Sabtu, Maret 06, 2021

Ragam Komoditas Lokal untuk Kecantikan dan Kesehatan


 



Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat orang-orang di sekitar saya memanfaatkan bahan alami untuk merawat kulit dan rambut. Ibu menghilangkan bekas cacar di badan saya menggunakan daun pakis hijau yang dihaluskan lalu dibalurkan di tubuh saya. Satu minggu sekali nenek sering menggosok rambut saya dengan minyak dari biji karet yang dibakar, fungsinya agar rambut lebat dan hitam.

Komoditas lokal yang potensial untuk kosmetik seperti lidah buaya juga saya gunakan sebagai masker saat usia SMP, ketika jerawat menghiasi wajah saya bagaikan remahan kacang di atas wafer cokelat. Dengan lidah buaya, jerawat yang meradang cepat mengering. Kami juga sering menggunakan madu di wajah setelah berpanas-panasan di ladang, ini petuah agar wajah tak kusam. 

Tak hanya itu, saya dan teman-teman masa kecil sering mewarnai kuku menggunakan daun bunga pacar, maklum kuteks adalah sesuatu yang sangat langka di masa itu. Kehidupan di desa dengan hutan yang masih terjaga mengajarkan kami bahwa untuk menjadi cantik hanya perlu mencari dan mengolah sendiri bahan-bahan yang sudah disedikan alam. Kosmetik dari pasar adalah sesuatu yang sangat baru untuk masyarakat di komunitas saya. 

Dulu sebelum toko hadir, orang-orang di generasi ibu saya hanya mengenal bedak. Itu juga didapatkan kalau ada yang ke ibukota kabupaten, menempuh perjalanan jauh berhari-hari atau naik motor air belasan jam. Perawatan untuk kulit dan rambut, termasuk kesehatan sangat mengandalkan pengetahuan tentang alam. Itulah yang membuat kami, suku Dayak Tamambalo memandang bahwa alam adalah realita yang hidup dan aktif bahkan interaktif (Efriani, 2019).  


Bicara tentang komoditas lokal dan pemanfaatannya, saya tertarik menceritakan komoditas lokal  yang ada di Kapuas Hulu. Terutama yang berada di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Wilayah ini didiami masyarakat suku Dayak Tamambalo dan Iban di mana keanekaragaman hayati tak hanya mempengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan kebudayaan, tapi juga menjadi bagian dari identitas. 


Komoditas lokal yang diproduksi petani madu di sekitar Danau Sentarum

Di sini beberapa lembaga memberdayakan masyarakat untuk mengelola komoditas berkelanjutan seperti madu dan tengkawang yang merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Sudah sejak dulu, oleh komunitas Iban maupun Tamambalo, madu serta tengkawang digunakan untuk kesehatan serta kecantikan. 

Namun, ketika mereka berupaya membawa komoditas ini ke pasar, harga yang mereka dapatkan sangat rendah. Madu hanya dihargai Rp 20.000/kg padahal madu yang mereka sediakan memiliki kualitas wahid. Madu di wilayah TNDS dihasilkan oleh jenis lebah Apis Dorsata. Lebah unggulan petani madu organik di berbagai wilayah Indonesia. 


Saat pendampingan dilakukan, masyarakat mulai menerapkan panen lestari dan internal control system (ICS) sehingga mutu produk meningkat dan komoditas lokal  memiliki nilai jual tinggi. Harga madu hutan organik kini bisa mencapai 150.000/kg dan ini bisa membantu masyarakat sejahtera. Produk yang mereka hasilkan tak hanya menunjang perekonomian, tapi juga termasuk kategori komoditas berkelanjutan karena dihasilkan dengan cara-cara yang tidak merusak habitatnya. 


Komoditas lokal lainnya adalah tengkawang (Shorea spp.) yang lebih dikenal oleh masyarakat umum sebagai meranti. Di wilayah TNBK dan TNDS tengkawang dikenal juga sebagai engkabang (Iban) atau kakawang (Tamambalo) ini adalah jenis pohon asli hutan Indonesia bagian barat. Bijinya dikeringkawan lalu dijual pada pengepul. Di pasar internasional biji tengkawang dikenal sebagai illipe nuts.

Pengepul yang datang ke wilayah ini biasanya berasal dari Malaysia. Harga belinya sangat rendah, Misalnya di Desa Labian Ira'ang, sebelum mendapat pendampingan untuk pengelolaan minyak tengkawang. Biji tengkawang dijual dengan harga Rp 2.000/kg.

Setelah mendapat pendampingan, mereka mulai mengolah sendiri minyak tengkawang. Jika dulu orang-orang tua di kampung hanya tahu minyak tengkawang untuk dinikmati dengan nasi panas, kini mereka memproduksi mentega dan sabun. Harga jualnya pun jauh lebih tinggi. Mentega tengkawang yang sudah dikemas dengan takaran 200 gram dihargai Rp 25.000/ kemasan. Untuk ukuran 500 gram dijual Rp. 50.000.

Masyarakat di desa ini mulai mengenal disverifikasi produk, pelan-pelan mereka mencoba membuat sabun dan memasarkannya ke wilayah sekitar desa. Mereka memanfaatkan BUMDes dan festival-festival budaya sebelum pandemi. Ini menjadi sumber perekonomian alternatif dan jika dikembangkan dengan baik tentu membantu masyarakat sejahtera.

Dua komoditas ini merupakan sedikit contoh yang bisa dengan mudah saya jelaskan. Indonesia yang luas ini memiliki beragam tumbuhan, di tempat kawan-kawan pasti ada komoditas lain yang bisa dijadikan bahan kosmetik dan kesehatan. Silakan list masing-masing ya! Bayangkan jika kita bisa menggali lokalitas dan belajar dari cara masyarakat adat mengelola alamnya, mungkin kita bisa temukan lebih banyak tumbuhan-tumbuhan penolong lainnya. 


Menjadi Konsumen yang Bertanggung Jawab




Pendiri Martha Tilaar Group, Dr. Martha Tilaar, mengatakan, dari 30.000 jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia,  hanya 7000 jenis yang diidentifikasi memiliki potensi untuk kesehatan, obat-obatan, dan kosmetika. 

Jika dulu komoditas lokal yang beragam ini menarik datangnya penjajah, mungkin di tangan generasi masa kini yang memiliki rasa empati dan tanggung jawab terhadap produk yang dikonsumsinya komoditas lokal bisa membuat masyarakat sejahtera. Tidak hanya mensejahterakan orang-orang yang duduk di menara gading. 

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia


Ada satu perusahaan yang membuat saya optimis dan memiliki harapan pada komoditas lokal dan kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak. Perusahaan ini adalah Javara, perusahaan bahan pangan organik yang bermitra dengan puluhan ribu petani di Indonesia. Pendirinya, Helianti Hilman merupakan my spirit lady. Dia membuka jalan bagi para petani untuk memasarkan produknya hingga ke mancanegara dan ini memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi petani mitra.

Javara menjual beras, tepung, bumbu dapur, minyak kelapa, gula kelapa, madu, dan aneka camilan yang diolah menggunakan bahan pangan lokal. Kini produk Javara telah tersebar di 23 negara yang ada di lima benua. Javara pun menggandeng puluhan ribu petani lokal untuk dipasarkan produknya di dunia internasional. Target pasarnya adalah para pembeli yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab mengenai barang-barang yang mereka konsumsi.  Di tengah pagebluk, penjualan Javara justru naik sampai 30 persen.

Jika produk pangan punya tempat secerah ini di kalangan konsumen, produk kosmetik harusnya memiliki kesempatan yang sama. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyampaikan bahwa sektor kosmetik tumbuh signifikan pada 2020. Dikutip dari Antara, hal ini terlihat dari kinerja pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, di mana kosmetik termasuk di dalamnya, tumbuh 9,39 persen.

Berdasarkan data BPS, kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) pada kuartal I/2020 tumbuh 5,59 persen. Kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signfikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus US$317 juta pada semester 1/2020 atau naik 15,2 persen secara tahunan. Data ini bisa jadi pijakan untuk melihat peluang komoditas lokal sebagai bahan baku produk kecantikan dan kesehatan.

Namun, sesungguhnya ketika bicara tentang lingkungan, ada nilai penting yang harus kita pahami bahwa sumber daya alam bukan hanya tentang produksi dan konsumsi. Dulu sebelum peradaban  mengenal “aset”, komunitas-komunitas adat di nusantara melihat alam setara dengan manusia. 

Itulah yang saya rasakan di komunitas saya. Pekerjaan rumah kita sekarang adalah bagaimana mengelola komoditas lokal menjadi lebih atraktif dan berdaya saing sambil mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lestari, adil, dan berkelanjutan. Lestari bagi alam, adil untuk masyarakat, dan berkelanjutan hingga ke anak cucu. 

Komoditas lokal yang saat ini kita kenal sebagai produk olahan untuk merawat kecantikan maupun kesehatan, sesungguhnya memiliki kebudayaan dan cerita, dia bukan sekadar aset. Komoditas lokal itu adalah bagian dari ekosistem, kita juga adalah bagian dari ekosistem ini. Kesadaran konsumen terhadap nilai di balik produk perlu dibangun.

Mungkin kita bisa sama-sama menunjukkan rasa tanggung jawab dan syukur kita pada kehidupan melalui hal-hal kecil yang konsisten kita lakukan. Misalnya menjadi konsumen yang bertanggung jawab dalam memilih produk kosmetik.

Pilihlah produk kosmetik yang ramah lingkungan, berkelanjutan dan dihasilkan dengan cara yang adil. Jika kamu membeli produk seperti ini kamu tidak hanya sedang menyelamatkan bumi tapi juga membantu memberdayakan masyarakat yang mengolahnya. Lingkungan terjaga, masyarakat sejahtera.