Jumat, Mei 21, 2021

PORTOFOLIO: Mencatat Peristiwa Hingga Mengarsipkan Masa Lalu

 Perjalanan Menulis Sejak Tahun 2017 - 2021


2017 

Saya melakukan aktivitas menulis secara profesional sejak tahun 2017 ketika bergabung menjadi jurnalis di harian Tribun Pontianak. Isu yang saya tulis berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan, serta lingkungan. Berikut ini adalah beberapa berita yang saya tulis.

1. Berita tentang pendidikan

2. Berita tentang Sejarah di Kota Pontianak

3. Berita tentang Kebudayaan di Kota Pontianak

4. Berita Berkaitan dengan Isu Lingkungan

5. Human Interest

2018

Cover buku dongeng Tampurung Amas, ilustrasi oleh Florian Aldi


Tahun 2018 saya berkolaborasi dengan Florian Aldi menerbitkan buku cerita berjudul Tampurung Amas yang disadur dari dongeng rakyat Tamambaloh. Saya sebagai penulis dan Florian sebagai ilustrator. Buku ini dicetak dua kali, untuk yang pertama saya cetak secara mandiri dan cetakan kali kedua menggunakan penerbit lokal pada akhir 2019. Di bawah ini adalah ulasan yang ditulis seorang kritikus sastra dari Kalbar.

resensi buku Tampurung Amas

2019

Cover untuk majalah PandaZine, ilustrasi oleh Florian Aldi


Tahun 2019 saya menjadi relawan sebuah yayasan lingkungan, di sini saya banyak menulis produk komunikasi berupa leaflet dan popular report yang dijadikan buku maupun majalah.

2020

Tahun 2020 saya menulis dua cerita pendek yang diterbitkan secara daring di media lokal. Kedua cerpen ini berkaitan dengan upaya orang-orang bertahan di masa pandemi, berikut tautannya:

1. Cerpen "Mencari Tepung"

2. Cerpen "PAP"

Selain itu saya juga berkolaborasi dengan difalitera.org, sebuah situs penyedia sastra bagi difabel netra. Saya menulis cerita rakyat dari Tamambaloh yang berjudul Dayang Gamilu, kisah tersebut bisa dibaca di tautan berikut (tersedia dalam bahasa Tamambaloh dan bahasa Indonesia).

Kisah Dayang Gamilu, Puteri di Dalam Guci

2021

Cover Buku Desa Hijau di Jantung Kalimantan, foto oleh Andi Fachrizal

Saya bersama Restiana Purwaningrum, seorang penulis perempuan dari Sintang menulis buku catatan proses pendampingan masyarakat di kawasan Heart of Borneo. Judul buku ini adalah "Desa Hijau di Jantung Kalimantan".

Saya juga merasa bahwa perlu dilakukan upaya pengarsipan pengetahuan nenek moyang mengenai identitas kami sebagai Orang Tamambaloh agar kami tidak tercerabut dari akar yang membentuk kami. Hal ini saya tuangkan di ruang kolektif Sao Mamasa, saya dan beberapa teman mulai melakukan pengarsipan cerita rakyat yang ada di daerah kami. Satu di antaranya sudah kami rilis dalam bentuk audio visual dan dirilis di Instagram, berikut tautannya Kisah Asal Mula Padi.