lezat akan jadi biasa saja. Tapi karena sudah berkomitmen dan ada tanggung jawab yang diemban, sebisa mungkin aku mencari celah agar pekerjaan di lapangan terasa menyenangkan.

Tiga hal sederhana ini ternyata berpengaruh banget untuk mood saat melakukan pekerjaan di lapangan

1. Buku

Si teman setia untuk menunggu. Berbeda dengan gadget yang perlu diisi ulang dayanya, buku adalah benda yang selalu on. Kita bisa kehabisan batrai handphone tapi tidak ada batas penggunaan untuk buku. Jadi aku selalu membekali diriku dengan buku bacaan setiap kali melakukan filed trip. Buku tidak hanya memberi informasi baru, tapi mampu menghadirkan perasaan tenang saat tenggelam di lembarannya.

2. Camilan

 "There ain’t no such thing as wrong food" tulis Sean Stewart. Dan aku sangat setuju itu, no debat. Makanan selalu berhasil mengembalikan mood, jadi aku tak pernah keberatan untuk merepotkan diri membawa camilan kesukaanku yang tidak sedikit jumlahnya.

3. Playlist lagu

Ada sesuatu tentang musik yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Musik itu ajaib, kekuatannya seperti sihir yang mampu mendorong perasaan kita. Aku memiliki daftar lagu untuk menemani -hampir- semua aktivitasku, misalnya saat bersih-bersih kamar, memasak di dapur, saat mandi, saat menunggu seseorang, atau saat berada dalam sebuah perjalanan. Lagu-lagu ini membuat perasaanku jadi lebih lega, ringan, dan bebas.

"Dengar Alam Bernyanyi" Temani perjalanan menembus Jantung Kalimantan

Suasana sekitar desa penyangga kawasan HoB di lintas timur Kapuas Hulu/ dok.pribadi

Ada satu lagu yang ingin kuceritakan kali ini, sebuah lagu dari Laleilmanino yang menjadi moodboosterku saat melakukan field trip. Untuk membawakan lagu ini, Laleilmanino berkolaborasi dengan beberapa musisi di dunia seni yang punya kepedulian terhadap alam, yaitu Chicco Jerikho, Sheila Dara, dan HIVI!. Judul lagunya adalah Dengar Alam Bernyanyi, lagu ini sering aku dengarkan sejak dirilis tanggal 22 April lalu bertepatan dengan peringatan Hari Bumi.

Aku senang mendengarkannya karena lagu Dengar Alam Bernyanyi memiliki komposisi musik yang ringan, nada-nadanya riang dan liriknya penuh makna. Tempatku bekerja merupakan kawasan penyangga Herat of Borneo, desa yang kami dampingi berada di kawasan Hutan Lindung sehingga secara infrastruktur kondisinya tidak berkembang. Akses jalan sangat menantang, menguras energi dan emosi. Agar mood tetap bagus, aku memilih memutar lagu-lagu favorit setibanya di desa, salah satunya adalah Dengar Alam Bernyanyi.

Liriknya yang ceria mampu menularkan energi positif, aku jadi bersyukur diberi kesempatan untuk datang sejauh ini dan menjadi pendamping di desa ini. Ada banyak asa dan harapan masyarakat untuk sejahtera dari hutan yang mereka jaga.

Mood seketika membaik dan semangat kembali, lirik “Pandanglah indahnya biru yang menjingga. Simpanlah gawaimu hirup dunia. Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada. Dengar alam bernyanyi...," bergema di kepala menemani perjalanan menyusuri Jantung Kalimantan.

Lirik ini seakan mengajak kita untuk keluar, jalan-jalan menikmati alam, menghirup udara segar dan merasakan hangatnya mentari. Kamu juga harus mendengarkan lagu ini ya supaya bisa merasakan sihirnya, lagunya sudah tersedia di semua layanan streaming musik.

Misi Sebuah Lagu



Selain menawarkan musik yang easy listening, lagu Dengar Alam Bernyanyi layak untuk didengarkan karena sebagian royaltinya akan disumbangkan untuk mendukung konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan. 

Ini mengingatkanku pada pernyataan Victor Hugo tentang musik, "Musik mengekspresikan apa yang tidak dapat diucapkan dan yang tidak mungkin untuk didiamkan," lewat bermusik, musisi-musisi yang terlibat dalam lagu Dengar Alam Bernyanyi mencoba mengajak pendengar untuk meningkatkan kepedulian terhadap ekologi. Hal ini disampaikan dengan ceria, seperti seorang guru yang ramah.

Isu ekologi merupakan isu yang tidak bisa didiamkan saat ini, kita semua sedang menghadapi perubahan iklim. Berbagai upaya mitigasi telah dicanangkan dan sedang diusahakan, tidak ada kata terlambat untuk ikut terlibat. Kita bisa mulai dari hal sederhana yang paling mudah untuk kita lakukan, misalnya dengan menambahkan lagu Dengar Alam Bernyanyi ke dalam playlist lagu dan mulai mendengarkannya sesering mungkin.

Dengan mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi, secara tidak langsung kita sudah turut mendukung upaya konservasi dan restorasi di Kalimantan, di mana peranan konservasi dan restorasi sangat penting saat kita bicara tentang isu perubahan iklim. Pokoknya respect deh untuk Laleilmanino. 

Kira-kira begitulah cerita tentang lagu dan perjalanan kali ini. Kalian bisa mengikuti perjalananku untuk memahami isu lingkungan dengan membaca tulisan-tulisanku yang lain. Cek tagar #EcoBloggerSquad #EBS2021 atau klik Lingkungan di bagian menu. Sampai jumpa!

Senin, April 18, 2022

Keanekaragaman Hayati : Dari Ketahanan Pangan Hingga Inspirasi dalam Berkarya


"Kita beragam, bukan seragam" Mungkin kalimat ini sudah begitu familiar di telinga teman-teman, apalagi jika bicara soal budaya Indonesia yang sangat kaya. Kenapa ya kita bisa dengan mudah menerima kalau budaya kita beragam, tapi begitu sulit ketika keberagaman ini dibawa ke ranah lingkungan?

Coba perhatikan bagaimana lahan yang dipenuhi aneka tumbuhan diubah menjadi tanaman monokultur skala besar, atau makanan pokok kita yang digantungkan hanya pada satu jenis tanaman saja padahal kita tahu ada banyak tanaman penghasil karbohidrat di sekitar kita. 

Pada online gathering #EcoBloggerSquad kali ini kami banyak membahas tentang keanekaragaman hayati. Pematerinya adalah Ibu Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI. Aku jadi tahu kalau Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati kedua terbesar di dunia setelah Brasil.

"Keanekaragaman hayati ini adalah masa depan dunia, terutama di bidang pangan dan obat-obatan," kata Ibu Rika. Keanekaragaman pangan di Indonesia luar biasa lho. Ada 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, hingga 110 jenis rempah dan bumbu.

Dengan keanekaragaman pangan ini seharusnya tidak ada masalah stunting. Hanya saja negara kita memiliki catatan merah dalam penanganan persoalan pangan. Ketika rezim orde baru berkuasa, pemimpin negara mengeluarkan kebijakan politik yang tidak berpihak pada keanekaragaman jenis tanaman pangan, hal ini membuat penduduk terpaksa menanam dan mengonsumsi beras. 

Karena Indonesia ini luas, beberapa wilayah memang tidak cocok ditanami padi. Ada daerah yang dulunya mengonsumsi umbi-umbian, sagu, atau sorgum sebagai makanan pokok. Di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur misalnya. Di sini Yayasan KEHATI mengangkat kembali komoditas sorgum sebagai tanaman penghasil karbohidrat. Sorgum dapat tumbuh dengan baik di lahan kering seperti Pulau Flores, dan secara  historis memiliki akar budaya yang kuat dengan masyarakat lokal.

Populasi dunia saat ini diperkirakan lebih dari 7.8 milyar orang dan 273 juta adalah penduduk Indonesia. Tahun 2050 diperkirakan mencapai 9.7 milyar dan 321 juta adalah penduduk Indonesia. Sektor pertanian menjadi tumpuan untuk penyediaan pangan di seluruh dunia.

Kita hanya bisa berharap agar arah kebijakan pangan tidak meninggalkan pangan lokal dan tidak hanya mengutamakan kepentingan program semata. Jangan sampai kita jadi korban tagline "control food, control the people"

Keanekaragaman Hayati Sumber Inspirasi dalam Berkarya

Motif kerajinan yang terinspirasi dari buah / Dwi Prasetyo


Selain soal pangan, yang menarik dari keanekaragaman hayati adalah daya magisnya yang mampu menginspirasi ribuan umat manusia untuk berkarya. Ini adalah salah satu hal yang membuatku takjub dengan alam. Kenekaragaman hayati di sekitar kita memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah manfaat sosial yang menunjang kebudayaan. 

Ini bisa dilihat pada motif-motif yang terdapat pada batik, tenun, ataupun anyaman. Inspirasi hadir dari aneka jenis tumbuhan ataupun hewan, misalnya saja pada motif tenun Iban yang sering terinspirasi oleh tumbuhan pakis, anak bambu, atau binatang seperti buaya. Ada juga motif kerajinan tangan yang sering kutemui di sekitarku, yaitu palao'an, wadah untuk menyimpan benih padi yang akan ditanam. Motifnya terinpirasi dari beragam tumbuhan mulai dari bagian batang, buah, hingga dedaunan. Kalau ditelisik lebih dalam, masing-masing motif memiliki makna berbeda.

Keanekaragaman hayati juga jadi inspirasi dalam seni rajah tubuh. Misalnya tato Bunga Terong (bunga terung) dalam masyarakat Dayak Iban. Atau jadi inspirasi untuk seni ukiran dan pahat. Contohnya orang Tamambaloh yang menghiasi Sao Langke (rumah komunal) dengan ukiran naga atau burung enggang. 

Lambang negara kita juga terinpirasi dari keanekaragaman hayati yang kita punya lho, yaitu burung garuda yang merupakan jenis Elang Jawa. Selain Indonesia, negara apa lagi ya yang menggunakan keanekaragaman hayati sebagai lambang? jawab di kolom komentar ya.

Ancaman Keanekaragaman Hayati, Bersiap untuk Kehilangan yang Lebih Besar

Selain sebagai sistem penunjang kehidupan, kenekaragaman hayati yang ada di sekitar kita juga memiliki  manfaat sebagai jasa lingkungan, ekonomi, dan sosial. Karena manfaatnya yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia, isu ancaman keanekaragaman hayati jadi perlu diperhatikan juga.

Ketika keanekaragaman hayati mengalami kerusakan, dampaknya berbahaya bagi kehidupan kita. Kita terancam krisis pangan, air bersih, termasuk ekonomi. Saat ini perubahan iklim dan pemanasan global yang disebabkan gas rumah kaca turut mengancam keanekaragaman hayati, misalnya di laut. Beberapa kerusakan terumbu karang telah terjadi dan kita sepertinya harus bersiap menghadapi lebih banyak kehilangan keanekaragaman hayati jika tidak melakukan mitigasi perubahan iklim.

Perubahan iklim juga membuat beberapa tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik, bahkan petani akan mengalami penurunan panen sebesar 10% untuk setiap kenaikan sihi satu derajat celcius suhu rata-rata. Nelayan juga akan menanggung resiko besar, tangkapan ikan akan menurun karena banyak jenis ikan yang bergeser mencari iklm yang lebih sejuk.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? mungkin bisa dimulai dengan melakukan hal kecil di lingkungan terdekat, seperti lingkungan rumah. Tindakan sehari-hari yang kita lakukan sebagai masyarakat bisa membawa perubahan besar jika dilakukan secara serentak. Dan tentu saja kita perlu pemimpin politik yang berpihak pada keadilan dan ekologi.




Kamis, Maret 31, 2022

Plastik dan Budaya Kita

foto: teamupforimpact.org

Supaya konsisten dengan tekad mengubah gaya hidup lebih ramah lingkungan, tahun 2022 akhirnya aku memilih untuk ikutan challenges di teamupforimpact.org. Di sini peserta diajak melakukan hal-hal sederhana untuk lingkungan. Kali ini aku memilih tantangan tidak membeli makanan atau minuman dalam kemasan. Dan aku ingin cerita tentang alasanku memilih tantangan ini.

Plastik di Sekitar Kita

foto: Merdeka.com/Ivu Fajar

Sejak kecil kita sudah terbiasa disodori kantong plastik ketika berbelanja, mata kita juga akrab dengan sampah plastik yang berserakan begitu saja bahkan kadang berbentuk gundukan warna warni di tempat pembuangan sampah pinggiran kota. Ketika dewasa kita mulai sering mendengar berita banjir karena parit dan selokan tak berfungsi akibat sumbatan sampah plastik, atau sungai dan laut yang tercemar oleh plastik sehingga mengancam ekosistem di sana, bahkan sampah plastik berdampak terhadap perubahan iklim.

Mengutip pernyataan dari situs resmi Kementrian Lingkungan Hidup “Kantong plastik adalah salah satu penyebab utama perubahan iklim. Karena sejak proses produksi hingga tahap pembuangan dan pengelolaan, sampah plastik mengemisikan banyak gas rumah kaca ke atmosfer.”

Meski demikian kantong plastik tetap digemari, karena tidak hanya praktis namun juga terjangkau oleh masyarakat. Tapi segala sesuatu memang harus seimbang ya, termasuk ketika menggunakan plastik. Saat ini pembuangan dan pengelolaan plastik membuat banyak orang khawatir.

Ingatkah kamu dengan paus mati yang tedampar di Wakatobi dan di dalam perutnya terdapat sampah plastik? Kasus ini hanya satu di antara sekian banyak kejadian yang seharusnya bisa jadi trigger agar kita lebih bijaksana ketika mengelola sampah plastik. 

Tahun 2021 CNN Indonesia memuat berita tentang sampah nasional yang mencapai 68,5 juta ton, di mana 17 persen atau sekitar 11,6 juta ton disumbang oleh sampah plastik. Penimbunan sampah plastik ini terus meningkat sejak tahun 2010. Dan menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang ingin praktis. 

Plastik yang dulunya diciptakan karena keprihatinan terhadap lingkungan justru menjelma jadi momok menakutkan bagi planet ini. Dan kita tak bisa lepas tangan begitu saja. Di tempat perbelanjaan, kantong plastik berpindah tangan dengan cepat dari penjual ke pembeli dan bisa berakhir di mana saja, entah di pinggir jalan, selokan, atau di leher penyu. 

Sebagai konsumen kita bisa memulai kebiasaan sederhana untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Misalnya dengan membawa tempat makan dan botol minum sendiri saat jajan, menggunakan tas belanja sendiri, dan menggunakan sedotan bambu atau sedotan stainless. Apakah ini akan mengurangi sampah plastik? Tentu iya jika dilakukan bersama-sama. Apakah ini mudah untuk dilakukan? Tentu tidak, karena namanya juga memulai kebiasaan baru.

Kearifan Lokal dalam Mengurangi Sampah Plastik

foto: Instagram @rumahjambee


Karena aku mengikuti tantangan untuk tidak membeli makanan atau minuman dalam kemasan aku jadi tertarik untuk mencoba cara yang sering dilakukan nenek ketika membawa bekal ke ladang. Aku memilih menggunakan pelepah pinang sebagai wadah makananku.

Di tempatku ada sungai yang menyenangkan untuk dikunjungi, yaitu Sungai Embaloh. Tempatnya tenang, air jernih mengalir, sungai panjang membentang dengan hamparan batu yang berwarna kelabu maupun oranye. Aku lumayan sering pergi ke sini, sendiri atau beramai-ramai. 

Dari sungai ini juga peradaban kami dibangun, sebagai orang yang bersuku Tamambaloh aku sangat menghargai sungai ini. Karena itu sebisa mungkin aku tidak ingin meninggalkan jejak sampah saat berkunjung. Kali ini aku membawa wadah makanan dari pelepah pinang dan botol air untuk menyimpan minumanku.

Pelepah pinang adalah kearifan lokal yang dimiliki masyarakat nusantara. Sejak dulu nenek moyang kita membawa bekal dengan pelepah pinang yang telah dikeringkan dan dikupas kulitnya. Tekstur kulit pelepah pinang tidak tembus air dan mampu menahan makanan tetap hangat untuk waktu yang lama. 
Dari sisi kesehatan, pembungkus makanan dari pelepah pinang lebih aman dibanding stirofoam yang mengandung zat stirena, zat ini berbahaya bagi kesehatan. Dari segi lingkungan, pelepah pinang juga lebih aman karena bisa terurai. Berbeda dengan plastik yang memerlukan waktu hingga 1000 tahun (tergantung jenis plastik) untuk terurai dan stirofoam yang tidak bisa terurai secara alami.

Aku merasa kalau budaya yang kita miliki sebenarnya sudah mengandung prinsip-prinsip ramah lingkungan. Membawa bekal dengan wadah makanan dari pelepah pinang atau air di dalam tabung bambu hingga membawa sendiri keranjang saat berbelanja ke pasar. Gaya hidup yang dipandang kolot dan kampungan itu sebenarnya jauh lebih bijaksana dibanding budaya hidup modern yang serba praktis dan cepat berubah, yang membuat manusia jadi konsumtif. Lantas masihkan kita bertanya-tanya darimana lahirnya budaya menghasilkan sampah ini. 

Ini membuatku teringat pada ucapan seseorang yang aku wawancara bulan Januari lalu. Budaya bukanlah sesuatu yang beku, budaya itu cair, dari masa lalu bisa dibawa ke masa depan. Dalam konteks gaya hidup dan lingkungan, kita mungkin perlu menyelami lebih dalam budaya kita dan membawa nilai-nilai yang perlu untuk masa ini dan masa yang akan datang.  

Pada akhirnya pilihan untuk menjalani hidup tergantung pada masing-masing manusia. Kita yang sama-sama berada di bawah langit ini memiliki kesempatan hidup yang sama, hanya satu kali. Bagaimana kita akan menggunakan kesempatan ini?

Tantangan dari teamupforimpact.org yang aku pilih kali ini membawa refleksi yang amat dalam tentang gaya hidup dan budaya yang membentukku hingga hari ini. Plastik hadir di kehidupan kita dalam berbagai rupa, jadi tidak mungkin menghapuskan semua penggunaannya. Yang bisa kita lakukan adalah membatasi dan memilih. Kamu mungkin punya cara lain untuk mengurangi penggunaan plastik, ceritakan di kolom komentar ya!

Senin, November 29, 2021

Plus Minus Serta Peluang dan Tantangan Penggunaan Biodiesel di Indonesia

 

Minyak kelapa sawit sebagai bahan baku utama biodiesel di Indonesia. Foto: Antara/ Akbar Tado

Kita seringkali mendengar kata “biodiesel” tapi pernahkah mencari tahu sebenarnya itu apa sih? dan bagaimana peluang serta tantangannya di Indonesia?

Yuk ikuti obrolan tentang biofuel ini bersama Kukuh Sembodho dari Yayasan Madani Berkelanjutan dan Ricky Amukti dari Traction Energy Asia.

Sekilas tentang Biofuel atau Bahan Bakar Nabati

Sebelum bicara biodiesel sebaiknya kita bahas biofuel dulu yah. Biofuel ini dialihbahasakan menjadi Bahan Bakar Nabati (BBN) yaitu bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan nabati atau organik. Berdasarkan kualifikasinya ada tiga generasi bahan bakar nabati, yaitu:

Generasi pertama berasal dari turunan pertama tanaman pangan.
Generasi kedua berasal dari turunan tanaman pangan atau tumbuhan non pangan.
Generasi ketika diperoleh dari mikroalgae dan sejenisnya.

Turunan  BBN bermacam-macam, satu di antaranya adalah biodiesel, jenis yang satu ini selalu tersedia di POM Bensin. Di Indonesia penggunaan Biodiesel sudah lama dirancang. Tahun 2006 pemerintah Indonesia menginsiasi Program BNN lewat KEN, Inpres 1 Tahun 2006, dan Timnas BBN. Kemudian tahun 2008 roadmap BBN dibuat, dan mulai tahun 2015 dibuatlah target B30 lewat Permen ESDM No.12 Tahun 2015. Artinya dalam tiap 100 liter bahan bakar ada 30 liter bahan nabati dan 70 liter bahan minyak. Perlu penerapan bertahap untuk menuju B100.

Sampai saat ini biodiesel Indonesia masih menggunakan bahan baku tunggal yaitu minyak kelapa sawit (CPO). Kukuh Sembodho menyampaikan bahwa saat ini PT Pertamina sebagai BUMN yang melaksanakan mandatory biodiesel belum mewajibkan pemasoknya memiliki sertifikasi berkelanjutan.

Plus Minus Penggunaaan Biodiesel di Indonesia


Ternyata penerapan B30 menjadi strategi untuk menurunkan emisi di Indonesia, hal ini muncul dalam dokumen NDC tahun 2016 dan 2021. Sudah tahu apa yang ganjil?

ICCT 2021 menyebutkan bila dibandingkan dengan solar biasa, biodiesel kelapa sawit bisa memperbaiki emisi HC (Unburned Hydrocarbons) sebesar 20%, Karbon Monoksida (CO) sebesar 25%, dan Particulate Matter (PM) sebesar 43% untuk scenario B100.

Namun biodiesel sawit diperkirakan meningkatkan emisi Nitrogen Oksida sebanyak 0,8% setiap 10% bauran dibandingkan dengan solar biasa, baik pada mesin kendaraan lama maupun baru dan efeknya lebih terasa pada kendaraan baru dan bahan bakar dengan kandungan sulfur rendah.


Nah lho… Jangan sampai kebijakan BBN ini justru berdampak pada ekspansi lahan besar-besaran. Karena hingga saat ini sektor penyumbang gas rumah kaca di Indonesia adalah sektor lahan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu faktor utama.

Keselarasan BBN dengan komitmen iklim tidak hanya dilihat apakah BBN dalam penggunaannya menghasilkan lebih banyak emisi atau sedikit, tapi juga memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkan secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Sangat dilematis kan? Jadi rekomendasinya apa dong?

Menurut Madani ini prasyarat jika ingin membuat biodiesel sebagai Bahan Bakar Nabati:

1.  Disverifikasi feedstock (bahan baku)

Pemerintah mulai melakukan disverifikasi bahan baku misalnya tumbuhan lain seperti jarak pager. Disverifikasi bahan baku juga bisa mengurangi dilema food vs fuel. Kita tidak perlu rebutan lagi minyak kelapa sawit untuk makan atau bahan bakar.

2. Peningkatan produktivitas feedstock

Penggunaan bahan baku kelapa sawit dilakukan karena paling banyak dan mudah ditemukan. Namun produktivitas perkebunannya masih rendah, untuk meningkatkannya perlu dukungan teknologi yang mumpuni. Daripada memperlebar luas perkebunan lebih baik meningkatkan produktivitas.

3. Peningkatan ketelusuran feedstock

Aspek ini belum dipenuhi oleh PT Pertamina sehingga kita tidak dapat memastikan sumber biodiesel dari mana. Ketelusuran feedstock ini bisa dimulai dari RSPO/ISPO.

Peluang dan Tantangan Penggunaan Biodiesel

Menurut Ricky Amukti dari Traction Energy Asia, penggunaan biodiesel sebenarnya bisa jadi peluang bagi perekonomian petani sawit mandiri atau swadaya. Dari keseluruhan kebun kelapa sawit, 40 persen dimiliki oleh petani swadaya atau pekebun mandiri.

Karena itulah pekebun swadaya perlu menjadi bagian dari rantai pasok biodiesel. Namun panjangnya rantai pasok membuat posisi mereka terjepit. Sehingga ketika korporasi dan perusahaan mendapatkan manfaat dari biodiesel, petani  hanya kebagian remah-remahnya saja.



Memang benar harga tandan  buah segar (TBS) jadi naik karena adanya kebutuhan biofuel tapi panjangnya rantai pasok tidak membuat pendapatan petani meningkat secara maksimal seperti korporasi atau perusahaan besar. Karena bagi petani sawit mandiri , semakin rantai pasoknya panjang, semakin sedikit untung yang diperoleh.

Jadi solusinya gimana dong?

Menurut Ricky, masalah rantai pasok ini bisa saja diatasi seandainya Kementrian ESDM  mengeluarkan aturan yang mewajibkan BBN berasal dari CPO perusahaan kelapa sawit yang bermitra dengan petani swadaya.

Solusi lainnya adalah memanfaatkan minyak goreng jelantah. Ya! Betul! kalian tidak salah baca. Minyak goreng jelantah ternyata punya peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel sayangnya belum dilirik pemerintah, saat ini penggunaannya masih skala komunitas kecil.


Begitulah bincang-bincang ringan bersama dua narasumber Eco Blogger Squad kali ini. Setelah tahu plus minus dan peluang serta tantangan penggunaan biodiesel di Indonesia kamu tambah optimis menuju Indonesia yang lebih bersih atau tambah overthingking? hehe

Rabu, Oktober 20, 2021

Perubahan Iklim dan Empati Kemanusiaan

 

Awal Oktober ini aku sempat membaca kabar sedih dari seberang, tentang seorang petani di Pegunungan Kendeng, Jawa tengah yang memilih bunuh diri dengan menenggak racun di tengah sawah. Sumber informasi menuliskan alasannya karena gagal panen. Tanaman jagung yang telah dibiayai jutaan rupiah tidak kunjung tumbuh akibat kemarau panjang. 

Sementara di sini banjir mampir berkali-kali. Fenomena alam yang sangat asing bagi nenek dan kakek saya yang sudah hidup 80 tahun lebih. Ladang dan kebun tertutup air, padi dan sayuran mati karena terendam air berhari-hari. Ini membuatku berpikir, jika hari ini petani di seberang yang putus asa, besok lusa tak menutup kemungkinan kita mengalami hal serupa.

Perubahan iklim kembali menjadi topik pembahasan kami pada saat online gathering Eco Blogger Squad pada Jumat 15 Oktober yang lalu. Kali ini narasumber kami adalah Anggalia Putri Permatasari. Beliau adalah Knowledge Management Manager Yayasan Madani Berkelanjutan.

Dan tahukah kamu jika perubahan iklim bisa memicu stress? "Climate change is causing distress, anger and other negative emotions in children and young people worldwide (16-25 yo)" begitulah yang dikutip dari Nature.com ini adalah hasil penelitian yang melibatkan 10.000 anak muda. Kata-kata itu bukan sebuah kalimat semata, menurutku ini warning bagi kita semua.

Apalagi kak Anggi membagikan laporan terbaru yang dirilis oleh The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menyatakan bahwa pada dua dekade ke depan, diperkirakan Bumi akan mengalami kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius atau bahkan lebih. 1.5 derajat celcius ini adalah batas aman, kalau lebih dari itu bencana alam yang terjadi bisa semakin parah dibanding yang terjadi saat ini. Tugas kita bersama adalah untuk menjaga agar suhu Bumi tetap stabil di 1.5 derajat celcius. 

Climate Risk Country Profile: Indonesia, WBG menyebutkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di Indonesia berupa bencana banjir dan kekeringan, kenaikan muka air laut, perubahan pola curah hujan, dan kenaikan suhu. PDB akan hilang 2,5-7% pada 2100 karena krisis iklim dan kelompok termiskin akan terkena dampak paling berat. Poin terakhir sungguh membuat nelangsa. 

Selain kelompok miskin, aku juga ingin mengajak teman-teman melihat dampak perubahan iklim bagi masyarakat adat di pedalaman Kalimantan. Aku sering mendengar piang (nenek) mengoceh kalau jaman (musim) ini semakin berubah. Dia yang sudah hampir 80 tahun mengaku tak bisa lagi membaca musim.

Kekeliruan membaca musim ini lebih parah dialami generasi di bawahnya. Tahun lalu ada satu kampung yang sebagian besar warganya tidak membakar ladang karena terlalu lama menunggu musim panas tiba. Mereka seperti sepasang ABG yang menunggu waktu yg tepat namun waktu itu tak kunjung tiba. Akibatnya mereka nyaris gagal panen, padi tak tumbuh subur. Perubahan iklim itu nyata, keberadaannya seperti hantu yang tak terlihat.


Buat yang belum tau, penyebab perubahan iklim itu adalah meningkatnya emisi karbon. Di Indonesia emisi terbesar bersumber dari hutan dan lahan, dan akan disusul oleh sektor energi batubara. Untuk mengatasi ini kita perlu perubahan sistemik. Pemerintah harus berkomitmen menurunkan resiko perubahan iklim serendah mungkin. Madani Berkelanjutan memberi beberapa rekomendasi, yaitu:

  1. Stop penggunaan batubara dan beralih ke energi bersih terbarukan 
  2. Lindungi hutan alam yang tersisa dan tekan deforestasi
  3. Jangan buka gambut dan cegah karhutla
  4. Restorasi dan rehabilitasi ekosistem alam, termasuk hutan mangrove, gambut
  5. Adaptasi terutama untuk kelompok rentan


Namanya perubahan sistemik tentu tak mudah, namun bukan berarti tidak bisa diusahakan. Kita sendiri bisa mencoba untuk memperbaiki gaya hidup kita misalnya. Mungkin bisa dimulai dengan menjadi orang yang tahu kapan harus merasa cukup, tidak rakus, hemat, dan hidup sederhana. hehe

Lha kok jadi penuh pesan-pesan moralis? ya iyalah soalnya kerusakan alam ini hadir karena hawa nafsu manusia yang tak pernah merasa cukup. Para pemilik modal yang menumpuk kekayaan dan selalu ingin mengakumulasinya. Perubahan iklim ini harusnya mengetuk hati orang-orang rakus yang mengubah sawah jadi tambang, atau hutan jadi kebun sawit. Harusnya mereka memiliki empati terhadap kemanusiaan. 

Rabu, Agustus 11, 2021

Dampak Kerusakan Lahan Gambut, #dirumahaja Jauh Sebelum Covid-19 Melanda

Petugas pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api di lahan gambut yang terbakar/ Claudia Liberani

Tahun 2015 saya sedang di Pontianak saat karhutla hebat terjadi. Kota itu dikepung asap yang mengganggu aktivitas harian warga, penerbangan ditutup, rumah sakit penuh karena penderita ISPA meningkat, dan  aktivitas belajar diliburkan selama dua minggu. Baru kali itu saya ketakutan bernapas. Di luar rumah jarak pandang sangat pendek, bahkan mata terasa perih, dan kondisi itu berlangsung lama sekali. Aku bertanya-tanya mengapa asap itu lama sekali tidak hilang.

Bencana asap itu menjadi pengalaman yang membuat saya cukup simpati pada korban bencana alam, apapun bentuknya. Sejak itu juga saya jadi lebih peduli dengan isu lingkungan. Karena jujur saja di tempat saya berasal, kondisi udara, air, tanah atau makanan tidak buruk dan sumber daya itu belum pernah menjadi rebutan sehingga bayang-bayang bencana sangat jauh dari pikiran saya.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti pertemuan daring Eco Blogger Squad yang menghadirkan Koordinator Nasional Pantau Gambut, ola Abas  dan Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Dr. Herliana Agustin. Keduanya memberikan informasi mengenai potensi keanekaragaman hayati di lahan gambut dan ancaman apa yang kita hadapi akibat rusaknya lahan gambut.

Lahan gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk selama ribuan tahun. Gambut memiliki karakteristik berbeda dari tanah mineral pada umumnya baik itu dari sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Idealnya karakteristik gambut adalah basah dan mengandung banyak karbon di bawahnya.

Tingkat kedalaman gambut menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Di wilayah pinggiran Pontianak, Kalimantan Barat masyarakat mengolah lahan gambut untuk ditanami lidah buaya. Jenis tanaman ini cocok dengan kondisi gambut di sana. Jadi kalau ingin mengolah lahan gambut harus diteliti dulu supaya kita bisa tahu jenis tanaman apa yang cocok untuk dikembangkan. Karena itulah pengolahan tanah gambut mahal dan tidak murah.

Lahan gambut memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai penyimpan air sehingga bisa mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau, sebagai perlindungan keanekaragaman hayati, cadangan karbon, dan penunjang perekonomian masyarakat lokal.

Luas lahan gambut Indonesia merupakan terbesar ke 4 di dunia dengan luas 15-20 juta Ha sehingga lahan gambut Indonesia penting bagi dunia karena menyimpan setidaknya 53-60 miliar ton karbon. Namun semakin tahun luasan lahan gambut Indonesia mengalami penurunan. Seperti yang disampaikan Ola, pada tahun 2019 luas lahan gambut Indonesia sebesar 13,43 juta ha turun 1,5 juta ha dibandingkan tahun 2011 yakni 14,93 juta ha. Pengurangan ini disebabkan alihfungsi lahan gambut dengan dalih ketahanan pangan dan perkebunan. Prosesnya dilakukan dengan mengeringkan lahan gambut.

Padahal gambut yang terlalu kering bisa kehilangan kemampuannya dalam menyerap air sehingga sangat sensitif. Api kecil bisa memicu kebakaran besar dan api tersebut susah dipadamkan. Meski api di permukaan sudah padam, bukan berarti api di lapisan dalam turut padam. Api ini bisa terus menjalar dari dalam hingga kebakaran meluas. 

Saat lahan gambut terbakar dampaknya tidak hanya dirasakan manusia. Bukan hanya kualitas hidup kita yang menurun, tapi juga ekosistem jadi rusak, dan keanekaragaman hayati terancam. Karena lahan gambut Indonesia menjadi rumah bagi 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan. Dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia, 13%-15% terdapat di sini. 

Tahun 2015 lalu, menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luasan hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2,61 juta hektar di mana 33 persen atau 869.754 hektar dari total cakupan karhutla terjadi di lahan gambut dengan total kerugian Rp 211 triliun. Kejadian ini memperburuk citra Indonesia di mata dunia.

kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah / Bjorn Vaughn Haze


Akibat lain yang akan dituai jika lahan gambut rusak adalah banjir. Bagi masyarakat di daerah aliran sungai dampak ini sangat terasa. Hujan sedikit langsung banjir, ini mengancam pertanian masyarakat sekitar. Selain itu kebakaran lahan gambut menjadi momok menakutkan bagi dunia karena dapat mempercepat laju perubahan iklim akibat tersebarnya asap, emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara. Karena itulah pengelolaan lahan gambut ini sangat dilematis. 

Indonesia pernah punya pengalaman buruk soal pengelolaan lahan gambut di era orde baru. Tahun 1995 pemerintah membuat proyek pengembangan lahan gambut satu juta hektar di Kalimantan Tengah menjadi lahan penanaman padi. Proyek tersebut gagal total, gambut yang dikeringkan berlebihan menjadi rusak sehingga padi tak bisa tumbuh. Pada musim kemarau gambut menjadi kering sehingga memicu kebakaran.

Kegagalan ini membayang-bayangi masyarakat sehingga proyek food estate di era Jokowi yang dilaksanakan di lahan gambut Kalimantan Tengah banyak menuai kritik. Ya masa kita mau mengulang kesalahan dan tidak belajar dari masa lalu, kan.

Pantau Gambut menawarkan solusi untuk masalah lahan gambut di Indonesia dengan melindungi yang tersisa dan memulihkan yang rusak dengan merestorasi lahan gambut. Restorasi ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan kesejahteraan masyarakat melalui tiga pendekatan yaitu pembasahan, penanaman ulang, dan merevitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

Agar hal ini tercapai kita perlu mendorong pemerintah Indonesia agar serius dalam komitmen untuk perlindungan dan pengelolaan lahan gambut yang lestari. Komitmen ini tertuang lewat Peraturan Pemerintah (PP) No.57 tahun 2016 jo PP Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Serta instruksi Presiden (inpres) No.5 tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Semoga saja regulasi yang telah dibuat tidak hanya jadi instrumen hukum semata jadi kebakaran lahan gambut tidak terulang setiap tahun. Soalnya jauh sebelum isolasi mandiri karena covid-19 orang-orang Kalimantan sebenarnya sudah sering #dirumahaja karena terkepung asap. 


Referensi:

Materi online blogger gathering Eco Blogger Squad “Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia” 

https://tirto.id/menolak-lupa-karhutla-hebat-2015-f6AE

https://theconversation.com/pengelolaan-gambut-berkelanjutan-dan-masalah-akut-kesenjangan-ilmiah-89887


Kamis, Juni 10, 2021

Mencari Benang Merah Deforestasi dan Zoonotic Disease



Di Indonesia, kebakaran  hutan dan lahan (karhutla) sudah jadi bencana tahunan yang tidak hanya merugikan masyarakat Indonesia sendiri, tapi juga membuat panas hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Deforestasi juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan, bukan hanya soal pernapasan tapi juga wabah yang disebabkan oleh hewan (zoonotic disease). Semakin tinggi deforestasi, semakin besar kemungkinan kita tertular zoonotic disease.

Deforestasi dan zoonotic disease ini jadi dua topik panas yang kami bahas di Eco blogger squad gathering untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 7 April. Topik Karhutla dibawakan oleh Dedy Sukmara, Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara. Sedangkan materi zoonotic disease disampaikan oleh Dokter Alvi Muldani, Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI).

Auriga Nusantara merupakan sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam upaya pengelolaan SDA dan lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Sementara Klinik Alam Lestari adalah klinik yang sejak 2007 hadir di tengah masyarakat kabupaten Ketapang agar masyarakat sekitar hutan tak perlu memilih antara kesehatan atau melestarikan alam. Ini adalah satu-satunya klinik di Indonesia atau mungkin dunia yang menerima pembayaran berupa bibit tanaman. 

Dedy Sukmara memaparkan fakta  aktual terkait Karhutla yang menjadikan Indonesia sebagai penyumbang kenaikan emisi karbon secara signifikan. Bayangkan, tahun 2019 lalu karhutla melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca. Jumlah ini hampir dua kali lipat lebih besar dibanding kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CAMS, 2019).

Aku pernah punya pengalaman buruk terkait bencana karhutla tahun 2015. Saat itu aku di Pontianak, kampus diliburkan hingga dua minggu, penerbangan sempat ditutup, rumah sakit kebanjiran, bukan oleh air tapi penderita ISPA. Saat pagi tiba kota Pontianak seperti ditelan asap, bahkan siang hari matahari tak terlihat. Yang aku ingat adalah rasa mencekam dan takut luar biasa, bahkan untuk bernapas rasanya was-was. 

Tahun-tahun berikutnya bencana asap tetap ada tapi memoriku lekat merekam pengalaman tahun 2015. Tahun 2018 aku dan teman-temanku juga ingat pernah menggelar lapak buku di depan tugu Bambu Runcing saat kabut tebal dan abu bertebaran di udara, terjatuh di atas buku-buku kami. Dari masa aku kuliah hingga bekerja, kabut asap di Pontianak sudah jadi musim tahunan. Kadang aku bertanya, jika sudah menikah dan punya anak apakah anakku masih mengalami hal yang sama nantinya.

Karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas harian seperti yang aku sebut di atas, tapi juga berdampak pada biodiversitas, pemanasan global, dan perubahan iklim. Auriga mencatat kerugian Indonesia akibat karhutla sepanjang 2019 mencapai US$ 5,2 miliar atau setara Rp72,95 Triliun.

Karena setiap tahun terjadi karhutla, harusnya antisipasi dan mitigasi sudah bukan hal baru bagi pemerintah. Tapi kenyataannya ada juga yang salah sasaran, misalnya menyalahkan peladang tradisional sebagai dalang asap. Padahal menurut Dedy Sukmara, hasil pengamatan menunjukkan lahan yang terbakar akan ditanami dengan tanaman industri ekstraktif beberapa tahun kemudian. Ibarat kata ini adalah upaya pembersihan lahan.

Pada tahun 2001-2019, dapur asap bersumber dari lahan gambut di Kalteng, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua. Lima tahun terakhir lonjakan laju deforestasi terjadi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua. Kalau diperhatikan deforestasi Indonesia menyasar provinsi kaya hutan. Mungkin karena luas hutan di dapur lama sudah semakin berkurang, kini ekspansi beralih ke daerah-daerah hijau yang masih tersisa. 

Jika antisipasi dan mitigasi masih terus salah sasaran, siap-siap mengulang hal sama setiap tahunnya. Lantas kita bisa apa? Auriga memberi setidaknya enam rekomendasi  untuk memutus rantai karhutla, yaitu:

Memperluas moratorium hutan dan gambut

Meningkatkan penegakan hukum

Restorasi hutan dan gambut terdegradasi

Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

Mendukung infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini

Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar.

Apa enam hal ini terasa berat? Jika ingin yang sederhana dan mudah dilakukan, kamu bisa melakukan disiplin untuk dirimu sendiri. Misalnya berkomitmen untuk hanya mengonsumsi green product, mendukung perusahaan yang berkeadilan dalam proses produksinya. Adil tak hanya pada alam tapi juga manusia, ingat kan prinsip produk hijau yang pernah kita bahas sebelumnya.

Karena apa yang kita konsumsi ternyata tak hanya berhubungan dengan tubuh kita, tapi juga terkait dengan lingkungan sosial dan keseimbangan alam. Bahkan antara deforestasi dan pandemi punya benang merah, lho. Jadi selalu ada kaitan antara manusia dan alam, seperti yang disampaikan dr Alvi di sesi sharing berikutnya.

Dalam penjelasannya, dia menyampaikan bagaimana penyakit zoonosis muncul karena deforestasi. Saat deforestasi terjadi, beberapa spesies menurun namun ada juga yang beradaptasi. Spesies yang beradaptasi inilah yang meningkatkan risiko zoonosis. Dengan bukti yang ada, manusia perlu menyeimbangkan produksi makanan, dan menjaga hutan. Karena dengan terjaganya hutan berarti habitat hewan liar ini tak terganggu. Mereka bisa tetap berada di dalamnya sehingga tidak menyebarkan pantogennya. 

Pantogen adalah bakteri yang tidak berakibat negatif bagi hewan, tapi dapat menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia. Contohnya virus nipah, yellow fever, malaria, dan ebola. Empat wabah ini muncul karena habitat yang terfragmentasi.

Virus nipah misalnya yang mincul awal 1998, virus ini berasal dari air lir kalelawar buah yang hidup di kawasan Asia Tenggara. Di Malaysia, wabah ini muncul akibat kabut tebal dari deforestasi yang disebabkan ladang berpindah. Kabut ini mengganggu habitat kalelawar buah. 

Sementara di Bangladesh, wabah timbul dari konsumsi buah yang terkontaminasi liur dan kencing kelelawar. Ada juga wabah yellow fever yang disebabkan virus di tubuh primata lalu ditransmisikan oleh nyamuk. Tahun 2016 dan 2018 wabah ini menyerang Amerika Selatan. Dari 2000 kasus, ratusan meninggal. Berdasarkan penelitian ini diakibatkan habitat yang menyempit. 

Saat habitat terganggu, hewan-hewan liar akan mencari makanan ke permukiman warga. Jika kontak dengan hewan liar semakin sering terjadi, resiko penularan penyakit dari hewan ke manusia juga semakin besar.

Kontak yang dimaksud bukan berarti kita menyentuh langsung hewan-hewan ini, tapi bisa saja lewat gigitan nyamuk bahkan makanan yang kita konsumsi. Makanya ada treatment khusus untuk makanan yang bersumber dari hewan liar. Ketika akan mengonsumsinya pastikan dagingnya dibersihkan sebaik mungkin dan saat dimasak harus benar-benar matang. 

Jadi ketika bicara tentang upaya menjaga hutan kita itu sebenarnya sedang membicarakan upaya untuk menjaga diri sendiri. Salah satu yang memungkinkan untuk dilakukan adalah mengubah pola konsumsi. Mungkin inilah sebenar-benarnya revolusi, dimulai dari makanan yang kita konsumsi. Berhenti mengonsumsi minyak goreng dari perusahaan sawit penyebab karhutla misalnya. Kamu bisa cari tahu perusahaan mana saja yang tidak fair.

Antara karhutla dan deforestasi adalah lingkaran yang tak pernah berkesudahan. Kita jangan sampai mati terpanggang di atas lahan sendiri demi memenuhi target industri ekstraktif oleh dunia, seperti tikus yang mati karena libidonya sendiri. 


Senin, April 19, 2021

Menjaga Hutan; Menjaga Sesama dengan Cara Paling Heroik



Beberapa tahun yang lalu aku pernah terlibat obrolan dengan seorang perempuan Eropa. Dia sedang dalam perjalanan menuju Sungai Utik, sebuah dusun di Embaloh Hulu yang mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.

Ada satu kalimat darinya yang tersisa setelah obrolan singkat itu. "Aku merasa tidak terhubung dengan alam, itu membuatku semakin hari semakin tidak bahagia," itu yang dia ungkapkan saat aku penasaran mengapa dia mau jauh-jauh datang melintasi benua.

Meski ukuran kebahagiaan orang berbeda-beda, tapi sebagai orang yang tinggal di kawasan yang masih hijau aku merasakan kehidupan jauh lebih mudah dan itu membuat bahagia. Pangan tak perlu beli karena bisa menanamnya sendiri, atau kalau rajin meramu kita bisa mendapatkan beragam pangan hutan.

Kami masih merasakan air sungai jernih dan udara segar, walaupun sekarang air di tempatku sering keruh ketika hujan. Nenek dan kakekku sering cerita dulu air sungai kami sangat jernih, sampai-sampai bisa diminum tanpa perlu dimasak. Meski saat ini kondisi lingkungan mengalami penurunan kualitas akibat ilegal logging awal tahun 2000-an silam, aku tetap bersyukur setidaknya sungai Tamambalo masih jernih di hari-hari cerah.

Di bulan-bulan tertentu kampungku melaksanakan panen ikan tapah - jenis ikan predator air tawar - yang dilakukan bersama-sama oleh seluruh warga. Hasilnya juga dibagi bersama. Kebutuhan protein masih terpenuhi oleh sungai dan hutan yang tetap dijaga. Manfaat ini bisa dirasakan oleh seluruh warga di kampung.



Yuyun Harmono manajer kampanye WALHI menyebut hal ini sebagai co-benefits dari upaya menjaga kelestarian hutan. Saat menjadi narasumber dalam kegiatan Eco Blogger Squad Earth Day Gathering untuk memperingati Hari Bumi. Selain WALHI, ada juga Gita Syahrani, kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari, dan Cristian Natalie, program manager di hutanitu.id. Ketiga lembaga ini bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network untuk berbagi pengetahuan mengenai hutan Indonesia sebagai solusi dalam mitigasi perubahan iklim. 

Manajer kampanye WALHI ini bercerita tentang komunitas adat Seberuang di Dusun Silit, sebuah dusun yang berada di pedalaman Sintang. Komunitas ini berusaha mandiri dengan memanfaatkan hutan. Aku juga pernah menulis tentang Dusun Silit sekitar tiga tahun yang lalu. Tulisannya bisa teman-teman baca di sini.

Saat ini warga Silit sedang berusaha mendapatkan pengakuan hutan adat dari negara. Masyarakat di sini menjaga hutan sehingga ketersediaan pangan dan air mereka juga aman. Ini membuat kebutuhan energi listrik terpenuhi karena mereka menggunakan PLTA. Teknologi yang digunakan sangat sederhana sehingga mereka tidak tergantung pada teknisi di kota ketika ada kerusakan.

Pemanfaatan energi terbarukan seperti listrik dari tenaga air bisa jadi solusi untuk permasalahan iklim yang kita hadapi. Hah, kenapa jadi bicara iklim? hmmm benang merahnya begini.


Tren bencana sepanjang 2009-2019 menunjukkan 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana yang dipengaruhi oleh perubahan iklim (bencana hidrometeorologi) misalnya banjir, tanah longsor, atau puting beliung. Selama sepuluh tahun bencana ini terus meningkat.

Berdasarkan data yang dipaparkan Yuyun Harmono, kebiasaan manusia juga berkontribusi pada meningkatnya krisis iklim. Terutama dari sektor berbasis lahan dan sektor energi. Tahun 2020 sektor berbasis lahan menempati urutan pertama untuk penyumbang emisi gas rumah kaca. Namun tahun 2017 justru yang semakin meningkat adalah sektor energi. Diprediksi 10 tahun lagi sektor energi akan jadi kontributor emisi terbesar.





Harus ada kebijakan dari pemerintah untuk menekan laju emisi yang dikeluarkan oleh sektor energi maupun yang berbasis lahan. Saat bicara "menekan laju emisi" bukan berarti kita langsung berhenti menggunakan energi dalam keseharian kita.

WALHI menawarkan prinsip Energi Berkeadilan, yaitu:

1. Menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia
2. Aman terhadap iklim dan berdasarkan pada teknologi yang tersedia di lokal dan berdampak rendah
3. Di bawah kontrol langsung oleh publik dan diatur untuk kepentingan publik
4. Memastikan hak-hak pekerja sektor energi
5. Memastikan hak free, prior and informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak
6. Berskala kecil dan terdesentralisasi
7. Memastikan penggunaan energi yang adil dan seimbang serta meminimalkan limbah energi. 

Kenyataan saat ini masih banyak daerah-daerah pelosok yang belum mendapat akses energi. Pada tahun 2018, sebanyak 5,2 juta penduduk Indonesia belum dapat listrik. Sementara itu ada daerah yang teraliri energi berlebih. Apakah itu adil? 

Yuyun Harmono menegaskan, untuk mengakses sumber energi tanpa memperparah krisis iklim, pemerintah perlu secepatnya melakukan transisi. Tapi tentu saja tetap berkeadilan, transisi berkeadilan berarti tidak meninggalkan aspek buruh dan pekerjaan yang layak juga menjamin kedaulatan pangan dan melindungi hutan serta keanekaragaman hayati. 

Apa ini terdengar berat? Saatnya mengeluarkan kalimat andalan Sisca Kohl "Mari kita coba!!!". Contoh kecil bagaimana energi berkeadilan bisa terwujud bisa dilihat di Dusun Silit. Di mana keadilan energi  terwujud lewat pengelolaan hutan yang diberikan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan langsung. 

Hutan lestari menjamin ketersediaan air yang menjadi sumber energi masyarakat. Hutan juga jadi sumber pangan, masyarakat Silit juga mempraktikkan pertanian tradisional skala kecil, dan mereka juga menerapkan sistem perekonomian berbasis rakyat bantu rakyat lewat Credit Union. 

Apa yang ada di Silit mungkin bisa diadopsi oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Mitigasi krisis iklim bisa dilakukan dengan menjaga hutan tetap lestari. Ini bukan tugas segelintir orang saja, kita tidak bisa hanya membebankannya pada pemerintah, masyarakat adat, atau aktivis lingkungan. Ini adalah kerjasama semua orang di Bumi. Bicara tentang Bumi, sebentar lagi Hari Bumi lho! tepatnya pada tanggal 22 April nanti. 

sumber: whatsupmag.com 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sejarah Hari Bumi bermula dari gerakan akar rumput yang dilakukan oleh akademisi lingkungan di Amerika Serikat yang bernama Gaylord Nelson pada tahun 1970 sebagai respon akibat tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California. Sekarang perayaan ini digelar tingkat dunia.

Tapi sebenarnya perayaan Hari Bumi adalah perayaan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri, seperti yang Gita Syahrani sampaikan pada sesi kedua dalam kegiatan ini. Seperti biasa, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) ini tidak bosan-bosannya mengingatkan semangat gotong royong agar pembangunan yang adil dan berkelanjutan bisa terwujud di Indonesia. 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Indonesia punya pendekatan ekonomi yang harusnya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan. Tapi sebagus apapun visi ekonomi kita kalau tanah, air, dan udara sudah tidak sehat, visi itu akan sulit tercapai. Sama seperti tubuh kita, mau sebanyak apapun uang yang kita miliki kalau kita tidak sehat maka kualitas hidup kita juga akan buruk.  

Kita bisa saling jaga dengan cara mendukung upaya untuk mempertahankan keberadaan hutan. Terlibat langsung dengan masyarakat sekitar hutan mungkin terdengar sulit bagi kawan-kawan yang di kota. Nah, kawan-kawan bisa tetap terhubung dengan hutan dan kita bisa saling bantu dengan cara membeli produk lokal, tapi produk lokal yang ramah lingkungan dan ramah sosial ya. 

Ini juga bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar hutan lho. Karena masyarakat sekitar hutan juga punya impian untuk menikmati kualitas hidup yang tidak bisa didapatkan secara langsung dari hutan. 

Topi dari rotan hasil hutan bukan kayu / Dok. @handepharuei

Misalnya saat kamu membeli topi atau tas rotan yang diproduksi kelompok perempuan di sebuah komunitas. Kamu tidak hanya membeli sebuah kerajinan, tapi kamu sedang membantu seorang ibu untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang mungkin dia gunakan agar anak-anaknya bisa sekolah, untuk mendapat akses kesehatan, atau bisa juga sebagai uang tabungan.

Itu adalah bentuk dukungan kita bagi mereka yang menjaga hutan. Karena tidak adil dong kalau kita teriak-teriak menjaga hutan tapi tidak peduli dengan keberadaan manusia sekitar kawasan. Kita bisa saling dukung dengan beragam cara. Misalnya mengonsumsi produk hasil hutan bukan kayu, atau ikut mengadopsi pohon di hutanitu.id.

Produksi hasil hutan bukan kayu itu apa saja sih? produknya beragam, bisa produk pangan, kerajinan, atau jasa lingkungan. Nah, perempuan yang kuceritakan tadi sedang mengonsumsi produk hasil hutan bukan kayu dalam bentuk jasa lingkungan. Jasa lingkungan ini bisa berupa wisata alam, keindahan landskap, perlindungan tata air, maupun kesuburan tanah.

Kalau orang luar saja rela melintasi benua untuk menikmati keindahan hutan Indonesia, masa kamu gak tertarik sama sekali. Jungle camping itu seru lho! kita di Indonesia masih memiliki banyak kesempatan untuk menikmati keindahan hutan kita, jangan sampai kita melewatkannya begitu saja.




Karena tinggal di kawasan hutan aku bisa merasakan udara dan air bersih, dapat menikmati protein, buah, maupun sayuran segar, dan menikmati keindahan landskap yang sudah cantik tanpa perlu dipoles. Bahkan dalam perjalanan dari kampung ke kota aku bisa meraskan Ghibli Vibes hahaha. Bagiku hutan bukan hanya sehamparan pohon atau aset, itu adalah bagian dari identitasku sebagai orang Tamambalo.

Leluhurku menamai sungai yang mengalir di wilayah kami dengan nama Sungai Tamambalo. Tamambalo berasal dari kata Taumamlalo yang merupakan kekaguman pada kondisi alam di sekitar sungai tersebut. Leluhurku mengenal pembagian kawasan, pengetahun ini masih digunakan sampai sekarang. Karena itulah kami masih memiliki hutan bersama yang disebut Toan Palalo. Hutan ini dikelola bersama oleh Orang Tamambalo berdasarkan aturan adat.

Hutan juga inspirasiku dalam berkarya. Aku sangat takjub dengan orangutan dan burung enggang yang masih ada di kawasan hutan Kapuas Hulu. Aku pernah menulis cerita bergambar yang terinspirasi dari burung enggang, kawan-kawan bisa baca di sini. .

Cover untuk cerita bergambar Kisah Sang Enggang Pemberani / Artwork oleh Pamca Esti

Karena merasakan manfaat memiliki hutan, aku ingin turut serta menjaga keberadaannya. Menjaga hutan berarti menjaga ruang hidup, itu juga menjaga sesamaku. Para pendahuluku sudah melakukan itu untukku, dan akan kulakukan juga untuk generasi Tamambalo selanjutnya. Akan kulakukan sebisaku. Itu adalah cara paling heroik yang pernah aku pikirkan, karena selama ini hutanlah yang selalu memberi kebaikannya. Hutanlah yang menjagaku agar tetap bernapas, agar kami dapat bertani di tanah yang subur, dan aku bisa jualan madu hahaha.

Rabu, April 14, 2021

Mengenal Sustainable Beauty and Wellness Lebih Dalam di Blogger Gathering #LestarikanCantikmu

 


Sudah lama rasanya tidak gathering bersama teman-teman blogger. Kesempatan itu akhirnya datang lagi, aku mengikuti Blogger Gathering #LestarikanCantikmu untuk mengenal sustainable beauty and wellness lebih dalam. 

Gathering ini diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan Network. ⁣Lingkar Temu Kabupaten Lestari adalah forum kolaborasi Kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Ada beberapa kabupaten tergabung dan Kapuas Hulu salah satunya. ⁣Bagaimana upaya kawan-kawan LTKL untuk menyebarkan semangat gotong royong agar pembangunan yang adil dan berkelanjutan terwujud bisa teman-teman lihat di kanal YouTube Lingkar Temu Kabupaten Lestari

Sementara Madani Berkelanjutan merupakan lembaga nirlaba yang berupaya menjembatani hubungan antar pemangku kepentingan baik itu pemerintah, swasta, atau masyarakat sipil untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan. ⁣

Kedua lembaga ini menggandeng Blogger Perempuan Network (BPN) untuk bekerjasma. BPN ialah jejaring blogger perempuan di Indonesia yang memiiki misi mendukung blogger perempuan Indonesia di ruang digital dan meningkatkan konten mereka ke level selanjutnya.⁣


Bagi saya kerjasama ini merupakan strategi campaign yang menarik dari teman-teman pegiat isu lingkungan agar penyadartahuan yang selama ini mereka lakukan bisa tersampaikan lebih luas.⁣

Peserta gathering adalah  30 blogger terpilih setelah mengikuti kompetensi blog #LestarikanCantikmu bulan lalu. Aku jadi satu di antara peserta terpilih dan tulisanku menjadi juara kedua dalam kompetensi ini. Tulisan yang aku submit kemarin bisa teman-teman baca di sini yah! 

Kali ini kami ditemani tiga orang yang menjadi narasumber. Ada Mas @danangwisnu seorang skincare content creator, Kak Gita Syahrani dari @kabupatenlestari dan Kak Christine Pan pendiri @segaranaturals. Dengan latar belakang yang mereka miliki, kami diajak untuk memahami lebih dalam mengenai sustainable beauty and wellness. 

Sebelum itu  kita perlu tahu bagaimana sejarah kosmetik yang berhubungan juga dengan perawatan kulit. Seorang profesor di Universitas Hungarian, Nora Amberg dalam jurnal ilmiahnya menyinggung sekilas tentang sejarah kosmetik. Dia menuliskan sejarah kosmetik telah dimulai pada zaman Mesir kuno namun penggunaannya lebih pada tujuan kebersihan dan untuk perawatan kesehatan. 

Orang Mesir kuno tidak hanya merawat kulit untuk jadi sehat tapi juga melakukan perawatan kulit untuk keperluan ritual mumifikasi dan penguburan. Perawatan ini dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan mereka tentang tumbuhan, minyak, dan senyawa organik.

Seiring perubahan jaman, perawatan kulit kini tidak lagi menggunakan tumbuhan secara langsung. Bahan-bahan harus diolah dulu untuk menjadi produk kesehatan kulit maupun kosmetik.

Di Indonesia, industri kosmetik memiliki panggung yang cukup cerah. Mengutip dari laman kemenprin.go.id, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) menyebutkan bahwa industri farmasi, bahan farmasi dan kosmetik merupakan salah satu sektor andalan yang mendapat prioritas pengembangan dan berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian di masa yang akan datang.

Ini terdengar menarik dan bisa saja jadi peluang mengingat Indonesia kaya dengan potensi alam. Namun kita juga harus mempertimbangkan dampak apa yang akan dibawa oleh produk-produk kosmetik ini, tidak hanya dampak secara sosial dan ekonomi tapi juga bagi lingkungan. 

Kompas.com menyebut pada tahun 2015 diperkirakan 61 persen kemasan kosmetik dan perawatan kulit terbuat dari plastik, dan pada tahun 2019 produk ini naik sampai 12 persen. Jika produsen maupun konsumen tidak mengenal sustainable beauty and wellness lebih dalam, upaya untuk merawat kesehatan kulit mungkin akan kontradiksi dengan kepedulian pada Bumi. 

Sustainable Beauty and Wellness⁣



Konsep sustainable beauty muncul atas respon terhadap sampah plastik dari kemasan kosmetik, hingga bahan kimia yang ikut terbuang dan mencemari kehidupan di laut.   

Pada sesi pertama, pemateri mengajak kami untuk memiliki sesuatu yang aku sebut "prinsip berkesadaran". Ini untuk menggambarkan perilaku menggunakan produk atau jasa karena memang membutuhkannya, bukan sekadar impulsif.

Sesi yang dibahas bersama Danang Wisnu, skincare content creator yang juga merupakan seorang dokter gigi ini lebih menekankan perlunya konsumen aware pada kandungan skincare yang digunakan. 

Mungkin karena latar belakangnya seorang praktisi kesehatan (walaupun itu kesehatan gigi), mas Danang lebih subjektif ketika bicara tentang manfaat skincare. Tidak ada skincare yang membuat kulit kita sehat dalam waktu singkat, semuanya butuh proses. Bayangin aja mas Danang udah pakai skincare sejak SD. ⁣Kalau kamu mau menggunakan skincare kamu harus mengenali kebutuhan kulitmu apa. 

Kandungan skincare sendiri bermacam-macam, dan tidak menutup kemungkinan ada yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Lantas bagaimana mengetahui skincare yang akan kita gunakan itu aman? Caranya dengan melihat kandungan serta sertifikasi produk.⁣ Jadi kita memang harus rajin baca kandungan dan teliti ngecek apakah sudah ada sertifikasi produknya atau belum. 

Sesi kedua bersama kak Gita, kami diajak mengenali seperti apa sih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Berdasarkan riset yang dilakukan LTKL di Indonesia bekerjasama dengan mitra di tiga negara; Korea Selatan, Jepang, dan China, bahan dalam produk menjadi hal utama yang jadi pertimbangan saat konsumen membeli produk. Karena para pembeli ini sudah memiliki perhatian terhadap polusi yang dihasilkan sebuah produk, misalnya apakah produk tersebut mengandung microbeads atau tidak.⁣

Microbeads merupakan partikel yang terdapat pada produk scrub atau exfoliator. Partikel ini sulit terurai ketika telah digunakan dan terbuang di lingkungan, yang justru dapat mencemari dan berpotensi termakan oleh makhluk hidup di laut. ⁣

Bahan-bahan yang digunakan oleh produsen bisa saja berbahan lokal. Tapi apakah semua yang berbahan lokal pasti ramah lingkungan? belum tentu. Ada tiga aspek produk ramah lingkungan dan ramah sosial yang harus terpenuhi dalam sebuah produk, yaitu:

  1. Bahan baku didapatkan dari komoditas yang tetap menjaga fungsi alam tanpa bencana
  2. Membuat petani, pekebun, atau pekerja sejahtera
  3. Bertanggungjawab terhadap energi limbah dan produksi


Jika satu saja di antara tiga aspek ini tidak terpenuhi maka produk yang kita gunakan tidak bisa disebut produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Tanggung jawab ini tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak, mulai dari hulu ke hilir harus sama-sama konsisten mewujudan kelestarian dan keadilan.

Jadi udah kebayang kan, kalau mau menerapkan sustainable beauty and wellness kita memang harus selektif dalam memilih produk. Karena produk yang kita konsumsi memiliki cerita di baliknya. Ada tempat di mana komoditas itu berasal, ada orang-orang yang bekerja untuk mengolah komoditas tersebut atau membuat produk tersebut, dan ada perusahan yang memproduksinya. Sebagai konsumen yang bertanggung jawab kita harus mengetahui benang merahnya.⁣

Nah, aku sebenarnya penasaran di Indonesia berapa banyak sih produsen yang sudah memenuhi aspek ramah lingkungan dan ramah sosial.

Meski tidak mendapat informasi tentang hal ini, setidaknya pada sesi ketiga bersama kak Christine Pan aku mulai mendapat jawaban yang kucari. Di Segara Naturals kak Christine dan tim melakukan penjajakan yang dalam dengan calon mitra sebelum memutuskan mengambil bahan baku dari mereka. 

Segara Naturals konsisten menggunakan bahan-bahan alami untuk produk perawatan kulit. Mereka tidak menggunakan minyak sawit karena tata kelola komoditas ini seringkali bertentangan dengan prinsip lingkungan dan sosial. Tapi aku perlu tekankan, yang dikritik itu bukan komoditasnya ya tapi tata kelola komoditasnya. 

Kemasan produk Segara Naturals juga tidak menggunakan plastik. Menariknya, Kak Christine punya pengalaman pribadi saat bicara tentang sampah plastik. Kecintaannya pada dunia travelling membuatnya menjelajahi banyak daerah.  Di tempat-tempat yang dia datangi di Indonesia, dia melihat persoalan sampah plastik. 

Dalam hati  dia merasa sedih, orang-orang di luar negeri mengenal Indonesia sebagai negara yang hijau dan asri, padahal kenyataannya kita sedang menghadapi permasalahan sampah plastik yang tak terkontrol. Sampah-sampah ini menumpuk, tidak hanya tak elok dipandang mata tapi bisa berbahaya bagi kehidupan di laut. 

Sejak menyadari isu polusi plastik itu dia lalu bertekad melakukan perubahan kecil untuk mengurangi penggunaan plastik atau kemasan sekali pakai.⁣ Ketika dia membuat produk kecantikan, dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Segara Naturals dikemas dengan kemasan aluminium tin yang bisa dipakai ulang. 

Aku angkat dua jempol untuk produsen-produsen yang sudah menerapkan prinsip ramah lingkungan dan sosial, tepuk tangan juga untuk orang-orang yang sudah mulai selektif dalam memilih produk. ⁣

Kalau kita ingin cantik (sesuai dengan versi masing-masing ya), kita juga harus bertanggung jawab terhadap produk yang kita pilih. Jangan sampai keinginan kita untuk tampil cantik membuat empati kita tehadap lingkungan dan sosial jadi tipis.⁣

Lalu apa yang perlu kamu lakukan ketika ingin menerapkan konsep sustainable beauty and wellness? coba perhatikan gambar di bawah ini. 


Tiap kali hendak membeli produk kosmetik biasakan baca label, kenali bahan, pahami komoditas asli,  apa dampaknya, pilih yang lestari, dan jangan lupa bagikan cerita kamu pada yang lain.

Menjadi konsumen yang bijak dan bertanggungjawab pada apa yang kita konsumsi. Karena barang yang kita beli memiliki cerita di baliknya.  Begitulah pengalaman gathering kali ini. Aku bukan skincare enthusiast, tapi hal-hal yang beririsan dengan lingkungan dan lokalitas selalu menyenangkan untuk dipelajari. 

Untuk menutup tulisan ini aku ingin menyimpulkan apa yang sudah kudapat dengan sebuah quotes, Ketika kita ingin menikmati keindahan, kita juga harus berkenan menjaga dan merawatnya. Karena bukan hanya kecantikanmu yang perlu dirawat, tapi juga Bumi ini.