Jumat, Maret 30, 2018

[Review Buku] Menyelami Kisah-Kisah Bunuh Diri di Novel Norwegian Wood

kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Buku ke lima yang saya baca.

Kali ini saya membaca buku Norwegian Wood karya penulis terkenal dari Jepang, Haruki Murakami. Ini adalah karya pertamanya yang saya baca setelah saya anggurkan dua tahun. Buku ini bercerita tentang Watanabe, seorang pemuda dari Kobe yang mencintai gadis bernama Naoko, kekasih dari sahabat baiknya, Kizuki yang bunuh diri selepas bermain bilyard bersamanya ketika mereka masih SMA.

Untuk melupakan kenangan tentang Kizuki, Watanabe melanjutkan pendidikan di Tokyo. Tinggal di asrama dan berjanji memulai hidup yang baru. Namun Tokyo ternyata menjadi tempat di mana dia tidak sengaja bertemu dengan Naoko, gadis yang dulu tidak begitu dikenalnya. Pertemuan tidak sengaja itu akhirnya mendekatkan mereka, mereka sama-sama saling membutuhkan karena dengan kehadiran mereka satu sama lain maka sosok Kizuki akan selalu hidup meski mereka tidak berani membicarakan Kizuki sama sekali ketika mengobrol. Lambat laun Watanabe menyukai gadis ini.

Jauh dari kesan sedih, saya justru merinding membaca buku ini. Mungkin Norwegian Wood layak disebut cerita tentang psikologis. Haruki Murakami berhasil menceritakan proses gangguan jiwa dengan indah. Menghadirkan tokoh-tokoh yang sangat hidup dan berkesan, hingga saya menutup buku ini, sosok-sosok itu seakan nyata. Ada Nagasawa yang tidak pernah putus asa dan kekasihnya Hatsumi yang terlalu menyukai sesuatu hingga lupa bagaimana caranya realistis.

Ada pula tokoh Midori, seorang gadis ceria yang terlalu cepat dewasa yang merupakan teman sekelas Watanabe di matakuliah Sejarah Drama II. Midori menurut saya adalah satu-satunya tokoh waras di sini meskipun hal-hal yang dia lakukan menyimpang.

Tokoh berikutnya adalah Reiko, perempuan usia 40 tahun yang jago bermain piano dan digadang-gadang akan jadi pianis terkenal sampai akhirnya masa depannya kacau karena dia dianggap lesbian.

Secara keseluruhan novel 423 halaman ini sangat bagus. Saya selesaikan hanya sehari, mulai dari diksi, alur, dan tema, semuanya dikemas dengan rapi dan detail. Tidak ada bagian yang kosong, semuanya tersambung dan tertata dengan baik. Saya ingin menyelami pikiran tokoh-tokoh ciptaan Haruki, kadang saya berpikir apakah mereka ini nyata, apakah saya bisa bertemu orang seperti Naoko, Reiko, atau Watanabe.

Saya mungkin terdengar munafik, tapi kita semua berhak memutuskan apakah ingin melanjutkan hidup atau tidak ketika kita sudah tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap apapun dan siapapun. Tapi novel ini memberikan pemahaman yang lebih dari pada ini, bahwa kematian sering kali dipilih karena ketidakberdayaan, bukan karena merasa tercukupi. Setelah tokoh Holden Caulfield di buku Catcher in the Rye karya J.D Salinger, kini saya selalu terbayang-bayang tokoh Naoko. Mereka adalah tokoh yang melawan, sebisa mungkin berusaha terlihat waras di depan orang lain, di hadapan masyarakat yang sebenarnya tidak memahami satu hal pun tentang mereka. 

Norwergian Wood adalah novel dewasa, saya lebih dulu menonton filmnya dan bukunya jauh lebih indah. Di film kita tidak bisa menerima dengan baik bagaimana proses menjadi gila terjadi, namun dengan membaca kita bisa memahaminya, meresapi bagaimana jiwa terancam hingga menyerah dan memilih mengurung semuanya sendirian. Semua rasa sepi, bingung, putus asa, takut, jiwa yang terancam.

Alur yang digunakan adalah alur mundur, penulis menggunakan lagu Norwegian Wood dari The Beatles untuk menghantar pembaca mundur ke tahun 1969, ketika Watanabe masih berusia 19 tahun, jelang 20 tahun. 

Haruki berhasil membuat tertawa dan merinding. Caranya menuturkan kisah sangat menawan, saya tertawa di beberapa bagian dan merinding di bagian lainnya. Ini adalah buku yang saya rekomendasikan untuk mengisi akhir pekan, buku ringan namun memiliki pesan-pesan khusus, terlebih jika kalian memiliki orang terdekat yang menderita gangguan jiwa. Saya tidak bisa berhenti membacanya sejak membuka halaman pertama, novel ini saya beli tahun 2016 tapi baru bisa dibaca hari ini. Ada banyak kisah tentang bunuh diri di dalamnya dan bagi saya buku ini sangat berarti.

Seperti yang disampaikan Haruki melalui sosok Nagasawan, kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Semoga kita memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan buku, tentu saja buku-buku bagus.

Rabu, Maret 28, 2018

Ikan Tapah dan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Ikan Tapah, Predator Raksasa di Perairan Kalimantan

Pandoan, anak sungai yang berada di Sungai Tamambaloh, letaknya di antara Nanga Sungai dan Paat, dua kampung yang tergabung dalam Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Foto: Ache Salalona

Selain ikan Arwana atau ikan siluk, ikan tapah juga cukup dikenal di daerah Kapuas Hulu. Ikan jenis Wallago ini sering disebut sebagai ikan raksasa karena ukurannya yang cukup besar. Sebagai karnivora, ikan tapah sering menyerang lawannya ketika merasa terancam. Maka jangan kaget jika membaca berita di portal media daring mengenai penyerangan yang dilakukan oleh predator raksasa ini. Meski secara pribadi saya belum pernah menjadi korban atau melihat orang di sekitar saya diserang ikan tapah.

Ikan tapah tersebar di beberapa daerah, seperti Kalimantan dan daerah Sarawak, Malaysia. Namun saat ini keberadaan ikan tapah sudah semakin jarang ditemui, termasuk di Kapuas Hulu.

Kabupaten konservasi yang layak disebut laboratorium alam ini nyatanya tidak juga membuat betah ikan-ikan tapah. Namun ini tidak hanya terjadi di Kapuas Hulu dan pada ikan tapah, keberadaan ikan air tawar memang sudah selayaknya jadi perhatian bersama. Seperti yang tertulis di situs berita lingkungan, Mongabay, populasi ikan air tawar mendesak untuk dilindungi.

Seperti yang tercatat di sana, di Indonesia saat ini sebanyak 8500 spesies ikan air tawar hidup di perairan tanah air atu 26 persen dari spesies ikan dunia. Keberadaan ikan air tawar juga semestinya diperhitungkan, pemerintah Indonesia seharusnya tidak hanya konsentrasi melindungi ikan di laut.

Di tengah ramainya seruan untuk melindungi populasi ikan air tawar, ada komunitas tertentu yang justru telah melakukan upaya pelestarian melalui pengetahuan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Ikan tapah memiliki bentuk tubuh seperti pisau dengan kumis yang menjadi ciri khasnya. Panjangnya bisa mencapai 2,4 meter. Di daerah Sarawak ikan ini memiliki legenda tersendiri. Dengan ukuran raksasa ini, mendapatkan ikan tapah merupakan sebuah rejeki, selain ukurannya yang besar, dagingnya juga gurih.

Di Kapuas Hulu ikan tapah sudah jarang dikonsumsi karena populasinya yang semakin berkurang. Namun ada satu daerah yang setiap tahun selalu didatangi ikan tapah, sebuah kampung kecil di Kecamatan Embaloh Hulu yang dikenal sebagai Nanga Sungai.

Kampung kecil yang belum teraliri listrik ini memang menyimpan keunikannya sendiri. Dibanding perkampungan lain di Kapuas Hulu, Nanga Sungai menyimpan banyak eksotisme khas pedalaman Kalimantan, hutan belantaranya masih terjaga, begitu juga biota sungainya. Aktivitas sehari-hari tanpa bantuan tenaga listrik membuat Nanga Sungai seperti dimensi lain di tengah hiruk pikuk masa ini.

Sebuah anak sungai di perbatasan Nanga Sungai dan kampung di sebelahnya, Paat bernama Pandoan menjadi tempat di mana ikan tapah datang tiga kali dalam setahun, kedatangan pertama untuk memantau keadaan atau dalam bahasa Tamambaloh disebut mabas kedatangan kedua untuk bertelur kemudian kedatangan ketiga untuk mengeluarkan telur dan melepas anak-anaknya.

Perlakuan masyarakat terhadap alam membuat kondisi air sungai baik untuk biota air tawar. Maka tidak heran, ketika daerah lain di Kapuas Hulu mulai jarang didatangi ikan tapah, Nanga Sungai justru bisa panen ikan berkumis ini setahun sekali. 

Panen ikan tapah menjadi agenda tahunan yang sudah dilakukan turun-temurun, ritual adat juga menyertai kegiatan ini, kegiatan yang hanya dilakukan di Nanga Sungai karena desa-desa lain tidak  lagi didatangi ikan tapah. 

Mamakar Tapah, Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Masyarakat Nanga Sungai bergotong royong membuat perangkap ikan tapah
Seperti yang diterangkan Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST, mamakar tapah  merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan masyarakat Nanga Sungai. Panen ikan tapah besar-besaran ini dilakukan setahun sekali, hasilnya berlimpah, tidak hanya dikonsumsi bersama keluarga, sebagaian memilih menjualnya keluar kampung.

Mamakar tapah sendiri adalah proses memasang perangkap ketika air sungai agak surut, perangkap yang dipasang harus panjang, sekitar 3 meter. Pemasangan perangkap dilakukan sekitar dua minggu sebelum masyarakat bersama-sama mengail ikan. Penangkapan ikan biasanya dilakukan di bulan September maupun Oktober.

Proses mamakar tapah diawali dengan ritual adat, yaitu pamindara. Tetua adat akan memanggil roh leluhur, mengucapkan permisi agar mereka turut menjaga ikan-ikan tersebut sehingga pintu rezeki mereka tidak tertutup. Pamindara juga dilakukan sebagai tanda bahwa mereka tidak akan mengambil lebih dari yang dibutuhkan.
Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST mengadakan upacara pamindara sebelum kegiatan mamakar tapah dimulai.
Setelah pamindara, masyarakat bergotong royong membuat perangkap. Perangkap dibuat dari bambu, dalam proses ini pihak laki-laki yang banyak bekerja, sedangkan perempuan menyiapkan makanan. Ketika proses mengail ikan maka laki-laki maupun perempuan semuanya turun ke sungai. Karena pekerjaan dilakukan secara gotong royong maka pembagiannya juga dilakukan secara merata.

Penangkan masih menggunakan cara tradisional, dia menegaskan tidak diperbolehkan menangkap ikan menggunakan alat yang membahayakan keberlangsungan ikan-ikan di sungai, hal ini sudah diatur dalam hukum adat masyarakat Tamambaloh. Khusus di Nanga Sungai, aturan ini sangat dijaga ketat karena itulah daerah ini dikenal menghasilkan banyak ikan sejak dulu. Ini tidak terlepas dari konsep mengambil seperlunya dari alam. Pengetahuan nenek moyang yang mereka warisi juga membuat mereka tahu bulan-bulan apa saja ikan tapah mudik, aktivitas apa yang tidak boleh dilakukan mendekati masa-masa itu. Hingga kondisi lingkungan seperti apa yang nyaman untuk ikan tapah. 

"Selama kita masih perlu makan, maka lingkungan harus kita jaga karena kita hidup dari sana, tanah, hutan, air, tiga hal ini ibaratkan nadi kita," ucapnya mengingatkan mengapa tidak boleh menggunakan alat berbahaya saat menangkap ikan, hasil tangkapan saat itu memang banyak, namun semuanya akan mati, tidak ada lagi untuk hari depan. 

Begitu juga prinsip kekeluargaan dan keadilan yang masih dipegang teguh masyarakat di Nanga Sungai, dalam kegiatan mamakar tapah maupun saat menangkapnya, semua warga akan turun, biasanya tiga hari penuh warga Nanga Sungai akan melaksanakan panen ikan tapah hasilnya akan dibagi rata per kepala keluarga.

Dia menuturkan, tahun 1959 dan 1968 merupakan tahun di mana tangkapan mereka sangat besar, kala itu lebih dari 1.000 ekor ikan tapah tertangkap. Saat itu populasi ikan tapah masih jauh lebih banyak dibandingkan sekarang. Meski demikian dia optimis ikan-ikan ini tidak akan hilang dari Nanga Sungai karena mereka selalu menjaga kondisi air, mempertahankan kearifan lokal, sebuah pengetahuan tua yang diwariskan turun temurun, upaya konservasi paling sederhana yang pernah ada.

Tahun 2017, kabar warga Nanga Sungai yang memanen ikan tapah sampai disorot oleh media-media mainstream. Banyak yang heran bagaimana bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bahkan ada yang mengira ikan ini hasil budidaya masyarakat. Padahal warga Nanga Sungai hanya menyediakan tempat alami bagi ikan-ikan yang akan menetaskan telurnya dan melepas anak-anaknya. Tidak ada penangkaran ikan di Nanga Sungai. Ikan-ikan tapah yang masih kecil dibiarkan lewat, tahun depan mereka akan datang kembali, melihat-lihat kondisi di sana, menetaskan telur dan melepaskan anak-anaknya, siklus ini terjadi setiap tahun.

Perangkap dibuat dengan ukuran panjang.
Camat Embaloh Hulu, Hermanus Susanto juga menuturkan pada saya bahwa 7 tahun yang lalu ada beberapa lokasi yang menjadi tempat masuknya ikan tapah, tidak hanya di Nanga Sungai tapi juga di desa lain seperti Ulak Paok dan Nanga Tamao. Namun seiring dengan aktivitas pertanian yang menggunakan pestisida maka populasi ikan tapah di sana jadi berkurang bahkan saat ini sudah tidak pernah dimasuki lagi.

Dia menjelaskan Nanga Sungai bertahan dimasuki Tapah tidak hanya karena memiliki liang yang besar di dasar sungainya, namun kehati-hatian masyarakat dalam melakukan aktivitas perladangan di sekitar wilayah datangnya ikan tapah sangat berpengaruh.

"Masyarakat Nanga Sungai sangat berhati-hati ketika berladang di sekitar perhuluan sungai. Mereka disiplin dalam melidungi kawasan tersebut," ujarnya.

Pengetahuan-pengetahuan nenek moyang juga bertransformasi dengan sangat baik sehingga sampai saat ini masyarakat Nanga Sungai tahu kapan ikan tersebut datang untuk kali pertama, kali kedua, hingga kapan saat yang tepat untuk menangkapnya, bahkan ukuran seperti apa yang boleh ditangkap juga ditaati. Dia berharap kearifan lokal ini tetap terjaga, bahkan dia memiliki rencana agar kearifan lokal ini dibuatkan Perdes sehingga pengelolaannya dapat lebih terorganisir.
 
Setiap tahun masyarakat Nanga Sungai memiliki kegiatan menyenangkan, menangkap ikan bersama-sama, satu kampung. Hasilnya juga sangat berlimpah, tapi mereka tidak menangkap semuanya, anak-anak ikan dibiarkan lepas, kondisi air tetap dijaga karena dengan demikian ikan-ikan akan kembali menuju liang sungai mereka yang dalam dan lapang, itu adalah penangkaran terbaik yang alam sediakan.

Bisa dibayangkan keseruannya, saat semua warga turun ke sungai, bergotong royong memanen apa yang telah mereka usahakan bersama, tidak ada lelah yang sia-sia. Dalam kebersamaan, jerih payah itu terasa sangat nikmat. Bagi mereka, alam telah menyediakan apa yang mereka butuhkan, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menjaganya agar tetap lestari. Mereka yang sederhana dan jauh dari kata modern, mereka yang selalu bersyukur dengan apa yang telah alam sediakan. Mereka yang mengambil secukupnya, tanpa menyakiti, tanpa menghabisi.

Minggu, Maret 18, 2018

[Review] Film Lady Bird, Kisah Tentang Masa Muda yang Manis dan Liar


Lady Bird, film remaja berdurasi 93 menit besutan Greta Gerwig ini merupakan satu di antara film bagus yang bisa dinikmati di akhir pekan kali ini. Lady Bird merupakan film terbaik Golden Globe 2018 dan dimasukkan dalam daftar '10 Film Terbaik 2017’ oleh National Board of Review, American Film Institute serta majalah Time.

Film ini berkisah tentang problem remaja ketika menuju fase dewasa, diperankan dengan baik oleh Saoirse Ronan yang menjadi seorang gadis bernama Christine yang mengalami banyak polemik ketika menjalani masa SMA.

Dia selalu menggunakan nama pilihannya sendiri, yaitu Lady Bird dalam semua kesempatan, baik itu ketika berkenalan kali pertama dengan orang baru maupun saat menulis namanya dalam daftar hadir di kelas. Pembawaannya humoris, dan keras kepala. Dia juga sangat cerdas dan ambisius.

Christine mewakili para remaja yang percaya sepenuhnya pada impiannya, bahwa aku bisa jadi apa yang aku mau.

Menonton film ini membuat saya selalu tertawa, film ini manis dan mengiris di satu sisi. Christine tidak berasal dari keluarga yang berkecukupan, ibunya hanyalah seorang pegawai kesehatan dan ayahnya baru saja diberhentikan karena perusahaan menginginkan SDM yang lebih muda dan inovatif. Dia juga memiliki seorang kakak lelaki yang idealis, di sebuah rumah mungil di tepian kota Sacramento. Hubungan Christine dengan keluarganya tidak harmonis, terutama dengan sang ibu.

Mereka selalu bertengkar, Christine merasa sudah melakukan banyak hal untuk membuat ibunya merasa beruntung memiliki seorang puteri sepertinya tapi ibunya juga merasa sudah berusaha keras memenuhi keinginana Christine namun tidak pernah dihargai. Christine memiliki selera dan lifestyle yang tinggi, dia tumbuh bersama impian untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi bergengsi kelak.

Satu-satunya sahabat yang dia punya adalah Julianne Steffans, namun mereka mengalami pertengkaran karena Christine ingin bergabung dengan kelompok gadis popular di sekolahnya. Khas film remaja, semua yang ditampilkan sangat murni seperti kejadian yang kita alami ketika remaja.
Christine juga mengalami patah hati karena kekasihnya ternyata gay. Permasalahan yang dihadapinya pun semakin bertambah. Masa-masa terakhir di SMA ibaratkan kutukan. Jika penasaran seperti apa kisah Lady Bird menghadapi berbagai permasalahan, apakah dia menyerah pada impiannya untuk keluar dari Sacramento? silakan ditonton.


Rekomendasi
Lady Bird saya rekomendasikan untuk para remaja yang membaca ulasan ini, untuk para orang tua dan kakak agar memahami emosi remaja, untuk kita semua yang pernah muda karena film ini sangat manis, mampu menghadirkan kenangan lalu tentang kisah kita saat menjalani masa SMA.

Semua orang memiliki kisahnya sendiri ketika remaja, begitulah Lady Bird dibuat agar semua penonton bisa mengenang masa-masa itu. Melalui Christine kita juga diingatkan bahwa kita pernah berjuang mati-matian untuk sesuatu yang kita anggap penting bagi masa depan kita meski nyatanya itu hanya ambisi. Film ini sangat murni, polos, penuh kesan dan pesan.

Sabtu, Maret 17, 2018

Download dan Install PUBG Mobile Gratis!

Game PUBG alias PLAYERUNKNOWN'S BATTLEGROUND telah lebih dari sebulan yang lalu, namun sayangnya masih dalam status Beta dan hanya berbahasa Cina. Sekarang PUBG telah resmi rilis, dan untuk sementara waktu hanya untuk wilayah Amerika Utara, khususnya Canada. Sejauh ini belum ada informasi yang jelas kapan PUBG Mobile bisa dinikmati para Gamer Indonesia.


 Tapiii..jangan berkecil hati. Kita masih bisa menikmati PUBG dengan cara sideload install. Ikuti cara di bawah ini:

  • Pastikan Smartphone anda terhubung dengan WiFi, karena ukuran file yang akan diunduh cukup besar, sekitar 700 MB. Pastikan juga penyimpanan internal lebih memiliki ruang kosong lebih dari 1 GB
  • Unduh aplikasi Mega di Playstore, karena link lebih mudah dan lebih cepat untuk mengunduh kedua file yang akan diunduh 
  • Unduh file apk PUBG Mobile di sini. Jangan langsung dipasang aplikasinya karena harus ada file OBB terlebih dahulu.
  • Unduh juga file OBB PUBG Mobile di sini
  • Lalu salin atau pindahkan file OBB PUBG yang telah diunduh ke folder Internal storage/Android/obb
  • Sekarang baru pasang aplikasi PUBG Mobile yang sudah diunduh sebelumnya
  • Dan selamat bermain!
Kode dan versi :
  • Version: 0.3.2
  • Architecture: arm
  • Min: Android 4.3 
  • DPI: nodpi
 Screenshot tampilan Game PUBG Mobile


Source : XDA Thread App

Kamis, Maret 15, 2018

Xperia Z2 Update Android Oreo 8.1.0

Pada postingan yang lalu saya telah memberikan tutorial update Xperia Z2 ke Android Nougat, nah kali ini kita akan melangkah setahap lebih tinggi, yakni menginstall Oreo 8.1.0 pada Smarthphone yang dirilis tahun 2016 oleh Sony ini. Saya yakin masih banyak yang masih menggunakan Sirius alias Xperia Z2, karena hp ini masih sangat mumpuni untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk sosial media atau pun gaming yang lagi kekinian yakni Mobile Legends. Dan saya salah satu yang masih menggunakan hp ini...

 
Cara ini telah saya coba sendiri, dan terbukti tidak ada masalah pada saat proses instalasi ROM 8.1.0 Ressurection Remix ini. Silahkan ikuti secara perlahan, jangan lupa siapkan kopi secangkir...

  • Unlock Bootloader Xperia Z2 dulu, jika sudah lanjut ke tahap selanjutnya. Xperia Z2 wajib sudah terinstall TWRP Recovery, silahkan googling caranya ya...
  • Download ROM di sini dan GAaps 8.1.0 ARM Pico atau Nano
  • Download TWRP recovery 3.2.1-1 jangan lupa di-rename menjadi "recovery.img"
  • Extract file "boot.img" yang berada di dalam file ROM Resurrection Remix yang sudah di download
  • Masuk ke dalam TWRP recovery, pilih "install image" lalu flash file "recovery.img" yang telah didownload, setelah sukses pilih reboot lalu pilih recovery dan akan kembali ke recovery versi baru
  • Tetap di TWRP Recovery kemudian flash file "boot.img" yang sebelumnya telah diekstraik dari file zip ROM Resurrection Remix OS 8.1.0
  • Ini yang penting, lakukan CLEAN FLASH. Wipe sytsem, cache, dalvik cache dan data
  • Setelah itu, flash ROM, GAaps. (OPSIONAL, jika Xperia Z2 milik anda versi baseband D6502 silahkan flash juga file zip ini ) Flash SuperSU atau Magisk (pada saat saya tulis artikel ini, Magisk sudah versi 16) jika ingin menikmati indahnya rooting. Lalu pencet reboot system
  • Sabar, dan silahkan nikmati kopinya. Karena booting up pertama kali memakan waktu yang lumayan lama, 10-20 menitan
  • Setelah berhasil booting up, silakan setting sesuai keingan lalu download aplikasi carrier service agar tidak mengalami masalah saat menggunakan paket data
  • Selamat menikmati Smartphone lama rasa baru..


Bugs pada ROM Resurrection Remix Oreo 8.1.0 ini adalah tidak bisa melakukan recording video, untuk bisa melakukan recording video saya sarankan untuk mendownload aplikasi Cameringo di Playstore. ROM Oreo ini juga telah ditanamkan OMS untuk menikmati tema-tema Substratum.

 

Jika terjadi masalah, jangan segan untuk komentar di bawah. Akan saya bantu sebisanya, cheers!

Sumber : XDA Developers

Rabu, Maret 14, 2018

[Review] Film Asimetris; Sawit dan Masyarakat yang Sakit


Mulai dari jurnalis, aktivis lingkungan, pegiat sosial, akademisi hingga mahasiswa memadati aula Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Kalbar untuk menyaksikan layar tancap perdana film Asimetris, sebuah film dokumenter produksi Watchdoc tentang dampak perkebunan kelapa sawit yang dirasakan masyarakat di Kalimantan, Sumatera, hingga bagian selatan Papua.

Film garapan Dandhy Laksono dan Indra Jati yang menjadi bagian dari Ekspedisi Indonesia Biru ini berhasil membius penonton, puluhan pasang mata fokus memperhatikan bagaimana dampak industri kelapa sawit terhadap perekonomian, lingkungan, dan tatanan masyarakat mulai dari pemerintah, petugas keamanan, petani, hingga media.

Tidak hanya memperlihatkan bencana ekologis dari industri yang menjadi andalan Indonesia, film berdurasi 68 menit ini pun menjelaskan bagaimana pentingnya kelapa sawit dalam menunjang kehidupan manusia, mulai dari makanan, bio-kimia, hingga bahan bakar bahkan di masa yang akan datang digunakan sebagai campuran avtur.

Asimetris menguak permasalahan yang diakibatkan oleh industri kelapa sawit mulai dari tahun 2015 hingga 2018. Mulai dari bencana asap yang melanda Kalimantan dan Sumatera hingga ekspansi kelapa sawit di Merauke dan Digul, Papua yang mengancam hak hidup masyarakat karena dengan tergantinya pohon sagu dengan pohon sawit maka makanan pokok mereka juga akan berkurang. Bencana ekologis lainnya diakibatkan oleh limbah perusahaan yang dibuang ke sungai sehingga menyebabkan tercemarnya sungai.

Tidak hanya itu, konflik agraria juga mewarnai kehadiran perkebunan kelapa sawit, tahun 2017, Badan Restorasi Gambut yang dibentuk tahun 2016 oleh Jokowi mencatat ada 650 konflik agraria terjadi di Indonesia di mana 1/3 konflik merupakan konflik perkebunan kelapa sawit. Konflik agraria ini pun membuat banyak masyarakat lokal di berbagai daerah menjadi korban kriminalisasi oleh korporasi besar.


Film ini menyampaikan berbagai sudut pandang, merekam kepingan cerita dari masyarakat yang berjuang mempertahankan tanah dari korporasi hingga bukti-bukti bank apa saja yang memberikan pinjaman untuk mendukung industri ini. Mulai dari petani yang bekerja di lahan perusahaan hingga yang memiliki kebun secara mandiri. Ada juga komunitas-komunitas yang menolak investasi jenis ini dan memilih jalan lain untuk bertahan hidup. Meski tak sedikit pula yang menyerah dan akhirnya menggantungkan hidup di lahan yang ditanami sawit.

Asimetris merekam dengan baik bagaimana industri ini menggiurkan sehingga pemerintah menggenjot habis-habisan industri kelapa sawit, namun yang jadi pertanyaan jika Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, mengapa petani sawit tetap jauh dari kata sejahtera? sebenarnya siapa yang diuntungkan dalam industri ini? sistem seperti apa yang membelenggu? jawabannya ada di film Asimetris.

Pada akhirnya, pikiran masing-masing penonton akan menentukan nasib film ini. Bagi saya film ini mendidik dan sayang jika tidak saya ceritakan, emosi bercampur aduk saat menyaksikan Asimetris, isu perkebunan kelapa sawit sangat dekat dengan saya. Ketika masih SMA, perjuangan komunitas saya, komunitas adat Dayak Tamambaloh di Kecamatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu untuk menentang industri ini sangat dramatis. Saya pernah tuliskan di sini.

film ini sangat saya sarankan untuk disaksikan bersama masyarakat (terutama masyarakat pedesaan yang masih bingung dengan investasi kelapa sawit) akan lebih baik jika ada pemerintah dan pengusaha, tidak sekadar mengedukasi, film ini juga mengungkapkan apa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, atau terlalu panjang untuk diungkapkan dengan tulisan.