Kamis, Desember 31, 2015

SEMANIS NASTAR NANAS

Jumat, 25 Desember 2015.
Merry Christmas universe!
Ini adalah Natal keduaku tanpa keluarga. Aku baru saja pulang dari gereja dan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamuku yang sempit. Solo terasa sangat panas hari ini. Kunaikkan suhu pendingin  udara dan kututup pintu rapat-rapat. Tidak akan ada tamu yang datang untuk mengunjungiku, lagian siapa yang akan natalan, teman-temanku sudah pulang ke daerah masing-masing untuk merayakan Natal bersama keluarga. 
Tahun lalu cutiku kuhabiskan untuk pergi ke Macau, menemani Mas Uki meliput Macau International Fireworks yang berlangsung dari bulan September sampai Oktober. Dua minggu kami habiskan di sana sehingga tidak ada jatah untuk pulang ke Pontianak ketika Natal. Tahun ini aku tidak bisa pulang karena tuntutan pekerjaan. Besok aku dan beberapa teman dari kantor jurnalis tempatku bekerja akan berangkat ke Aceh, kami akan mendatangi desa Lamjame yang terletak di Kecamatan Jaya Baru, meliput keadaan di sana untuk mengenang sebelas tahun tragedi tsunami yang pernah memporakporandakan kampung nelayan itu.
Pengalaman Natal tahun lalu sudah membuatku mengerti betapa tidak berartinya sebuah perayaan jika hanya dirayakan seorang diri, karena perayaan adalah kemeriahan yang harus dibagikan, tidak akan bermakna jika hanya dilalui sendirian. Hari ini pun aku kembali merayakan sepi di tengah meriahnya Natal. Mungkin bagi mama dan papa, bingkisan Natal yang kutitip melalui seorang teman yang pulang ke Pontianak sudah cukup mewakili kehadiranku di tengah-tengah mereka. Sejak tadi malam tidak satu pun dari mereka yang menghubungiku. Seringkali kebahagaiaan membuat kita melupakan orang lain, aku agak melankolis karena merasa tidak ada yang mencariku. Panggilanku tidak diangkat, pesanku hanya dibaca. Papa hanya mengirimiku foto selfienya bersama empat keponakanku di depan pohon Natal tanpa pesan apa-apa, membuatku cemberut dan ingin tidur saja.
Mas Uki adalah satu-satunya orang yang menelponku tadi malam, mengingatkan agar aku tidak lupa makan sebelum pergi ke gereja untuk misa malam Natal. Mama yang biasanya mendongengiku dengan omelannya setiap malam bahkan lupa untuk sekedar menulis ucapan selamat Natal buat putri bungsunya ini.
Aku mewek. Dari sini dapat kurasakan hangatnya suasana Natal di kampung halaman. Ruang tamu yang ceria oleh warna merah dan putih dihiasi gua Natal lengkap dengan pohonnya, aroma cookies yang memenuhi ruangan sekalipun toples sudah tertutup rapat. Aku bisa melihat nastar nanas berukuran besar kecil tak beraturan buatan mama diletakkan ditoples bening ukuran sedang. Kue kering kesukaanku. Suara tawa yang tak asing dari mereka terdengar sangat dekat. Aku dapat melihat mereka berjabat tangan dan berpelukan, salam dan pelukan yang menggerahkan tapi meghangatkan hati. Riuh dan sesak di ruang tamu. Natal membuat meja makan terasa sangat kecil ketika semua keluarga makan bersama. Ramai, sangat ramai.
Rumah tidak pernah sepi karena selalu ada kerabat yang datang, obrolan hangat dan canda tawa yang membuat suasana kekeluargaan terasa sangat kental. Foto-foto bersama dengan berbagai pose, reuni mendadak bersama teman-teman semasa sekolah yang sudah lama tidak pernah bersua. Suasana Natal seperti itu tidak akan ada di sini, aku tidak akan merasakannya.
Satu-satunya dekorasi Natalku adalah pohon Natal ukuran sedang yang mas Uki belikan dan letakkan di sudut ruangan. Tidak ada hiasan lainnya. Kuangkat kakiku ke atas meja yang kosong, aku sudah sangat malas untuk berbuat apa-apa. Di rumah biasanya ada tiga meja berisi kue dan minuman yang diletakkan di bagian berbeda untuk para tamu. Di sini hanya ada satu meja dan yang mengisinya hanya sekotak tisu dan kakiku yang kubujurkan di sana. 
Keluarga adalah hal yang paling kurindukan saat ini. Bersama mereka Natal menjadi sangat meriah.
Beberapa saat berlalu, aku mendengar sebuah ketukan. Pasti Mas Uki, kami ada janji makan siang bersama. Aku bergegas bangkit menuju pintu, kubuka perlahan dan aku melihat sosoknya yang tinggi kurus berdiri di depan pintu membawa sebuah bingkisan di tangan kanannya. Senyumnya sangat lebar menampakkan giginya yang bergingsul.
Dia mengenakan kemeja merah maron berlengan panjang dengan topi santa Claus di kepalanya, padahal aku tidak bilang bahwa aku mengenakan dress berwarna merah, aku juga belum mengiriminya foto hari ini. Brewoknya yang tumbuh lebat sama sekali tidak membuatnya mirip tokoh gendut berjanggut pembawa hadiah yang berkendara dengan kereta terbang itu. Aku tertawa melihatnya.
"Masuk mas" kubuka pintu agak lebar dan mempersilahkannya masuk. Dia segera meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas meja.
"Merry Christmas my little Sharon" direntangkannya tangannya selebar mungkin untuk memelukku. 
"Thankyou mamas Ukiku, Mas bawa apaan ?" aku melepaskan pelukannya yang membuatku gerah. 
"Cookies kesukaan kamu"
Buru-buru kubuka bungkusan plastik putih itu, satu toples nastar nanas dan kartu ucapan selamat Natal ada di dalamnya. Sesaat perasaan sedihku hilang. Aku hanya tersenyum membaca tulisan di kartu ucapan yang ditulisnya sendiri. Kubuka toples itu dan segera melumat satu buah nastar nanas. Kuberikan satu untuknya dan dia selalu jahil, digigitnya jariku yang sudah kuwarnai kukunya dengan warna merah.
Rasa nastarnya memang tidak seperti nastar buatan mama, tapi setidaknya ini manis, tambah manis karena mas Uki ada di sini. 
"Maaf ya tidak menjemput ke gereja, tadi ibadah dulu ke mesjid" 
Aku mengangguk sambil tetap mengunyah nastar di mulutku. Mas Uki berdiri dan menuju dapur, lalu kembali dengan dua gelas air dingin di tangannya. Diletakkannya gelas itu di meja. Langsung saja kuteguk karena kehausan. Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Seringkali dia protes karena aku selalu terburu-buru ketika melakukan sesuatu, seperti tidak paham saja, wartawan mana ada yang kemayu. 
Penampilanku hari ini memang agak manis, jarang sekali aku mengenakan mini dress seperti ini. Apa lagi rambut diblow, setiap hari aku pergi bekerja dengan rambut dikuncir. Hari ini aku juga memoleskan kutek merah di jariku. Kemarin bahkan aku sempat bingung akan mengenakan dress putih atau merah hari ini, entah mengapa tadi pagi aku bangun dan langsung memikirkan dress merah yang kukenakan saat ini, lalu Mas Uki datang dengan kemeja yang warnanya tidak jauh berbeda.
"Kalau sudah, kita berangkat sekarang" dia memperhatikanku yang sudah duduk bersandar di sofa. Aku mengangguk dan berdiri. 
Sebelum menutup pintu Mas Uki berbalik ke ruang tamu dan mengambil toples nastar yang dibawanya tadi. Aku keheranan. lalu disodorkannya padaku dan kuterima saja. "makan di mobil" katanya cepat sambil mengunci pintu.
Aku tertawa dalam hati.
Di dalam mobil aku duduk nyaman sambil memangku setoples nastar nanas, sedari tadi mulutku tidak berhenti mengunyah. Lagu The First Noel mengalun lembut, menghantarkan kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku masih cemburu pada Natal di Pontianak, tapi juga pikiranku melayang pada pertemuan kami tiga tahun yang lalu. Siapa sangka, sampai hari ini dia masih jadi orang yang berada di sisiku.
"Sayang.." suaranya memecahkan hening yang hangat di antara kami. Aku meliriknya yang tetap fokus menyetir. "Kamu mau hadiah Natal apa ?" aku menatapnya dalam-dalam, tapi dia tetap melihat lurus ke depan. Aku lama tak menjawab, laju kendaraan agak lambat dan dia memandangku. "Hmm ?" tanyanya dengan gumaman.
"All I want for christmas is You, mas" aku mengucapkan kalimat itu dengan hati yang sangat tulus dan perasaan yang sangat tenang. Aku bahagia. Dia tersenyum lalu mengelus rambutku dengan lembut. "I love You Sharon" aku tidak membalas kalimat itu, tanpa kukatakan pun dia telah tahu bahawa aku sama sepertinya. 
Hari ini Natalku manis, semanis nastar nanas dari mas Uki. 
Kulayangkan pandanganku ke luar, menjelajahi apa saja yang kami lewati, lalu mataku terpaku pada sebuah mesjid, aku memandang bangunan itu lama tapi mas Uki mempercepat laju kendaraan. Kami berlalu.
Terimakasih telah memilihku mas, meski kita berbeda. 
***
This entry was posted in

Senin, Desember 14, 2015

NOVEL MENYENTUH TENTANG PERCINTAAN REMAJA, WHITE AS MILK RED AS BLOOD


Judul : White As Milk Red As Blood
Penulis : Alessandro D'Avenia
Penerbit: Bhuana Sastra

Novel ini mengisahkan tentang seorang remaja lelaki berusia 16 tahun bernama Leo.
Leo adalah seorang siswa yang sangat malas sekolah, dia benci sekolah dan guru-gurunya. Dibandingkan pergi ke sekolah, Leo lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu atau balap motor bersama temannya, Niko. Dia juga memiliki seorang sahabat bernama Sylvia. 
Leo sangat membnci warna putih, tiap kali membayangkan warna putih dia selalu merasa tidak nyaman. Tidak seperti remaja lainnya yang punya banyak impian, satu-satunya impian Leo adalah Beatrice - si gadis berambut merah.
Dia jatuh cinta pada warna merah dari rambut Beatrice, warna merah itu adalah semangatnya. Salah satu alasannya untuk datang ke sekolah adalah untuk melihat Beatrice. Beatrice adalah mimpinya, benr-benar mimpinya karena dia hanya berani mengaguminya dari kejauhan, tidak pernah mendekat. Tapi mimpi itu hancur saat dia mengetahui bahwa Beatrice mengidap leukemia.
Penulis buku ini menuliskan cerita tentang Leo dan Betarice dengan rangkaian kata yang indah, sangat menyentuh hati.
Melalui tokoh Leo, aku yang muak dengan sekolah merasa sangat terwakili. Semua yang dirasakan Leo adalah yang juga kurasakan ketika aku sudah sangat jenuh dengan rutinitas di sekolah. Sementara melalui tokoh Betarice, penulis berhasil membuatku merenung, dan tersadar betapa banyaknya waktu yang kubuang dengan percuma selama ini. Penulis berhasil menjelaskan betapa berartinya waktu dalam kehidupan kita, betapa indahnya menjalani sesuatu dengan berserah dan bersyukur.
Aku sangat suka novel ini, salah satu novel yang berhasil menyentuh hatiku. Bukan hanya berbicara tentang cinta, tapi juga persahabatan antara Leo dan Sylvia, lalu konflik antar remaja lelaki yang dikisahkan melalui tokoh Niko. 
Banyak novel yang mengisahkan percintaan remaja, tapi sangat sedikit yang berhasil menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut. Menurutku novel ini sangat tepat dibaca oleh para remaja yang baru memasuki dunia percintaan, atau mereka yang merasa muak dengan cinta.
Cinta itu luas, cinta itu berubah, cinta itu kadang pasang kadang surut, cinta itu bergejolak.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin membaca tapi terlanjur malas karena muak dengan kalimat-kalimat payah yang sering ditemukan dalam novel-novel cinta, karena biasanya (berdasarkan pengalaman penulis) pengarang yang menulis novel tentang cinta seringkali menggunakan kalimat-kalimat puitis yang menggelikan. Di novel ini Alessandro menulis ceritanya dengan bahasa yang sederhana, bahkan indah. Mudah dimengerti dan membekas. Tidak terkesan puitis dan melankolis.

Di bawah ini adalah kutipan-kutipan menarik yang terdapat dalam novel Bianca Come Il Latte, Rossa Come Il Sangue.
  • "Aku memilih sendiri teman-temanku. Inilah indahnya pertemanan, sebab kaulah yang memilih mereka dan kau merasa nyaman dengan mereka sebab kau memilih sendiri sesuai keinginanmu."
  • "Guru pengganti memang identik dengan kesialan terbesar di seluruh jagat raya. Pertama : menjadi guru saja sudah merupakan kesialan, apalagi guru pengganti. Kedua : sebab dia hanya cadadangan saja. Hidup macam apa itu, bekerja hanya untuk menggantikan seseorang yang sedang sakit ?"
  • "Kita berbeda dari binatang yang hanya melakukan hal-hal yang disuruhkan alam saja. sebaliknya, kita bebas. Inilah karunia terbesar yang sudah kita terima. Berkat kebebasan ini, kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang. 
  • "Kebebasan memampukan kita untuk bermimpi, dan mimpi adalah denyut kehidupan kita, meskipun seringkali membutuhkan perjalanan panjang dan beberapa pukulan."
  • "Kasih yang kuterima. Kasih selalu merupkan utang, dan karena itulah warnanya merah."
  • "Semua hal yang tak kupunyai. Kasih selalu merupakan piutang yang tak akan pernah ibayar lunas."
  • "Malam hari adalah tempat bersarangnya kata-kata."
  • "Mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggelam.."
  • "Tetaplah mencintai. Kau selalu bisa melakukannya. Mencintai adalah suatu tindakan."
  • "Ada dua kategori orang yang melukai kita, mereka yang membenci kita dan mereka yang mencintai kita."
  • "Kau baru boleh khawatir saat seseorang yang mencintaimu tidak lagi melukaimu, sebab itu artinya dia sudah berhenti mencoba dan kau sudah berhenti peduli."
***