Rabu, Oktober 20, 2021

Perubahan Iklim dan Empati Kemanusiaan

 

Awal Oktober ini aku sempat membaca kabar sedih dari seberang, tentang seorang petani di Pegunungan Kendeng, Jawa tengah yang memilih bunuh diri dengan menenggak racun di tengah sawah. Sumber informasi menuliskan alasannya karena gagal panen. Tanaman jagung yang telah dibiayai jutaan rupiah tidak kunjung tumbuh akibat kemarau panjang. 

Sementara di sini banjir mampir berkali-kali. Fenomena alam yang sangat asing bagi nenek dan kakek saya yang sudah hidup 80 tahun lebih. Ladang dan kebun tertutup air, padi dan sayuran mati karena terendam air berhari-hari. Ini membuatku berpikir, jika hari ini petani di seberang yang putus asa, besok lusa tak menutup kemungkinan kita mengalami hal serupa.

Perubahan iklim kembali menjadi topik pembahasan kami pada saat online gathering Eco Blogger Squad pada Jumat 15 Oktober yang lalu. Kali ini narasumber kami adalah Anggalia Putri Permatasari. Beliau adalah Knowledge Management Manager Yayasan Madani Berkelanjutan.

Dan tahukah kamu jika perubahan iklim bisa memicu stress? "Climate change is causing distress, anger and other negative emotions in children and young people worldwide (16-25 yo)" begitulah yang dikutip dari Nature.com ini adalah hasil penelitian yang melibatkan 10.000 anak muda. Kata-kata itu bukan sebuah kalimat semata, menurutku ini warning bagi kita semua.

Apalagi kak Anggi membagikan laporan terbaru yang dirilis oleh The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menyatakan bahwa pada dua dekade ke depan, diperkirakan Bumi akan mengalami kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius atau bahkan lebih. 1.5 derajat celcius ini adalah batas aman, kalau lebih dari itu bencana alam yang terjadi bisa semakin parah dibanding yang terjadi saat ini. Tugas kita bersama adalah untuk menjaga agar suhu Bumi tetap stabil di 1.5 derajat celcius. 

Climate Risk Country Profile: Indonesia, WBG menyebutkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di Indonesia berupa bencana banjir dan kekeringan, kenaikan muka air laut, perubahan pola curah hujan, dan kenaikan suhu. PDB akan hilang 2,5-7% pada 2100 karena krisis iklim dan kelompok termiskin akan terkena dampak paling berat. Poin terakhir sungguh membuat nelangsa. 

Selain kelompok miskin, aku juga ingin mengajak teman-teman melihat dampak perubahan iklim bagi masyarakat adat di pedalaman Kalimantan. Aku sering mendengar piang (nenek) mengoceh kalau jaman (musim) ini semakin berubah. Dia yang sudah hampir 80 tahun mengaku tak bisa lagi membaca musim.

Kekeliruan membaca musim ini lebih parah dialami generasi di bawahnya. Tahun lalu ada satu kampung yang sebagian besar warganya tidak membakar ladang karena terlalu lama menunggu musim panas tiba. Mereka seperti sepasang ABG yang menunggu waktu yg tepat namun waktu itu tak kunjung tiba. Akibatnya mereka nyaris gagal panen, padi tak tumbuh subur. Perubahan iklim itu nyata, keberadaannya seperti hantu yang tak terlihat.


Buat yang belum tau, penyebab perubahan iklim itu adalah meningkatnya emisi karbon. Di Indonesia emisi terbesar bersumber dari hutan dan lahan, dan akan disusul oleh sektor energi batubara. Untuk mengatasi ini kita perlu perubahan sistemik. Pemerintah harus berkomitmen menurunkan resiko perubahan iklim serendah mungkin. Madani Berkelanjutan memberi beberapa rekomendasi, yaitu:

  1. Stop penggunaan batubara dan beralih ke energi bersih terbarukan 
  2. Lindungi hutan alam yang tersisa dan tekan deforestasi
  3. Jangan buka gambut dan cegah karhutla
  4. Restorasi dan rehabilitasi ekosistem alam, termasuk hutan mangrove, gambut
  5. Adaptasi terutama untuk kelompok rentan


Namanya perubahan sistemik tentu tak mudah, namun bukan berarti tidak bisa diusahakan. Kita sendiri bisa mencoba untuk memperbaiki gaya hidup kita misalnya. Mungkin bisa dimulai dengan menjadi orang yang tahu kapan harus merasa cukup, tidak rakus, hemat, dan hidup sederhana. hehe

Lha kok jadi penuh pesan-pesan moralis? ya iyalah soalnya kerusakan alam ini hadir karena hawa nafsu manusia yang tak pernah merasa cukup. Para pemilik modal yang menumpuk kekayaan dan selalu ingin mengakumulasinya. Perubahan iklim ini harusnya mengetuk hati orang-orang rakus yang mengubah sawah jadi tambang, atau hutan jadi kebun sawit. Harusnya mereka memiliki empati terhadap kemanusiaan.