Senin, April 18, 2022

Keanekaragaman Hayati : Dari Ketahanan Pangan Hingga Inspirasi dalam Berkarya


"Kita beragam, bukan seragam" Mungkin kalimat ini sudah begitu familiar di telinga teman-teman, apalagi jika bicara soal budaya Indonesia yang sangat kaya. Kenapa ya kita bisa dengan mudah menerima kalau budaya kita beragam, tapi begitu sulit ketika keberagaman ini dibawa ke ranah lingkungan?

Coba perhatikan bagaimana lahan yang dipenuhi aneka tumbuhan diubah menjadi tanaman monokultur skala besar, atau makanan pokok kita yang digantungkan hanya pada satu jenis tanaman saja padahal kita tahu ada banyak tanaman penghasil karbohidrat di sekitar kita. 

Pada online gathering #EcoBloggerSquad kali ini kami banyak membahas tentang keanekaragaman hayati. Pematerinya adalah Ibu Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI. Aku jadi tahu kalau Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati kedua terbesar di dunia setelah Brasil.

"Keanekaragaman hayati ini adalah masa depan dunia, terutama di bidang pangan dan obat-obatan," kata Ibu Rika. Keanekaragaman pangan di Indonesia luar biasa lho. Ada 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, hingga 110 jenis rempah dan bumbu.

Dengan keanekaragaman pangan ini seharusnya tidak ada masalah stunting. Hanya saja negara kita memiliki catatan merah dalam penanganan persoalan pangan. Ketika rezim orde baru berkuasa, pemimpin negara mengeluarkan kebijakan politik yang tidak berpihak pada keanekaragaman jenis tanaman pangan, hal ini membuat penduduk terpaksa menanam dan mengonsumsi beras. 

Karena Indonesia ini luas, beberapa wilayah memang tidak cocok ditanami padi. Ada daerah yang dulunya mengonsumsi umbi-umbian, sagu, atau sorgum sebagai makanan pokok. Di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur misalnya. Di sini Yayasan KEHATI mengangkat kembali komoditas sorgum sebagai tanaman penghasil karbohidrat. Sorgum dapat tumbuh dengan baik di lahan kering seperti Pulau Flores, dan secara  historis memiliki akar budaya yang kuat dengan masyarakat lokal.

Populasi dunia saat ini diperkirakan lebih dari 7.8 milyar orang dan 273 juta adalah penduduk Indonesia. Tahun 2050 diperkirakan mencapai 9.7 milyar dan 321 juta adalah penduduk Indonesia. Sektor pertanian menjadi tumpuan untuk penyediaan pangan di seluruh dunia.

Kita hanya bisa berharap agar arah kebijakan pangan tidak meninggalkan pangan lokal dan tidak hanya mengutamakan kepentingan program semata. Jangan sampai kita jadi korban tagline "control food, control the people"

Keanekaragaman Hayati Sumber Inspirasi dalam Berkarya

Motif kerajinan yang terinspirasi dari buah / Dwi Prasetyo


Selain soal pangan, yang menarik dari keanekaragaman hayati adalah daya magisnya yang mampu menginspirasi ribuan umat manusia untuk berkarya. Ini adalah salah satu hal yang membuatku takjub dengan alam. Kenekaragaman hayati di sekitar kita memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah manfaat sosial yang menunjang kebudayaan. 

Ini bisa dilihat pada motif-motif yang terdapat pada batik, tenun, ataupun anyaman. Inspirasi hadir dari aneka jenis tumbuhan ataupun hewan, misalnya saja pada motif tenun Iban yang sering terinspirasi oleh tumbuhan pakis, anak bambu, atau binatang seperti buaya. Ada juga motif kerajinan tangan yang sering kutemui di sekitarku, yaitu palao'an, wadah untuk menyimpan benih padi yang akan ditanam. Motifnya terinpirasi dari beragam tumbuhan mulai dari bagian batang, buah, hingga dedaunan. Kalau ditelisik lebih dalam, masing-masing motif memiliki makna berbeda.

Keanekaragaman hayati juga jadi inspirasi dalam seni rajah tubuh. Misalnya tato Bunga Terong (bunga terung) dalam masyarakat Dayak Iban. Atau jadi inspirasi untuk seni ukiran dan pahat. Contohnya orang Tamambaloh yang menghiasi Sao Langke (rumah komunal) dengan ukiran naga atau burung enggang. 

Lambang negara kita juga terinpirasi dari keanekaragaman hayati yang kita punya lho, yaitu burung garuda yang merupakan jenis Elang Jawa. Selain Indonesia, negara apa lagi ya yang menggunakan keanekaragaman hayati sebagai lambang? jawab di kolom komentar ya.

Ancaman Keanekaragaman Hayati, Bersiap untuk Kehilangan yang Lebih Besar

Selain sebagai sistem penunjang kehidupan, kenekaragaman hayati yang ada di sekitar kita juga memiliki  manfaat sebagai jasa lingkungan, ekonomi, dan sosial. Karena manfaatnya yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia, isu ancaman keanekaragaman hayati jadi perlu diperhatikan juga.

Ketika keanekaragaman hayati mengalami kerusakan, dampaknya berbahaya bagi kehidupan kita. Kita terancam krisis pangan, air bersih, termasuk ekonomi. Saat ini perubahan iklim dan pemanasan global yang disebabkan gas rumah kaca turut mengancam keanekaragaman hayati, misalnya di laut. Beberapa kerusakan terumbu karang telah terjadi dan kita sepertinya harus bersiap menghadapi lebih banyak kehilangan keanekaragaman hayati jika tidak melakukan mitigasi perubahan iklim.

Perubahan iklim juga membuat beberapa tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik, bahkan petani akan mengalami penurunan panen sebesar 10% untuk setiap kenaikan sihi satu derajat celcius suhu rata-rata. Nelayan juga akan menanggung resiko besar, tangkapan ikan akan menurun karena banyak jenis ikan yang bergeser mencari iklm yang lebih sejuk.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? mungkin bisa dimulai dengan melakukan hal kecil di lingkungan terdekat, seperti lingkungan rumah. Tindakan sehari-hari yang kita lakukan sebagai masyarakat bisa membawa perubahan besar jika dilakukan secara serentak. Dan tentu saja kita perlu pemimpin politik yang berpihak pada keadilan dan ekologi.




Kamis, Maret 31, 2022

Plastik dan Budaya Kita

foto: teamupforimpact.org

Supaya konsisten dengan tekad mengubah gaya hidup lebih ramah lingkungan, tahun 2022 akhirnya aku memilih untuk ikutan challenges di teamupforimpact.org. Di sini peserta diajak melakukan hal-hal sederhana untuk lingkungan. Kali ini aku memilih tantangan tidak membeli makanan atau minuman dalam kemasan. Dan aku ingin cerita tentang alasanku memilih tantangan ini.

Plastik di Sekitar Kita

foto: Merdeka.com/Ivu Fajar

Sejak kecil kita sudah terbiasa disodori kantong plastik ketika berbelanja, mata kita juga akrab dengan sampah plastik yang berserakan begitu saja bahkan kadang berbentuk gundukan warna warni di tempat pembuangan sampah pinggiran kota. Ketika dewasa kita mulai sering mendengar berita banjir karena parit dan selokan tak berfungsi akibat sumbatan sampah plastik, atau sungai dan laut yang tercemar oleh plastik sehingga mengancam ekosistem di sana, bahkan sampah plastik berdampak terhadap perubahan iklim.

Mengutip pernyataan dari situs resmi Kementrian Lingkungan Hidup “Kantong plastik adalah salah satu penyebab utama perubahan iklim. Karena sejak proses produksi hingga tahap pembuangan dan pengelolaan, sampah plastik mengemisikan banyak gas rumah kaca ke atmosfer.”

Meski demikian kantong plastik tetap digemari, karena tidak hanya praktis namun juga terjangkau oleh masyarakat. Tapi segala sesuatu memang harus seimbang ya, termasuk ketika menggunakan plastik. Saat ini pembuangan dan pengelolaan plastik membuat banyak orang khawatir.

Ingatkah kamu dengan paus mati yang tedampar di Wakatobi dan di dalam perutnya terdapat sampah plastik? Kasus ini hanya satu di antara sekian banyak kejadian yang seharusnya bisa jadi trigger agar kita lebih bijaksana ketika mengelola sampah plastik. 

Tahun 2021 CNN Indonesia memuat berita tentang sampah nasional yang mencapai 68,5 juta ton, di mana 17 persen atau sekitar 11,6 juta ton disumbang oleh sampah plastik. Penimbunan sampah plastik ini terus meningkat sejak tahun 2010. Dan menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang ingin praktis. 

Plastik yang dulunya diciptakan karena keprihatinan terhadap lingkungan justru menjelma jadi momok menakutkan bagi planet ini. Dan kita tak bisa lepas tangan begitu saja. Di tempat perbelanjaan, kantong plastik berpindah tangan dengan cepat dari penjual ke pembeli dan bisa berakhir di mana saja, entah di pinggir jalan, selokan, atau di leher penyu. 

Sebagai konsumen kita bisa memulai kebiasaan sederhana untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Misalnya dengan membawa tempat makan dan botol minum sendiri saat jajan, menggunakan tas belanja sendiri, dan menggunakan sedotan bambu atau sedotan stainless. Apakah ini akan mengurangi sampah plastik? Tentu iya jika dilakukan bersama-sama. Apakah ini mudah untuk dilakukan? Tentu tidak, karena namanya juga memulai kebiasaan baru.

Kearifan Lokal dalam Mengurangi Sampah Plastik

foto: Instagram @rumahjambee


Karena aku mengikuti tantangan untuk tidak membeli makanan atau minuman dalam kemasan aku jadi tertarik untuk mencoba cara yang sering dilakukan nenek ketika membawa bekal ke ladang. Aku memilih menggunakan pelepah pinang sebagai wadah makananku.

Di tempatku ada sungai yang menyenangkan untuk dikunjungi, yaitu Sungai Embaloh. Tempatnya tenang, air jernih mengalir, sungai panjang membentang dengan hamparan batu yang berwarna kelabu maupun oranye. Aku lumayan sering pergi ke sini, sendiri atau beramai-ramai. 

Dari sungai ini juga peradaban kami dibangun, sebagai orang yang bersuku Tamambaloh aku sangat menghargai sungai ini. Karena itu sebisa mungkin aku tidak ingin meninggalkan jejak sampah saat berkunjung. Kali ini aku membawa wadah makanan dari pelepah pinang dan botol air untuk menyimpan minumanku.

Pelepah pinang adalah kearifan lokal yang dimiliki masyarakat nusantara. Sejak dulu nenek moyang kita membawa bekal dengan pelepah pinang yang telah dikeringkan dan dikupas kulitnya. Tekstur kulit pelepah pinang tidak tembus air dan mampu menahan makanan tetap hangat untuk waktu yang lama. 
Dari sisi kesehatan, pembungkus makanan dari pelepah pinang lebih aman dibanding stirofoam yang mengandung zat stirena, zat ini berbahaya bagi kesehatan. Dari segi lingkungan, pelepah pinang juga lebih aman karena bisa terurai. Berbeda dengan plastik yang memerlukan waktu hingga 1000 tahun (tergantung jenis plastik) untuk terurai dan stirofoam yang tidak bisa terurai secara alami.

Aku merasa kalau budaya yang kita miliki sebenarnya sudah mengandung prinsip-prinsip ramah lingkungan. Membawa bekal dengan wadah makanan dari pelepah pinang atau air di dalam tabung bambu hingga membawa sendiri keranjang saat berbelanja ke pasar. Gaya hidup yang dipandang kolot dan kampungan itu sebenarnya jauh lebih bijaksana dibanding budaya hidup modern yang serba praktis dan cepat berubah, yang membuat manusia jadi konsumtif. Lantas masihkan kita bertanya-tanya darimana lahirnya budaya menghasilkan sampah ini. 

Ini membuatku teringat pada ucapan seseorang yang aku wawancara bulan Januari lalu. Budaya bukanlah sesuatu yang beku, budaya itu cair, dari masa lalu bisa dibawa ke masa depan. Dalam konteks gaya hidup dan lingkungan, kita mungkin perlu menyelami lebih dalam budaya kita dan membawa nilai-nilai yang perlu untuk masa ini dan masa yang akan datang.  

Pada akhirnya pilihan untuk menjalani hidup tergantung pada masing-masing manusia. Kita yang sama-sama berada di bawah langit ini memiliki kesempatan hidup yang sama, hanya satu kali. Bagaimana kita akan menggunakan kesempatan ini?

Tantangan dari teamupforimpact.org yang aku pilih kali ini membawa refleksi yang amat dalam tentang gaya hidup dan budaya yang membentukku hingga hari ini. Plastik hadir di kehidupan kita dalam berbagai rupa, jadi tidak mungkin menghapuskan semua penggunaannya. Yang bisa kita lakukan adalah membatasi dan memilih. Kamu mungkin punya cara lain untuk mengurangi penggunaan plastik, ceritakan di kolom komentar ya!