Senin, April 19, 2021

Menjaga Hutan; Menjaga Sesama dengan Cara Paling Heroik



Beberapa tahun yang lalu aku pernah terlibat obrolan dengan seorang perempuan Eropa. Dia sedang dalam perjalanan menuju Sungai Utik, sebuah dusun di Embaloh Hulu yang mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.

Ada satu kalimat darinya yang tersisa setelah obrolan singkat itu. "Aku merasa tidak terhubung dengan alam, itu membuatku semakin hari semakin tidak bahagia," itu yang dia ungkapkan saat aku penasaran mengapa dia mau jauh-jauh datang melintasi benua.

Meski ukuran kebahagiaan orang berbeda-beda, tapi sebagai orang yang tinggal di kawasan yang masih hijau aku merasakan kehidupan jauh lebih mudah dan itu membuat bahagia. Pangan tak perlu beli karena bisa menanamnya sendiri, atau kalau rajin meramu kita bisa mendapatkan beragam pangan hutan.

Kami masih merasakan air sungai jernih dan udara segar, walaupun sekarang air di tempatku sering keruh ketika hujan. Nenek dan kakekku sering cerita dulu air sungai kami sangat jernih, sampai-sampai bisa diminum tanpa perlu dimasak. Meski saat ini kondisi lingkungan mengalami penurunan kualitas akibat ilegal logging awal tahun 2000-an silam, aku tetap bersyukur setidaknya sungai Tamambalo masih jernih di hari-hari cerah.

Di bulan-bulan tertentu kampungku melaksanakan panen ikan tapah - jenis ikan predator air tawar - yang dilakukan bersama-sama oleh seluruh warga. Hasilnya juga dibagi bersama. Kebutuhan protein masih terpenuhi oleh sungai dan hutan yang tetap dijaga. Manfaat ini bisa dirasakan oleh seluruh warga di kampung.



Yuyun Harmono manajer kampanye WALHI menyebut hal ini sebagai co-benefits dari upaya menjaga kelestarian hutan. Saat menjadi narasumber dalam kegiatan Eco Blogger Squad Earth Day Gathering untuk memperingati Hari Bumi. Selain WALHI, ada juga Gita Syahrani, kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari, dan Cristian Natalie, program manager di hutanitu.id. Ketiga lembaga ini bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network untuk berbagi pengetahuan mengenai hutan Indonesia sebagai solusi dalam mitigasi perubahan iklim. 

Manajer kampanye WALHI ini bercerita tentang komunitas adat Seberuang di Dusun Silit, sebuah dusun yang berada di pedalaman Sintang. Komunitas ini berusaha mandiri dengan memanfaatkan hutan. Aku juga pernah menulis tentang Dusun Silit sekitar tiga tahun yang lalu. Tulisannya bisa teman-teman baca di sini.

Saat ini warga Silit sedang berusaha mendapatkan pengakuan hutan adat dari negara. Masyarakat di sini menjaga hutan sehingga ketersediaan pangan dan air mereka juga aman. Ini membuat kebutuhan energi listrik terpenuhi karena mereka menggunakan PLTA. Teknologi yang digunakan sangat sederhana sehingga mereka tidak tergantung pada teknisi di kota ketika ada kerusakan.

Pemanfaatan energi terbarukan seperti listrik dari tenaga air bisa jadi solusi untuk permasalahan iklim yang kita hadapi. Hah, kenapa jadi bicara iklim? hmmm benang merahnya begini.


Tren bencana sepanjang 2009-2019 menunjukkan 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana yang dipengaruhi oleh perubahan iklim (bencana hidrometeorologi) misalnya banjir, tanah longsor, atau puting beliung. Selama sepuluh tahun bencana ini terus meningkat.

Berdasarkan data yang dipaparkan Yuyun Harmono, kebiasaan manusia juga berkontribusi pada meningkatnya krisis iklim. Terutama dari sektor berbasis lahan dan sektor energi. Tahun 2020 sektor berbasis lahan menempati urutan pertama untuk penyumbang emisi gas rumah kaca. Namun tahun 2017 justru yang semakin meningkat adalah sektor energi. Diprediksi 10 tahun lagi sektor energi akan jadi kontributor emisi terbesar.





Harus ada kebijakan dari pemerintah untuk menekan laju emisi yang dikeluarkan oleh sektor energi maupun yang berbasis lahan. Saat bicara "menekan laju emisi" bukan berarti kita langsung berhenti menggunakan energi dalam keseharian kita.

WALHI menawarkan prinsip Energi Berkeadilan, yaitu:

1. Menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia
2. Aman terhadap iklim dan berdasarkan pada teknologi yang tersedia di lokal dan berdampak rendah
3. Di bawah kontrol langsung oleh publik dan diatur untuk kepentingan publik
4. Memastikan hak-hak pekerja sektor energi
5. Memastikan hak free, prior and informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak
6. Berskala kecil dan terdesentralisasi
7. Memastikan penggunaan energi yang adil dan seimbang serta meminimalkan limbah energi. 

Kenyataan saat ini masih banyak daerah-daerah pelosok yang belum mendapat akses energi. Pada tahun 2018, sebanyak 5,2 juta penduduk Indonesia belum dapat listrik. Sementara itu ada daerah yang teraliri energi berlebih. Apakah itu adil? 

Yuyun Harmono menegaskan, untuk mengakses sumber energi tanpa memperparah krisis iklim, pemerintah perlu secepatnya melakukan transisi. Tapi tentu saja tetap berkeadilan, transisi berkeadilan berarti tidak meninggalkan aspek buruh dan pekerjaan yang layak juga menjamin kedaulatan pangan dan melindungi hutan serta keanekaragaman hayati. 

Apa ini terdengar berat? Saatnya mengeluarkan kalimat andalan Sisca Kohl "Mari kita coba!!!". Contoh kecil bagaimana energi berkeadilan bisa terwujud bisa dilihat di Dusun Silit. Di mana keadilan energi  terwujud lewat pengelolaan hutan yang diberikan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan langsung. 

Hutan lestari menjamin ketersediaan air yang menjadi sumber energi masyarakat. Hutan juga jadi sumber pangan, masyarakat Silit juga mempraktikkan pertanian tradisional skala kecil, dan mereka juga menerapkan sistem perekonomian berbasis rakyat bantu rakyat lewat Credit Union. 

Apa yang ada di Silit mungkin bisa diadopsi oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Mitigasi krisis iklim bisa dilakukan dengan menjaga hutan tetap lestari. Ini bukan tugas segelintir orang saja, kita tidak bisa hanya membebankannya pada pemerintah, masyarakat adat, atau aktivis lingkungan. Ini adalah kerjasama semua orang di Bumi. Bicara tentang Bumi, sebentar lagi Hari Bumi lho! tepatnya pada tanggal 22 April nanti. 

sumber: whatsupmag.com 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sejarah Hari Bumi bermula dari gerakan akar rumput yang dilakukan oleh akademisi lingkungan di Amerika Serikat yang bernama Gaylord Nelson pada tahun 1970 sebagai respon akibat tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California. Sekarang perayaan ini digelar tingkat dunia.

Tapi sebenarnya perayaan Hari Bumi adalah perayaan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri, seperti yang Gita Syahrani sampaikan pada sesi kedua dalam kegiatan ini. Seperti biasa, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) ini tidak bosan-bosannya mengingatkan semangat gotong royong agar pembangunan yang adil dan berkelanjutan bisa terwujud di Indonesia. 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Indonesia punya pendekatan ekonomi yang harusnya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan. Tapi sebagus apapun visi ekonomi kita kalau tanah, air, dan udara sudah tidak sehat, visi itu akan sulit tercapai. Sama seperti tubuh kita, mau sebanyak apapun uang yang kita miliki kalau kita tidak sehat maka kualitas hidup kita juga akan buruk.  

Kita bisa saling jaga dengan cara mendukung upaya untuk mempertahankan keberadaan hutan. Terlibat langsung dengan masyarakat sekitar hutan mungkin terdengar sulit bagi kawan-kawan yang di kota. Nah, kawan-kawan bisa tetap terhubung dengan hutan dan kita bisa saling bantu dengan cara membeli produk lokal, tapi produk lokal yang ramah lingkungan dan ramah sosial ya. 

Ini juga bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar hutan lho. Karena masyarakat sekitar hutan juga punya impian untuk menikmati kualitas hidup yang tidak bisa didapatkan secara langsung dari hutan. 

Topi dari rotan hasil hutan bukan kayu / Dok. @handepharuei

Misalnya saat kamu membeli topi atau tas rotan yang diproduksi kelompok perempuan di sebuah komunitas. Kamu tidak hanya membeli sebuah kerajinan, tapi kamu sedang membantu seorang ibu untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang mungkin dia gunakan agar anak-anaknya bisa sekolah, untuk mendapat akses kesehatan, atau bisa juga sebagai uang tabungan.

Itu adalah bentuk dukungan kita bagi mereka yang menjaga hutan. Karena tidak adil dong kalau kita teriak-teriak menjaga hutan tapi tidak peduli dengan keberadaan manusia sekitar kawasan. Kita bisa saling dukung dengan beragam cara. Misalnya mengonsumsi produk hasil hutan bukan kayu, atau ikut mengadopsi pohon di hutanitu.id.

Produksi hasil hutan bukan kayu itu apa saja sih? produknya beragam, bisa produk pangan, kerajinan, atau jasa lingkungan. Nah, perempuan yang kuceritakan tadi sedang mengonsumsi produk hasil hutan bukan kayu dalam bentuk jasa lingkungan. Jasa lingkungan ini bisa berupa wisata alam, keindahan landskap, perlindungan tata air, maupun kesuburan tanah.

Kalau orang luar saja rela melintasi benua untuk menikmati keindahan hutan Indonesia, masa kamu gak tertarik sama sekali. Jungle camping itu seru lho! kita di Indonesia masih memiliki banyak kesempatan untuk menikmati keindahan hutan kita, jangan sampai kita melewatkannya begitu saja.




Karena tinggal di kawasan hutan aku bisa merasakan udara dan air bersih, dapat menikmati protein, buah, maupun sayuran segar, dan menikmati keindahan landskap yang sudah cantik tanpa perlu dipoles. Bahkan dalam perjalanan dari kampung ke kota aku bisa meraskan Ghibli Vibes hahaha. Bagiku hutan bukan hanya sehamparan pohon atau aset, itu adalah bagian dari identitasku sebagai orang Tamambalo.

Leluhurku menamai sungai yang mengalir di wilayah kami dengan nama Sungai Tamambalo. Tamambalo berasal dari kata Taumamlalo yang merupakan kekaguman pada kondisi alam di sekitar sungai tersebut. Leluhurku mengenal pembagian kawasan, pengetahun ini masih digunakan sampai sekarang. Karena itulah kami masih memiliki hutan bersama yang disebut Toan Palalo. Hutan ini dikelola bersama oleh Orang Tamambalo berdasarkan aturan adat.

Hutan juga inspirasiku dalam berkarya. Aku sangat takjub dengan orangutan dan burung enggang yang masih ada di kawasan hutan Kapuas Hulu. Aku pernah menulis cerita bergambar yang terinspirasi dari burung enggang, kawan-kawan bisa baca di sini. .

Cover untuk cerita bergambar Kisah Sang Enggang Pemberani / Artwork oleh Pamca Esti

Karena merasakan manfaat memiliki hutan, aku ingin turut serta menjaga keberadaannya. Menjaga hutan berarti menjaga ruang hidup, itu juga menjaga sesamaku. Para pendahuluku sudah melakukan itu untukku, dan akan kulakukan juga untuk generasi Tamambalo selanjutnya. Akan kulakukan sebisaku. Itu adalah cara paling heroik yang pernah aku pikirkan, karena selama ini hutanlah yang selalu memberi kebaikannya. Hutanlah yang menjagaku agar tetap bernapas, agar kami dapat bertani di tanah yang subur, dan aku bisa jualan madu hahaha.

Rabu, April 14, 2021

Mengenal Sustainable Beauty and Wellness Lebih Dalam di Blogger Gathering #LestarikanCantikmu

 


Sudah lama rasanya tidak gathering bersama teman-teman blogger. Kesempatan itu akhirnya datang lagi, aku mengikuti Blogger Gathering #LestarikanCantikmu untuk mengenal sustainable beauty and wellness lebih dalam. 

Gathering ini diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan Network. ⁣Lingkar Temu Kabupaten Lestari adalah forum kolaborasi Kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Ada beberapa kabupaten tergabung dan Kapuas Hulu salah satunya. ⁣Bagaimana upaya kawan-kawan LTKL untuk menyebarkan semangat gotong royong agar pembangunan yang adil dan berkelanjutan terwujud bisa teman-teman lihat di kanal YouTube Lingkar Temu Kabupaten Lestari

Sementara Madani Berkelanjutan merupakan lembaga nirlaba yang berupaya menjembatani hubungan antar pemangku kepentingan baik itu pemerintah, swasta, atau masyarakat sipil untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan. ⁣

Kedua lembaga ini menggandeng Blogger Perempuan Network (BPN) untuk bekerjasma. BPN ialah jejaring blogger perempuan di Indonesia yang memiiki misi mendukung blogger perempuan Indonesia di ruang digital dan meningkatkan konten mereka ke level selanjutnya.⁣


Bagi saya kerjasama ini merupakan strategi campaign yang menarik dari teman-teman pegiat isu lingkungan agar penyadartahuan yang selama ini mereka lakukan bisa tersampaikan lebih luas.⁣

Peserta gathering adalah  30 blogger terpilih setelah mengikuti kompetensi blog #LestarikanCantikmu bulan lalu. Aku jadi satu di antara peserta terpilih dan tulisanku menjadi juara kedua dalam kompetensi ini. Tulisan yang aku submit kemarin bisa teman-teman baca di sini yah! 

Kali ini kami ditemani tiga orang yang menjadi narasumber. Ada Mas @danangwisnu seorang skincare content creator, Kak Gita Syahrani dari @kabupatenlestari dan Kak Christine Pan pendiri @segaranaturals. Dengan latar belakang yang mereka miliki, kami diajak untuk memahami lebih dalam mengenai sustainable beauty and wellness. 

Sebelum itu  kita perlu tahu bagaimana sejarah kosmetik yang berhubungan juga dengan perawatan kulit. Seorang profesor di Universitas Hungarian, Nora Amberg dalam jurnal ilmiahnya menyinggung sekilas tentang sejarah kosmetik. Dia menuliskan sejarah kosmetik telah dimulai pada zaman Mesir kuno namun penggunaannya lebih pada tujuan kebersihan dan untuk perawatan kesehatan. 

Orang Mesir kuno tidak hanya merawat kulit untuk jadi sehat tapi juga melakukan perawatan kulit untuk keperluan ritual mumifikasi dan penguburan. Perawatan ini dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan mereka tentang tumbuhan, minyak, dan senyawa organik.

Seiring perubahan jaman, perawatan kulit kini tidak lagi menggunakan tumbuhan secara langsung. Bahan-bahan harus diolah dulu untuk menjadi produk kesehatan kulit maupun kosmetik.

Di Indonesia, industri kosmetik memiliki panggung yang cukup cerah. Mengutip dari laman kemenprin.go.id, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) menyebutkan bahwa industri farmasi, bahan farmasi dan kosmetik merupakan salah satu sektor andalan yang mendapat prioritas pengembangan dan berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian di masa yang akan datang.

Ini terdengar menarik dan bisa saja jadi peluang mengingat Indonesia kaya dengan potensi alam. Namun kita juga harus mempertimbangkan dampak apa yang akan dibawa oleh produk-produk kosmetik ini, tidak hanya dampak secara sosial dan ekonomi tapi juga bagi lingkungan. 

Kompas.com menyebut pada tahun 2015 diperkirakan 61 persen kemasan kosmetik dan perawatan kulit terbuat dari plastik, dan pada tahun 2019 produk ini naik sampai 12 persen. Jika produsen maupun konsumen tidak mengenal sustainable beauty and wellness lebih dalam, upaya untuk merawat kesehatan kulit mungkin akan kontradiksi dengan kepedulian pada Bumi. 

Sustainable Beauty and Wellness⁣



Konsep sustainable beauty muncul atas respon terhadap sampah plastik dari kemasan kosmetik, hingga bahan kimia yang ikut terbuang dan mencemari kehidupan di laut.   

Pada sesi pertama, pemateri mengajak kami untuk memiliki sesuatu yang aku sebut "prinsip berkesadaran". Ini untuk menggambarkan perilaku menggunakan produk atau jasa karena memang membutuhkannya, bukan sekadar impulsif.

Sesi yang dibahas bersama Danang Wisnu, skincare content creator yang juga merupakan seorang dokter gigi ini lebih menekankan perlunya konsumen aware pada kandungan skincare yang digunakan. 

Mungkin karena latar belakangnya seorang praktisi kesehatan (walaupun itu kesehatan gigi), mas Danang lebih subjektif ketika bicara tentang manfaat skincare. Tidak ada skincare yang membuat kulit kita sehat dalam waktu singkat, semuanya butuh proses. Bayangin aja mas Danang udah pakai skincare sejak SD. ⁣Kalau kamu mau menggunakan skincare kamu harus mengenali kebutuhan kulitmu apa. 

Kandungan skincare sendiri bermacam-macam, dan tidak menutup kemungkinan ada yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Lantas bagaimana mengetahui skincare yang akan kita gunakan itu aman? Caranya dengan melihat kandungan serta sertifikasi produk.⁣ Jadi kita memang harus rajin baca kandungan dan teliti ngecek apakah sudah ada sertifikasi produknya atau belum. 

Sesi kedua bersama kak Gita, kami diajak mengenali seperti apa sih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Berdasarkan riset yang dilakukan LTKL di Indonesia bekerjasama dengan mitra di tiga negara; Korea Selatan, Jepang, dan China, bahan dalam produk menjadi hal utama yang jadi pertimbangan saat konsumen membeli produk. Karena para pembeli ini sudah memiliki perhatian terhadap polusi yang dihasilkan sebuah produk, misalnya apakah produk tersebut mengandung microbeads atau tidak.⁣

Microbeads merupakan partikel yang terdapat pada produk scrub atau exfoliator. Partikel ini sulit terurai ketika telah digunakan dan terbuang di lingkungan, yang justru dapat mencemari dan berpotensi termakan oleh makhluk hidup di laut. ⁣

Bahan-bahan yang digunakan oleh produsen bisa saja berbahan lokal. Tapi apakah semua yang berbahan lokal pasti ramah lingkungan? belum tentu. Ada tiga aspek produk ramah lingkungan dan ramah sosial yang harus terpenuhi dalam sebuah produk, yaitu:

  1. Bahan baku didapatkan dari komoditas yang tetap menjaga fungsi alam tanpa bencana
  2. Membuat petani, pekebun, atau pekerja sejahtera
  3. Bertanggungjawab terhadap energi limbah dan produksi


Jika satu saja di antara tiga aspek ini tidak terpenuhi maka produk yang kita gunakan tidak bisa disebut produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Tanggung jawab ini tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak, mulai dari hulu ke hilir harus sama-sama konsisten mewujudan kelestarian dan keadilan.

Jadi udah kebayang kan, kalau mau menerapkan sustainable beauty and wellness kita memang harus selektif dalam memilih produk. Karena produk yang kita konsumsi memiliki cerita di baliknya. Ada tempat di mana komoditas itu berasal, ada orang-orang yang bekerja untuk mengolah komoditas tersebut atau membuat produk tersebut, dan ada perusahan yang memproduksinya. Sebagai konsumen yang bertanggung jawab kita harus mengetahui benang merahnya.⁣

Nah, aku sebenarnya penasaran di Indonesia berapa banyak sih produsen yang sudah memenuhi aspek ramah lingkungan dan ramah sosial.

Meski tidak mendapat informasi tentang hal ini, setidaknya pada sesi ketiga bersama kak Christine Pan aku mulai mendapat jawaban yang kucari. Di Segara Naturals kak Christine dan tim melakukan penjajakan yang dalam dengan calon mitra sebelum memutuskan mengambil bahan baku dari mereka. 

Segara Naturals konsisten menggunakan bahan-bahan alami untuk produk perawatan kulit. Mereka tidak menggunakan minyak sawit karena tata kelola komoditas ini seringkali bertentangan dengan prinsip lingkungan dan sosial. Tapi aku perlu tekankan, yang dikritik itu bukan komoditasnya ya tapi tata kelola komoditasnya. 

Kemasan produk Segara Naturals juga tidak menggunakan plastik. Menariknya, Kak Christine punya pengalaman pribadi saat bicara tentang sampah plastik. Kecintaannya pada dunia travelling membuatnya menjelajahi banyak daerah.  Di tempat-tempat yang dia datangi di Indonesia, dia melihat persoalan sampah plastik. 

Dalam hati  dia merasa sedih, orang-orang di luar negeri mengenal Indonesia sebagai negara yang hijau dan asri, padahal kenyataannya kita sedang menghadapi permasalahan sampah plastik yang tak terkontrol. Sampah-sampah ini menumpuk, tidak hanya tak elok dipandang mata tapi bisa berbahaya bagi kehidupan di laut. 

Sejak menyadari isu polusi plastik itu dia lalu bertekad melakukan perubahan kecil untuk mengurangi penggunaan plastik atau kemasan sekali pakai.⁣ Ketika dia membuat produk kecantikan, dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Segara Naturals dikemas dengan kemasan aluminium tin yang bisa dipakai ulang. 

Aku angkat dua jempol untuk produsen-produsen yang sudah menerapkan prinsip ramah lingkungan dan sosial, tepuk tangan juga untuk orang-orang yang sudah mulai selektif dalam memilih produk. ⁣

Kalau kita ingin cantik (sesuai dengan versi masing-masing ya), kita juga harus bertanggung jawab terhadap produk yang kita pilih. Jangan sampai keinginan kita untuk tampil cantik membuat empati kita tehadap lingkungan dan sosial jadi tipis.⁣

Lalu apa yang perlu kamu lakukan ketika ingin menerapkan konsep sustainable beauty and wellness? coba perhatikan gambar di bawah ini. 


Tiap kali hendak membeli produk kosmetik biasakan baca label, kenali bahan, pahami komoditas asli,  apa dampaknya, pilih yang lestari, dan jangan lupa bagikan cerita kamu pada yang lain.

Menjadi konsumen yang bijak dan bertanggungjawab pada apa yang kita konsumsi. Karena barang yang kita beli memiliki cerita di baliknya.  Begitulah pengalaman gathering kali ini. Aku bukan skincare enthusiast, tapi hal-hal yang beririsan dengan lingkungan dan lokalitas selalu menyenangkan untuk dipelajari. 

Untuk menutup tulisan ini aku ingin menyimpulkan apa yang sudah kudapat dengan sebuah quotes, Ketika kita ingin menikmati keindahan, kita juga harus berkenan menjaga dan merawatnya. Karena bukan hanya kecantikanmu yang perlu dirawat, tapi juga Bumi ini.